Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Nasib Industri Kita

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
01/6/2016 05:31
Nasib Industri Kita
(Ilustrasi Dok MI)

DI atas lahan 3 hektare di Bekasi, PT Arkon Prima Indonesia sibuk mengerjakan berbagai pesanan perusahaan mancanegara. Sebagai pelaku pada industri steel fabrication, PT Arkon menyediakan kerangka untuk pengecoran beton pembangunan jembatan layang dan pembangkit listrik. Saat ini mereka juga diminta untuk membuat kerangka bagi pembangunan struktur terowongan mass rapid transit di Jakarta.

Ada kebanggaan melihat karya anak-anak Indonesia, apalagi ketika produk mereka dipesan berbagai perusahaan Jepang, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Ternyata produk mereka diakui dunia. Pekan lalu, dalam acara Economic Challenges, kita mendapat penjelasan produk pendukung bandar udara, garbarata, yang sudah diekspor ke 14 negara. Setidaknya sudah 700 garbarata produk PT Bukaka Teknik Utama yang dipakai bandara-bandara di dunia. Bahkan, produk industri canggih, yakni komponen pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia, sejak lama dipakai Airbus. Bagian sayap pesawat jumbo A-380 dibuat di pabrik PT DI di Bandung.

Kalau kita rajin melihat industri dalam negeri, banyak yang membanggakan. Sayangnya, mereka bekerja dalam sepi. Bahkan, sa king sepinya mereka terlupakan. Mereka dipaksa berjuang sendiri di tengah aturan yang tak mendukung. Perusahaanperusahaan itu tidak membutuhkan insentif khusus. Mereka hanya meminta kesempatan membuktikan diri. Kalau produk mereka dipakai untuk keperluan dalam negeri, mereka meminta perlakuan setara dengan produk impor.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso mencontohkan aturan perpajakan pembelian pesawat oleh perusahaan dalam negeri jika dibandingkan dengan impor. Perusahaan penerbangan dalam negeri harus membayar 10% lebih mahal ketika membeli dari PT DI karena dikenai pajak pertambahan nilai. Untuk menyiasatinya, terpaksa PT DI membuka perusahaan di Singapura dan perusahaan penerbangan dalam negeri membeli dari Singapura karena bisa lebih murah. Keberpihakan kepada industri dalam negeri itulah yang tidak lagi ada. Tidak usah heran apabila terjadi perlambatan pembangunan industri nasional.

Kontribusi industri terhadap produk domestik bruto turun, dari 32% di era Orde Baru menjadi hanya sekitar 23% saat ini. Bandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan dalam membangun industri. Dukungan dari dalam negeri membuat mereka mampu bersaing di pasar internasional. Konsumsi dalam negeri terhadap produk industri di kedua negara tersebut mencapai 55%, baru sisanya masuk pasar ekspor.

Pertanyaannya, ke mana sebenarnya arah pembangunan industri kita? Apakah kita bersungguhsungguh ingin menjadi negara industri yang disegani, atau hanya mau menikmati sebagai konsumen produk industri dunia? Dengan arah kebijakan seperti sekarang, kita pantas kasihan dengan anak-anak Indonesia. Mereka bekerja keras untuk membuat produk, tetapi karya mereka tidak dihargai. Kalau kemudian mereka dibajak perusahaan asing, sangatlah wajar karena mereka memiliki keahlian, tetapi kita tidak pernah mau mengakui karya mereka.

Jawaban atas persoalan ini tak hanya ada di tangan Kementerian Perindustrian, tapi juga jadi komitmen seluruh warga bangsa. Kalau putra Indonesia bisa melakukannya, beri kesempatan kepada mereka untuk membuktikannya. Jangan semua proyek dilakukan dengan model turn key sehingga tenaga kerja pun didatangkan dari Tiongkok. Tanpa arah pembangunan industri yang jelas, kita hanya akan terus melihat ironi-ironi. Kemampuan anak bangsa tak akan berkembang optimal karena mereka dibiarkan berjalan sendirian.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.