Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sapu Lidi

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
23/6/2016 05:31
Sapu Lidi
(Doni Maulistya)

SEBAIK-BAIKNYA perkara ialah di tengah-tengah. Namun, yang baik itu belum tentu pilihan, apalagi putusan. Untuk sampai di tengah-tengah yang baik itu, perlu kualitas kejiwaan berlapang dada, serta mindset terbuka. Tak ada yang baru dalam pernyataan itu. Kualitas tersebut bakal menjadi cuma omongan orang ngigau bila semata di bibir dan lidah, yang tiada bertulang.

Apakah buktinya dalam kenyataan? Jawabnya kiranya harus dalam kata kerja, bukan kata benda, terlebih kata benda abstrak. Nilai-nilai yang baik dinyatakan dalam kata benda abstrak bakal membuat sang nilai kian melambung ke angkasa biru, tanpa pernah mendarat di bumi yang kejam.

Down to earth, yang mengandung kata kerja, memang lebih mudah di bibir dan di lidah. Kata kerja utama untuk mencapai sebaik-baiknya perkara di tengah-tengah ialah memberi dan menerima. Selintas, dua perkara yang baik. Realitas? Suatu hari, di perhentian lampu merah di sebuah jalan, seorang penyandang disabilitas menawarkan dagangannya berupa sapu lidi.

Dalam hidupku yang telah bercucu ini, belum pernah sekali pun berbelanja alat rumah tangga, entah sapu, apalagi panci dan kuali. Setelah mendapat jawaban berapa harga seikat sapu lidi, saya memberinya uang pas. Ia menerima uang itu. Sebaliknya, saya kemudian mengembalikan sapu lidi itu dengan pikiran ia dapat menjajakannya lagi kepada orang lain agar rezekinya bertambah.

Sapu itu diterimanya, tapi uang saya dikembalikannya lalu beranjak pergi. Ia protes keras karena saya telah memperlakukannya sebagai pengemis, bukan penjaja. Ia menolak relasi dermawan-pengemis. Sebagai penyandang disabilitas sekalipun, ia teguh menegakkan relasi penjual-pembeli yang setara.

Saya menyesal, terpukul! Kesetaraan memberi dan menerima kiranya juga syarat perlu demi tercapainya kebajikan bersama, dalam urusan kepublikan, kenegaraan. Tanpa memberi dan menerima dalam kedudukan yang setara, tak bakal terwujud bahwa sebaik-baiknya perkara ialah di tengah-tengah.

Pemerintah dan DPR setara, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Demikian kata konstitusi. Namun, yang cenderung terjadi perlakuan seperti relasi peminta-minta (pemerintah) dan dermawan (DPR). Padahal, dalam relasi pengemis-dermawan, tidak bakal terjadi bahwa sebaik-baiknya perkara ialah di tengah-tengah.

Berkeputusan di tengah-tengah merupakan hasil musyawarah untuk mufakat, bukan hasil melobi untuk kompromi. Kompromi memerlukan hitung-hitungan, sedangkan musyawarah untuk mufakat memerlukan dada lebar dan mindset terbuka, memberi dan menerima.

Dalam memberi, orang kiranya tidak makin berkurang, tetapi bertambah-tambah. Dalam menerima, orang kiranya bukan menggenapkan kekurangan karena tidak ada yang ganjil. Perkara sapu lidi itu menunjukkan tidak ada yang ganjil pada seorang penyandang disabilitas yang membuat saya menyesal, terpukul.

Melalui sapu lidi itu, ia menunjukkan sebuah karakter. Terus terang, DPR bukan lembaga invalid, tapi saya tidak tahu karakter apa yang sedang ditunjukkan DPR kepada pemerintah dengan menolak kehadiran Menteri Rini di DPR. Mengapa pula DPR sulit memberi dan menerima, musyawarah untuk mufakat, bahwa sebaik-baiknya perkara ialah di tengah-tengah agar tax amnesty segera menjadi undang-undang?



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.