Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Apa Adanya

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
02/5/2016 05:30
Apa Adanya
(MI/PANCA SYURKANI)

PRESIDEN Jokowi akhirnya mengambil keputusan mendasar mengenai data.

Katanya, mulai saat ini (Selasa, 26/4), untuk urusan data, pemerintah hanya akan menggunakan satu data dalam setiap pengambilan kebijakan atau keputusan, yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Keputusan mendasar karena menyangkut kejujuran dan kepercayaan. Presiden berterus terang bahwa perbedaan data membuat pemerintah tidak tegas dan ragu-ragu dalam memutus kebijakan.

Data beras contohnya. Instansi yang satu bilang produksi beras surplus, instansi yang lain bilang minus.

Mana yang benar?

"Jika memang harus impor, ya harus impor. Sebaliknya kalau tidak impor, ya harus diputuskan secara tegas tidak impor. Ke depan jangan lagi Presiden disodori data berbeda-beda," kata Jokowi.

Selama ini, dalam hal data, pemerintah memang tidak pernah satu. Ada banyak 'pemerintah', tergantung kepentingan.

Akibatnya, pucuk pimpinan pemerintah, yaitu Presiden RI, sulit mengambil keputusan.

Kini Presiden mengakhiri kesimpangsiuran data.

"Satu data yang kita pakai, BPS."

Tidak berarti persoalan selesai. Ada data yang per definisi 'telanjang' dari sononya sehingga data dapat dihadirkan, apa adanya.

Data umur penduduk, misalnya. Bagaimana dengan data jenis kelamin?

Mungkin 'bias' karena negara hanya mengenal pria dan perempuan, tidak mengakui LGBT.

Data beras sama telanjangnya dengan data umur penduduk.

Kita tidak perlu lebih dulu mendefinisikan apa itu beras, untuk kemudian mendapatkan datanya.

Karena itu, sangat aneh bahwa data beras Kementerian Pertanian berbeda dengan data beras Bulog, seakan apa yang dinamakan beras berbeda di antara kedua instansi itu.

Lain halnya dengan kemiskinan.

Kemiskinan harus lebih dulu didefinisikan, diperoleh konsep operasional, lalu berbasiskan semua itu, barulah kemiskinan yang dimaksud dapat diukur dan diperoleh datanya di lapangan.

Menjadikan pendapatan US$1 per orang per hari (kemudian dinaikkan menjadi US$1,90 mulai Oktober 2015) sebagai ukuran kemiskinan (Bank Dunia), kiranya berbeda dengan data kemiskinan yang dihasilkan, bila yang digunakan data konsumsi pangan (Prof Dr Sajogyo).

Pertanyaannya, siapa yang menetapkan definisi/ukuran kemiskinan itu?

BPS bukan pengambil kebijakan publik.

BPS tidak boleh berpihak kepada garis kemiskinan yang mana pun.

Sebaik-baiknya perkara ialah BPS menggunakan bermacam-macam garis kemiskinan sehingga Presiden dapat mengambil kebijakan publik dengan judgment searif-arifnya karena diberi data komprehensif.

Meminjam pendapat pakar, urusan terhadap data BPS tinggal 3V.

Pertama, validity, apakah data benar dan akurat.

Kedua, veracity, apakah data bermakna untuk persoalan yang dihadapi.

Ketiga, volatility, berapa lama 'umur' data itu masih 'hidup'.

Sensus penduduk 10 tahun sekali.

Data kemiskinan perlu lebih cepat dimutakhirkan.

Sepuluh tahun bagi orang miskin terlalu lama.

Jangan-jangan mereka sudah mati digerogoti kemiskinan.

Betapa ironis, pemerintah percaya mereka masih hidup, bahkan hidup lebih baik, karena menganggap terentas dari kemiskinan.

Data (majemuk) berasal dari datum (tunggal), kata benda Latin yang berarti something given, apa adanya.

Di zaman senang berdandan, bergincu, apa adanya merupakan urusan 'berat'.

Yang berat itu sepenuhnya dipercayakan kepada BPS.

Apakah menteri tidak boleh omong data?

Boleh, asal mengutip BPS.

Jangan mengarang sendiri!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.