Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ekonomi Digital

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
30/4/2016 05:30
Ekonomi Digital
(ANTARA/Yudhi Mahatma)

JELAS sekali arah yang ingin dicapai Indonesia dalam era ekonomi digital.

Indonesia sudah menetapkan menjadi energy of Asia pada 2020.

Ukurannya tentu bukan hanya besarnya pasar, melainkan kita jadi pemain utama di Asia.

Untuk itu, segala sesuatu harus dipersiapkan, mulai regulasi, pendanaan, logistik, sistem pembayaran, perpajakan, sampai urusan penyelesaian sengketa.

Semua itu perlu segera dirumuskan karena kita tak cukup sekadar mendorong tumbuhnya e-commerce, perdagangan melalui elektronik, tetapi juga munculnya perusahaan rintisan atau start-up.

Indonesia dengan 250 juta warga merupakan pasar besar.

Apalagi jumlah kelas menengah terus tumbuh dan daya beli tinggi.

Tak usah heran bila semua pemain besar e-commerce masuk Indonesia.

Seperti dikatakan Presiden Joko Widodo, merugilah kita bila hanya menjadi pasar.

Kita mengenal adagium industry follow the trade.

Kita harus mendorong tumbuhnya perdagangan agar menggerakkan kalangan industri memenuhi pasokannya.

Pertumbuhan industri itu harus didorong dengan sungguh-sungguh agar kita tidak terlena pada perdagangan saja.

Berbeda dengan perdagangan, pengembangan industri penuh risiko. Pemerintah harus hadir mendampingi agar para pelaku industri berani mengambil risiko.

Kalau pemerintah membiarkan industri jalan sendiri, tidak pernah hadir industri yang menopang perdagangan.

Sejak era reformasi, kita merasakan bagaimana industri nasional kita kian tenggelam.

Kontribusi industri terhadap pemupukan produk domestik bruto terus menurun.

Bila kita tidak mendorong tumbuhnya sektor industri, era e-commerce yang kita masuki akan kian diisi produk dari luar negeri.

Kita pantas berkaca dari pengalaman Korea Selatan dalam mengembangkan e-commerce.

Mereka memulai di awal 2000-an dengan mengembangkan industri elektronika dan sistem jaringan yang efisien.

Perusahaan seperti Samsung dan LG mengembangkan perangkat telekomunikasi dan industri mikrocip berteknologi tinggi.

Operator telekomunikasi membangun sistem komunikasi internet yang efisien.

Itulah yang membuat masyarakat Korea demam internet, karena ada kemudahan yang mereka dapatkan.

Ketika perusahaan seperti Lotte mengembangkan belanja di televisi dan online, dengan cepat bisnis mereka berkembang.

Korea pun jadi negara terdepan dalam pengembangan e-commerce.

Kalau kita ingin mengembangkan ekonomi digital, kita harus membangun sistemnya secara keseluruhan.

Tidak bisa sekadar mengembangkan e-commerce.

Kita bersyukur tim yang ditugasi mengembangkan ekonomi digital memahami hal itu dan cetak biru yang disiapkan menuju 2020 mencakup semua aspek.

Tantangannya pada pelaksanaan.

Sejauh mana pengambil keputusan memahami dan mau menjalankannya.

Pemerintah harus mendorong terciptanya efisiensi agar roda ekonomi digital berputar cepat.

Pemerintah harus bervisi ke depan dan menjadi wasit yang baik agar tak ada pihak mengambil keuntungan sendiri.

Distorsi ekonomi terjadi bila ada pihak rakus mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Kita tidak menutup mata potensi ekonomi digital luar biasa. Namun, tidak mudah mengapitalisasikannya.

Apalagi jika cara pandang miopik dan berupaya meraup untung besar secepat-cepatnya.

Kita harus sabar karena kita memasuki era baru dan menuntut pendekatan berbeda.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.