Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ali, Sikap, dan Harga Diri

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/6/2016 06:00
Ali, Sikap, dan Harga Diri
(AP/John Rooney)

KEMENANGAN bukanlah berkah yang hadir tiba-tiba. Ia sebuah proses menjadi yang kerap tersembunyi dari mata orang ramai. Seperti pada 27 Juni 1937 itu, petinju kulit hitam Joe Louis memukul knocked out James J Braddock dalam pergelaran tinju kelas berat di AS. Memukul jatuh lawan yang perkasa, orang kulit putih pula, bukanlah kebetulan. Ia sebuah mimpi plus tekad kuat.

Peristiwa itu membuat seluruh puak Negro, khususnya di Lansing, Michigan--mestinya juga kaum Negro di setiap jengkal tanah AS--merasa hidup mereka punya arti. Louis seperti membebaskan jutaan orang dari penderitaan mereka yang panjang karena rasialisme dan diskriminasi. Meski undang-undang dasar AS menghargai kesetaraan, kenyataan mereka tetap disudutkan dengan citra semula: budak.

Waktu itu, Malcolm X, legenda pejuang kesetaraan manusia dan HAM, masih kanak-kanak, 11 tahun. Namun, ingatannya menyimpan baik peristiwa itu. Betapa puak Negro seperti terbebas dari rasa frustrasi yang terpilin-pilin. Inilah momen pembebasan kaum hitam yang pertama ia lihat.

Pria kelahiran 1925 itu menjadi contoh korban diskriminasi ‘sempurna’. Ayahnya dan beberapa pamannya dibantai orang kulit putih. Pasukan berkuda Ku Klux Klan yang kejam dan rasialis kapan saja bisa mengancam keluarga itu.

Malcolm X terus hidup dalam realitas dan konstruksi sosial seperti itu. Pernah ia tumbang, menjadi budak hingga harus meringkuk di penjara selama tujuh tahun. Namun, waktu di penjara ia pakai untuk menimba ilmu: membaca banyak buku. Setelah berkorespondensi dengan tokoh Nation of Islam Elijah Muhammad, ia pun memeluk Islam, agama yang ia nilai mengajarkan kesetaraan dan menolak diskriminasi.

Tentu yang paling membuktikan mimpi menjadi Joe Louis ialah Muhammad Ali, legenda tinju dunia yang berpulang Jumat (3/6). Ia seperti masih dalam tarikan ‘genealogi spirit’ Malcolm X. Ali memang mengaku terinspirasi oleh Malcolm X. Ali tumbuh tak hanya menjadi petinju terbaik sepanjang sejarah, tetapi ia menjadi pejuang hak-hak sipil dan kemanusiaan.

Seperti sang inspiratornya, Ali diterungku empat tahun (1967-1971) karena menolak wajib militer dan menentang Perang Vietnam. Gelar juara dunianya pun dicabut, ia dilarang bertinju beberapa tahun.

Itu sebabnya banyak pihak menilai Ali ialah representasi harga diri dan sikap. Prinsipnya tak mudah digoyahkan. Kariernya di ring tinju profesional dengan 61 bertanding, 55 menang (KO 37), dan hanya 6 kali kalah bukanlah sembarang karier. Setelah ia menggantungkan sarung tinju, parkinson memang mulai menggerogoti fisiknya. Di Indonesia Muhammad Ali ialah nama yang begitu dekat. Ia seperti ‘bagian dalam’ kita. Mungkin nama itu jauh lebih dikenang daripada nama Cassius Marcellus Clay Junior. Di masa keemasannya, di negeri ini, setiap ia bertanding, sekolah-sekolah membebaskan para murid untuk meninggalkan kelas karena sang guru juga tak tahan untuk tidak melihat petinju pujaannya berlaga. Setiap Ali bertanding, semua orang yang antidiskriminasi seperti bersatu dalam harapan yang sama. Ia memang menyatukan.

Ali ialah bukti kerja keras, harga diri, dan sikap! “Negara menjadi saksi seorang pemuda berandal penuh keberanian sukses mengubah diri menjadi sosok religius dan memiliki kesadaran politik tinggi,” puji mantan Presiden AS Bill Clinton.

Sebuah ‘proses menjadi’ yang diraih dengan penuh dedikasi bahwa hidup tak hanya untuk diri sendiri. Karena itu, Ali ialah legacy yang mestinya tak boleh ikut mati meski raganya telah masuk bumi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.