Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PUNYA mulut, maaf, berkemungkinan dapat petaka. Tidak punya mulut? Petaka luar biasa. Mulut bukan cuma pintu pemasukan, melainkan juga pintu pengeluaran. Keduanya berpotensi membawa petaka. Oleh karena mulut sebagai pintu pengeluaran yang sedang hangat dipersoalkan di ruang publik, baiklah hal itu yang lebih dulu disorot. Mulut pada prinsipnya milik perseorangan. Sebagai pintu pengeluaran, bagaimana dan untuk apa mulut digunakan di ruang privat bukan urusan kita.
Ia baru menjadi urusan orang lain bila sembarang dipakai di ruang publik. Terlebih, jika pemiliknya penyelenggara negara, mulut sebagai pintu pengeluaran menjadi urusan publik. Pengeluaran yang disorot bukan berupa muntah dalam arti apa adanya, melainkan muntahan kata-kata yang dimaknai pihak yang terkena sama kotornya, sama baunya. Itulah yang terjadi dengan Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK, yang mengeluarkan kata-kata di ruang publik melalui televisi, tentang HMI dan korupsi yang memicu unjuk rasa ke KPK serta diadukan ke ranah hukum.
Mulut mendapat tempat penting dalam khazanah keindonesiaan, dibuktikan sebagai kata paling banyak dipakai dalam peribahasa, sampai 19 entri. Lancang mulut, sama artinya dengan mulut gatal, yaitu cerewet. Berbeda dengan mulut bocor, tak dapat menyim pan rahasia. Yang paling populer ialah terlepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau, terhindar dari kemalangan kecil menghadapi kemalangan besar. Yang paling kuno, dari sastra Melayu, mulut hang lebih daripada gedembai, yang artinya perkataanmu juga yang membinasakan dirimu.
Semakna dengan itu, mulut kamu harimau kamu mengerkah (batu) kepala kamu, yang dirampingkan menjadi, mulutmu harimaumu. Maknanya perkataanmu juga yang mencelakakan dirimu. Itulah kiranya yang terjadi pada Saut Situmorang. Karena bermula dari mulut, kiranya persoalan dapat diselesaikan juga dengan mulut, yaitu minta maaf, setulus-tulusnya. Mulut sebagai pintu pemasukan pun dapat membawa petaka. Masukkanlah barang yang enak-enak tanpa kira-kira, seperti kuning telur, kulit ayam, gorenggorengan.
Dampaknya boleh diharapkan kolesterol membubung tinggi. Jangan kaget bila suatu hari terkena penyakit jantung atau stroke. Itu baru makanan. Bila gairah serupa juga terjadi pada minuman bergula dan beralkohol, sempurnalah mulut sebagai pintu pemasukan petaka. Berkolesterol tinggi atau bergula tinggi dipandang persoalan perseorangan. Padahal, itu berdampak pada APBN bila pengobatannya menggunakan BPJS. Tidakkah negara bangkrut kalau 10% saja warga seperti itu?
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip dua peribahasa. Pertama, mulut satu lidah bertopang, perkataannya lain dengan isi hatinya. Kedua, mulut manis mematahkan tulang, yang artinya perkataan lembut dapat menundukkan orang. Bayangkan, betapa mengerikan jika yang mematahkan tulang itu ternyata lidah yang bertopang. Untunglah Podium ini tidak dibikin dengan mulut, tetapi dengan gadget.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved