Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bank Dunia dan IMF

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
25/4/2015 00:00
Bank Dunia dan IMF
(RUMGAPRES/AGUS SUPARTO)
PIDATO Presiden Joko Widodo pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika menyerukan ketidakadilan yang masih terjadi. Di bidang ekonomi masih kuat anggapan, dewa penyelamatan dunia hanyalah Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Bank Pembangunan Asia. Perlu ada tatanan dunia yang baru agar ketidak-adilan, ketimpangan, dan kemiskinan bisa dihapuskan.

Terdengar garang pidato pembukaan yang disampaikan Jokowi. Namun, respons di dunia internasional dingin-dingin saja. Ketika tidak dinyatakan secara eksplisit tatanan baru yang diinginkan, ide itu dianggap masih prematur.

Kita harus mengakui, dominasi Barat masih begitu kuat. Meski banyak yang berpandangan kesepakatan Bretton Woods 1944 sudah usang, belum ada institusi pengganti yang mampu menjalankan peran Bank Dunia ataupun IMF.

Jepang pernah punya inisiatif mendirikan Dana Moneter Asia. Lembaga itu dimaksudkan untuk membantu peran yang dimainkan IMF. Namun, ide itu tidak pernah terwujud karena AS menunjukkan ketidaksenangannya.

Sekarang Tiongkok tampil dengan ide mendirikan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB). Ide itu pun tidak luput dari tekanan AS. Namun, mereka tetap menjual ide tersebut dan bahkan sudah menyiapkan modal awal US$50 miliar. Kesungguhan Tiongkok memancing Inggris dan Jerman berpartisipasi, meski AS menyatakan ketidaksukaan terhadap langkah para sekutunya itu.

Semua fakta tersebut menunjukkan bahwa tidak mudah langkah yang ingin ditempuh Jokowi untuk membangun tatanan ekonomi dunia baru. Dibutuhkan langkah lebih konkret dan kepiawaian untuk melakukan diplomasi kepada negara-negara besar agar ide yang baik ini tidak dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni mereka.

Kita boleh memilih jalan konfrontatif, tetapi kita harus memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Terutama secara ekonomi, kita harus kukuh dan mampu mandiri. Seperti Tiongkok tidak mudah lagi diancam-ancam karena kuku mereka sudah kuat menancap di mana-mana.

Kalau ingin menggelindingkan ide membangun tatanan ekonomi baru, kita harus mempercepat transformasi negeri ini. Kita harus muncul sebagai negara industri baru yang memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan produktif untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki.

Sekarang ini kita masih menjadi negara yang mengandalkan sumber daya alam semata. Perekonomian kita goyah ketika harga komoditas dunia anjlok. Keinginan memacukan pertumbuhan ekonomi selalu dihadapkan pada defisit neraca transaksi berjalan karena kita tidak cukup memiliki industri dasar dan industri barang modal.

Ketika ketergantungan kepada negara lain masih tinggi, ide untuk memainkan peran besar dalam tatanan ekonomi dunia hanya angin lalu. Ibaratnya, kita tidak bisa menggentarkan lawan bila hanya mengandalkan senapan angin.

Sekarang bukan zamannya untuk sekadar bersuara lantang. Kita harus menggunakan kecerdasan untuk mencapai tujuan besar. Pepatah Inggris mengajarkan, "If you can't beat them, join them." Itulah yang dilakukan Jepang dan Tiongkok. Mereka tidak hanya bersikap konfrontatif.

Sekadar memusuhi Bank Dunia dan IMF hanya tampak gagah, tetapi tidak memberikan manfaat apa pun. Lebih baik kita menerapkan prinsip pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, "Tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus."


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.