Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA kejahatan luar biasa, yaitu korupsi serta pembuatan/peredaran narkoba, belum teratasi. Kini, bertambah satu lagi, vaksin palsu. Jika tiga kejahatan luar biasa itu tiada kunjung dapat dibasmi, negara ini kiranya layak disebut negara durjana. Bayangkanlah, apakah jadinya anak bangsa ini di masa depan bila korupsi dan pembuatan/peredaran narkoba serta vaksin palsu tetap marak di negeri ini? Ketika balita, anak bangsa tertipu dikebalkan vaksin palsu.
Ketika remaja, pengguna narkoba. Setelah dewasa, korupsi. Negara macam apa NKRI? Masalah vaksin pada mulanya hanya vaksin yang telah kedaluwarsa yang ditemukan Badan POM pada 2008 dalam jumlah kecil. Baru lima tahun kemudian (2013), Badan POM mendapat laporan perihal vaksin palsu. Semua kasus itu, menurut Badan POM, telah diteruskan ke ranah hukum.
Akan tetapi, kenapa kini meledak menjadi masalah nasional? Kesadaran warga untuk memvaksinasi memang kian meluas. Pasar vaksin tumbuh, menggiurkan. Padahal, kebanyakan warga sensitif terhadap harga. Lahirlah barang palsu hasil kreativitas destruktif, hasil pikiran dan kelakuan ‘miring’, dengan harga yang juga miring.
Namun, sisi permintaan semata kiranya tidak cukup mendorong otak miring mana pun untuk nekat memproduksi massal vaksin palsu. Vaksin palsu ‘lahir’ dan ‘hadir’ di bumi pertiwi karena buruknya pengawasan. Terutama buruknya pengawasan internal di rumah sakit dan tentu pengawasan instansi pemerintah yang otoritatif mengontrol obat.
Dalam hal pengawasan itu ditengarai ada masalah kelembagaan yang serius. Badan POM tidak lagi berwenang. Kewenangan
pengawasan obat di rumah sakit dan apotek, sejak 2 tahun lalu, telah dipindahkan ke dinas kesehatan. Pusat korupsi bercokol di bagian pengadaan dan pembelian, tak kecuali di rumah sakit. Korupsi dapat terjadi karena penggelembungan harga obat, atau harga wajar di atas kertas, tetapi dengan diskon di bawah meja yang masuk kantong pribadi.
Semuanya bisa lolos, termasuk vaksin palsu, karena kontroler dapat, dan senang disogok. Korupsi vaksin palsu merupakan korupsi sadis. Bukan semata barang palsu dibayar seharga barang asli. Akan tetapi, berapa banyak orangtua balita tertipu telah mendapat vaksin polio (misalnya), ternyata kelak sang anak cacat kaki? Kiranya bayangan buruk itu hanya ramalan jelek penulis.
Selama korupsi masih menjadi darah daging, selama itu pula yang palsupalsu tetap bakal lahir dan hadir di negeri ini. Ia bisa berupa vaksin palsu yang masuk resmi/legal ke rumah sakit. Ia bisa berupa pemenang perkara yang asli, tapi sebetulnya palsu, karena membeli putusan hakim. Ia bisa pula pemenang tender palsu, dalam arti, proyek disubkontrakkan kepada kontraktor yang resmi kalah tender, tapi senyatanya dialah yang mengerjakannya.
Mengapa narkoba kian merajalela? Narkoba lolos masuk ke negeri ini patut ditengarai pun karena petugas dapat disogok. Pengedar tertangkap dilepas bila uang ‘bekerja’ dan ‘berperan’. Bagaimana narkoba bisa diperdagangkan di penjara bila tanpa suap-menyuap? Di negeri durjana, tak hanya mi instan yang laku, tapi juga kaya instan berkat korupsi dan produk palsu.
Celakanya, hal itu tidak dapat diatasi dengan instan. Sebagian karena masyarakat permisif, sebagian lagi karena kehilangan rasa malu dan kepantasan. Penyalahgunaan kekuasaan, contohnya, tidak sepenuhnya lagi dipandang sebagai kelakuan menyimpang. Buktinya, ada ketua pengadilan minta THR, ada pula Wakil Ketua DPR minta fasilitas kepada Konsulat Jenderal RI untuk melayani anaknya. Jangan heran bila di negeri durjana ada koruptor/ pengedar narkoba/pembuat vaksin palsu yang minta diskon dosa agar masuk surga.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved