Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bui Banceuy

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/6/2016 05:31
Bui Banceuy
(SETPRES/AGUS SUPARTO)

AHAD 29 Desember 1929. Hari itu polisi Hindia Belanda menggeledah besar-besaran aktivis politik di Jawa dan Sumatra. Ribuan orang ditahan, 40 orang di antaranya tokoh Partai Nasional Indonesia. Empat tokoh partai ini: Soekarno, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepradja, langsung dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung. Polisi mendakwa mereka melakukan pemberontakan bersenjata. Itulah latar waktu ketika sejarah penderitaan penjara bagi Soekarno dimulai.

Namun, itu juga hari-hari ketika kekuatan pikiran sang tokoh tak bisa ditaklukkan. Bahkan, terbukti, menjadi benteng yang kukuh. Soekarno diterungku 8 bulan di sel sempit Banceuy yang dibangun 1877. Ia mendekam di ruangan 2 x 1,5 meter tak berjendela. Soekarno menyebut sel gelap, lembap, sumpek, dan bau kotoran itu serupa kuburan. Fantasi yang paling tepat pun hanya kematian. Namun, ia tak mau mati! Mayat hanya layak untuk dikenang, tak layak diajak berjuang. Semangat itu menjadikan kewaspadaannya kian tajam.

Ia jadi mahir menghindar dan mengamankan diri dengan segera dan dengan cara yang rapi jali. Bahkan, Soekarno belajar bagaimana memanfaatkan sipir Belanda yang bodoh, yang ia panggil Tuan Bos; yang mudah mengkhianati prinsip-prinsip dengan sangat murah: hanya dengan suap sebotol bir. Di bui Banceuy, Soekarno tak hanya kerap berhalusinasi, tetapi juga sering mengalami gejala superfisika. Ketika kesengsaraan kian menindih-memberat, sedangkan daya khayalnya berkobar-kobar, ia kerap merasa tangan kanannya membe sar, seperti mampu menghancurkan dinding sel.

Kali lain, jika ia butuh kekuatan semangat, ia minta Gatot Mangkoepradja bercerita wayang, berulangulang, meski ada banyak lakon yang ia sudah khatam. Bagi Soekarno, wayang tak hanya penghiburan, tapi juga tuntunan perjuangan. Wayang ialah pemandu arah nilai dengan kebajik an mesti diteguhkan, dengan harga berapa pun. Setelah 8 bulan dibui, sidang pengadilan pun digelar, 18 Agustus 1930. Soekarno mencatat 19 kali sidang atas perkara yang disangkakan. Ia dituduh
melanggar Pasal 153, 161, 167, dan 171 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Itulah Hattzaai Artikelen, yakni pasal-pasal penyebar rasa benci.

Di sel Banceuy yang pengap, dengan beralaskan kotak kaleng tempat ia buang hajat, selama satu setengah bulan, tiap malam, Soekarno menulis pembelaan yang penuh gelora, Indonesia Menggugat. Inilah pembelaan yang kemudian diterjemahkan dalam belasan bahasa. Ia menggugat tuduhan menghimpun senjata tajam untuk merebut kekuasaan. “Golok. Bom. Dinamit. Menggelikan! Apa dikiranya senjata moral tidak lebih tajam dan tidak dapat mencabik-cabik hati rakyat lebih cepat daripada ribuan ar mada yang dipersenjatai lengkap.

Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Tapi suatu bangsa tidak mungkin eksis tanpa keyakinan. Keyakinan! Itulah yang kami miliki. Itulah senjata rahasia kami.” Suaranya berapi-api. Dalam buku Sukarno an Authobiography as Told to Cindy Adams, ‘Si Bung’ menceritakan, isi gedung di Jalan Landraad itu sunyi. Hanya putaran lembut kipas angin yang terdengar serupa gumam, lirih. Bui Banceuy ialah sejarah, ialah kenangan.

Ziarah Presiden Jokowi, bersama mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua MPR Zulkifli Hasan, ke Situs Penjara Banceuy, Rabu (1/6), juga sebuah upaya mengenang. Para pembesar itu berkunjung seusai acara Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Merdeka. Banceuy mestinya bukan kenangan belaka. Ia ba gian pematangan jiwa Soekarno dan perjalanan Indonesia. Ia bukan sekadar sejarah, melainkan nilai yang mesti hidup dan ‘membimbing’ kita. Sayangnya terlalu banyak sejarah utama kita tak dimaknai apaapa, kecuali seremoni dan nostalgia.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.