Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
WIBAWA Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan terakhir dan tertinggi sepertinya tinggal remah-remah, yaitu sisa-sisa yang ketinggalan hanya pada diri seorang hakim agung Artidjo Alkostar.
Itu pun lebih pas disebut sebagai wibawa peradilan yang menakutkan daripada wibawa peradilan yang terbit karena agungnya keadilan.
Semua perkara kasasi korupsi yang ditangani Artidjo berakhir dramatis, diganjar lebih berat.
Hotasi Nababan, yang dihukum bebas pengadilan tipikor, dihukum penjara 4 tahun. Anas Urbaningrum yang dihukum 7 tahun penjara, diperberat dua kali lipat menjadi 14 tahun.
Hotasi membahasakan putusan itu sebagai hukum tanpa takaran, sedangkan Anas mendoakan Artidjo makin tenar di kuburan.
Putusan Artidjo memperberat hukuman koruptor memenuhi harapan publik agar tercipta efek jera. Publik kecewa bila koruptor dihukum ringan.
Korupsi telah menjadi kejahatan luar biasa karena itu perlu hukuman luar biasa pula agar orang berpikir sejuta kali untuk korupsi.
Apakah efek jera itu terwujud?
Hingga saat ini tidak ada bukti bahwa korupsi menurun. Faktanya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) makin rajin menangkap basah pelaku korupsi.
Yang terjadi malah sebaliknya, orang jera membawa perkaranya ke Mahkamah Agung. Orang bukan takut korupsi, tapi takut kasasi.
Orang takut mencari keadilan di tempat yang agung karena takut bertemu hakim agung Artidjo Alkostar, yang telah dipersepsikan sebagai monster, tukang jagal.
Tukang jagal harus dihindari.
Bukankah dalam kesempitan ada kesempatan? Terjadilah korupsi, yaitu jual beli jasa agar perkara tidak jatuh ke tangan Artidjo.
Itulah yang dilakukan Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Mahkamah Agung Andri Tristianto Sutrisna bekerja sama dengan Staf Kepaniteraan Muda Pidana Khusus dan Panitera Muda Pidana Khusus Mahkamah Agung.
Keduanya 'membantu' pihak yang beperkara agar perkara tidak ditangani Artidjo, tetapi ditangani hakim agung yang 'oke'.
Apa pun judgment yang dipakainya, Artidjo hakim yang merdeka. Bukan hakim yang 'oke' menurut para koruptor.
Namun, ketakutan 'ketemu' Artidjo malah mendorong korupsi kian 'kreatif' terjadi di dalam Mahkamah Agung.
Bukan hanya untuk menunda pengiriman salinan putusan terkait korupsi, tetapi juga penentuan hakim menghindari Artidjo.
Semua itu bukan dosa Artidjo. Mahkamah Agung telah menjadi kolam yang keracunan, tinggal seorang Artidjo menjadi ikan yang kebal dan ganas, tidak turut keracunan.
Artidjo ialah remah-remah, yang ketinggalan di Mahkamah Agung. Tapi bukan dalam penilaian sisa-sisa keagungan, melainkan kealgojoan.
Kolam itu harus disterilisasikan.
Caranya?
Sebaiknya Mahkamah Agung ditempatkan jauh dari kekuasaan peredaran uang.
Mahkamah Agung juga dijauhkan dari kemudahan para pihak bertemu dengan hakim agung ataupun pejabat/staf Mahkamah Agung.
Bukankah Mahkamah Agung tidak memeriksa para pihak di persidangan, tapi semata memeriksa berkas?
Mahkamah Agung kini dalam keadaan darurat karena itu pindahkan saja ke Bukittinggi, Sumatra Barat, kota yang pernah menjadi ibu kota negara di masa pemerintahan darurat.
Di kota kecil itu, pers dan KPK, bahkan warga setempat, gampang memantau, mengawasi, bahkan 'menangkap' dengan kamera telepon seluler siapa pun pendatang yang 'berlalu lalang' dengan kepentingannya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved