Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Prasangka

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
24/5/2016 05:31
Prasangka
(ANTARA FOTO/Saptono)

DALAM sebuah obrolan santai di sebuah kedai kopi, di sebuah sudut Kota Jakarta, di Hari Kebangkitan Nasional, kami tiba-tiba berbincang tentang etnik, tentang suku. Seorang kawan, seorang akademisi yang tekun, bercerita ia pernah mengalami banyak peristiwa di banyak kota yang berkaitan dengan kegagahan sebuah suku dan meng anggap suku lain tak penting. Itu terutama terjadi di awalawal otonomi daerah dimulai.

Saya segera teringat pada sebuah pentas stand-up-comedy di Gedung Kesenian Jakarta ua tahun lalu. Seorang komedian, Ernest Prakasa, mengutip apa yang pernah dikatakan komedian Amerika Serikat, George Carlin. Betapa menjadi suku apa saja tak perlu dibanggakan, sebab ia suatu garis hidup. “Orang tak seharusnya bangga dengan etnik atau suku apa pun yang dia punya. Kenapa? Karena itu bukan prestasi, karena bukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Itu pemberian Tuhan,
sudah dari sananya,” kata Ernest mengutip George Carlin.

Ia mengucapkan dengan tekanan yang memberat. Tak ada makna lebih ketika kita membaca ucapan Carlin. Akan tetapi, itu men jadi ‘penuh makna’ ketika Ernest Prakasa mengutipnya. Saya merasa Ernest tak sekadar mengutip. Namun, segera tertangkap memang ada ‘problem’ di situ. Menjadi anggota etnik tertentu bukanlah sebuah dosa. Anak muda itu seperti tengah melepaskan beban berat yang menindihnya, sebagai anak Indonesia yang berdarah China.

Semula saya agak kaget dengan ucapan itu. Akan tetapi, inilah kejujuran. Saya segera memberi konteks menurut jalan pikiran saya, “Menjadi China itu bukan pilihan, melainkan takdir. Tanpa syarat. Kami sebagai orang Indonesia tak bisa memilih menjadi Jawa, Padang, Sunda, Batak.... Seperti kalian.... Janganlah sebuah takdir ini dipersoalkan dan dihinakan.” Benar juga. Ernest pun melanjutkan. “Dipanggil China itu enggak enak, bukan karena kami terlahir sebagai China. Enggak enak karena ada trauma di sana. Ada memori yang terlintas.

Ada hal-hal yang ingin kami lupakan, tapi datang kembali karena panggilan itu.” Sama juga ketika memanggil suku lain dengan menekankan stereotip yang tak nyaman. Namun, memanggil China memang lebih tidak nyaman. Kecuali Gubernur DKI Jakarta Ahok, yang tak peduli dengan panggilan apa pun. Setahu saya ia menikmati saja apa pun panggilannya. Saya menghela napas. Panggilan China saja sudah menimbulkan trauma. Karena itu, umumnya etnik China di Indonesia dihaluskan menjadi Tionghoa.

Saya justru merasa dengan menyebut ‘China’ jauh lebih menghargai, sebab lebih berkarakter. Itu merujuk pada peradaban tua; dan dalam konteks hari ini sebuah bangsa yang dengan semangat tinggi kini mulai menguasai dunia. Ernest agaknya anak muda Indonesia yang tengah mendefinisikan dirinya, generasinya. Mungkin ‘demi Indonesia’ yang plural dan kerap memendam ‘prasangka’ pada yang bernama China.

Luka karena stigma memang tak lekas bisa di sembuhkan. Namun, sekurangnya reformasi yang kini berusia 18 tahun telah meletakkan dasar kesetaraan warga negara yang berpuluhpuluh tahun menjadi mimpi. Inilah salah satu buah reformasi. Sungguh tak masuk akal jika ada yang mengatakan zaman Orde Baru jauh lebih baik. Itu pernyataan yang menggelikan; bagaimana penindasan manusia disebut lebih baik? Di masa itu prasangka justru dipupuksuburkan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.