Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Operasi Pasar

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
08/6/2016 05:31
Operasi Pasar
(MI/BENNY BASTIANDY)

KENAIKAN harga kebutuhan pokok menjelang puasa membuat Presiden Joko Widodo meminta dilakukan pengendalian harga. Presiden secara spesifik meminta agar harga daging sapi tidak lebih dari Rp80 ribu per kilogram. Seperti biasa, begitu Presiden berteriak, operasi pasar langsung dilakukan. Ternyata, operasi pasar tidak membuat harga turun signifikan. Masyarakat tetap dihadapkan kepada harga daging, bawang merah, gula pasir yang membubung tinggi. Fenomena harga naik sebelum puasa sebenarnya merupakan hal biasa.

Hanya, kali ini kenaikan harga sudah terjadi sejak sebulan sebelum puasa. Harian ini sudah sejak jauh-jauh hari mengingatkan persoalan ini. Namun, pemerintah terlambat melakukan antisipasi. Manajemen logistik yang diterapkan tidak berjalan dengan baik. Tanpa ada data pasokan yang benar, pasti akan sulit untuk mengendalikan harga. Langkah pemerintah untuk melakukan operasi pasar bukanlah jawaban. Operasi pasar hanya pencitraan. Kita berpura-pura menyelesaikan masalah, padahal persoalannya masih tetap ada di sana.

Begitu operasi pasar berakhir, pasar kembali kepada mekanisme semula. Memang, kita tidak menutup mata kemungkinan adanya distorsi karena ada pihak yang mencoba mengail di air keruh. Kalau ada pihak yang melakukan penimbunan, berarti mereka sedang melakukan kecurangan. Aparat bisa menindak atas nama mengganggu pasar. Namun, sebenarnya penimbunan dan operasi pasar sama. Itu distorsi terhadap mekanisme pasar. Langkah seperti itu tidak pernah bertahan lama sebab operasi pasar selalu ada keterbatasan.

Operasi pasar minyak goreng, misalnya, paling banyak hanya menjual 1 ton dan itu nilainya tidak lebih dari Rp50 juta. Apabila kita ingin menata sistem perdagangan lebih baik, antisipasi harus menjadi pegangan. Pemerintah harus melihat untuk jangka waktu minimal enam bulan ke depan. Bagaimana produksi pada enam bulan ke depan, berapa besar pasokan yang bisa disediakan, dan seberapa besar permintaan yang akan muncul.

Bahkan pemerintah harus melihat gudang-gudang penyimpanan yang ada dan berapa besar yang bisa disimpan. Di banyak negara yang maju pengelolaan pangannya, mereka membuat sistem penyimpanan modern. Beras atau jagung tidak lagi disimpan di gudang biasa, tetapi silo-silo yang modern. Tingkat kelembapannya bisa terkontrol sehingga bahan pangan bisa disimpan untuk jangka waktu lama.

Gudang-gudang yang kita miliki umumnya peninggalan era Orde Baru. Bahkan, ketika Bulog tahun lalu diminta mengimpor daging sapi, mereka kebingungan untuk menyimpannya karena tidak memiliki tempat penyimpanan berpendingin. Akibatnya, daging tidak bisa disimpan lama dan Bulog gagal mengendalikan harga. Sikap menggampangkan masalah merupakan persoalan terberat dalam pengelolaan pangan.

Seperti dalam urusan daging sapi, seakan persoalan selesai dengan mengimpor sapi atau mendatangkan sapi dari daerah ke Jakarta. Kita lupa bahwa sapi-sapi itu harus dipelihara sebelum dipotong. Satu sapi membutuhkan hijauan 25 kg per ekor per hari. Kalau pemerintah mendatangkan 500 ribu ekor, berarti dibutuhkan 12.500 ton hijauan per hari. Dari mana hijauan itu bisa didapat, padahal kita tidak memiliki padang rumput yang luas?

Harga daging sapi di Indonesia menjadi mahal karena kita tidak bisa menggembalakannya. Kita harus mengandangkannya dan mempekerjakan orang mencari pakan untuk sapi-sapi itu. Australia dan negara Eropa bisa efi sien karena mereka memelihara sapi di padang rumput. Sepanjang kita tidak membenahi tata kelolanya, kita tidak pernah akan bisa mengendalikan harga.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.