Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah obrolan santai di sebuah kedai kopi, di sebuah sudut Kota Jakarta, di Hari Kebangkitan Nasional, kami tiba-tiba berbincang tentang etnik, tentang suku. Seorang kawan, seorang akademisi yang tekun, bercerita ia pernah mengalami banyak peristiwa di banyak kota yang berkaitan dengan kegagahan sebuah suku dan meng anggap suku lain tak penting. Itu terutama terjadi di awalawal otonomi daerah dimulai.
Saya segera teringat pada sebuah pentas stand-up-comedy di Gedung Kesenian Jakarta ua tahun lalu. Seorang komedian, Ernest Prakasa, mengutip apa yang pernah dikatakan komedian Amerika Serikat, George Carlin. Betapa menjadi suku apa saja tak perlu dibanggakan, sebab ia suatu garis hidup. “Orang tak seharusnya bangga dengan etnik atau suku apa pun yang dia punya. Kenapa? Karena itu bukan prestasi, karena bukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Itu pemberian Tuhan,
sudah dari sananya,” kata Ernest mengutip George Carlin.
Ia mengucapkan dengan tekanan yang memberat. Tak ada makna lebih ketika kita membaca ucapan Carlin. Akan tetapi, itu men jadi ‘penuh makna’ ketika Ernest Prakasa mengutipnya. Saya merasa Ernest tak sekadar mengutip. Namun, segera tertangkap memang ada ‘problem’ di situ. Menjadi anggota etnik tertentu bukanlah sebuah dosa. Anak muda itu seperti tengah melepaskan beban berat yang menindihnya, sebagai anak Indonesia yang berdarah China.
Semula saya agak kaget dengan ucapan itu. Akan tetapi, inilah kejujuran. Saya segera memberi konteks menurut jalan pikiran saya, “Menjadi China itu bukan pilihan, melainkan takdir. Tanpa syarat. Kami sebagai orang Indonesia tak bisa memilih menjadi Jawa, Padang, Sunda, Batak.... Seperti kalian.... Janganlah sebuah takdir ini dipersoalkan dan dihinakan.” Benar juga. Ernest pun melanjutkan. “Dipanggil China itu enggak enak, bukan karena kami terlahir sebagai China. Enggak enak karena ada trauma di sana. Ada memori yang terlintas.
Ada hal-hal yang ingin kami lupakan, tapi datang kembali karena panggilan itu.” Sama juga ketika memanggil suku lain dengan menekankan stereotip yang tak nyaman. Namun, memanggil China memang lebih tidak nyaman. Kecuali Gubernur DKI Jakarta Ahok, yang tak peduli dengan panggilan apa pun. Setahu saya ia menikmati saja apa pun panggilannya. Saya menghela napas. Panggilan China saja sudah menimbulkan trauma. Karena itu, umumnya etnik China di Indonesia dihaluskan menjadi Tionghoa.
Saya justru merasa dengan menyebut ‘China’ jauh lebih menghargai, sebab lebih berkarakter. Itu merujuk pada peradaban tua; dan dalam konteks hari ini sebuah bangsa yang dengan semangat tinggi kini mulai menguasai dunia. Ernest agaknya anak muda Indonesia yang tengah mendefinisikan dirinya, generasinya. Mungkin ‘demi Indonesia’ yang plural dan kerap memendam ‘prasangka’ pada yang bernama China.
Luka karena stigma memang tak lekas bisa di sembuhkan. Namun, sekurangnya reformasi yang kini berusia 18 tahun telah meletakkan dasar kesetaraan warga negara yang berpuluhpuluh tahun menjadi mimpi. Inilah salah satu buah reformasi. Sungguh tak masuk akal jika ada yang mengatakan zaman Orde Baru jauh lebih baik. Itu pernyataan yang menggelikan; bagaimana penindasan manusia disebut lebih baik? Di masa itu prasangka justru dipupuksuburkan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved