Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Cermin Retak

Djadjat Sudradjat
29/4/2016 06:35
Cermin Retak
(ANTARA/Ahmad Subaidi)

KITA sepenuhnya sadar tak sedang hidup dalam era Plato. Namun, bukan berarti kita tak boleh berharap apa yang pernah dikatakan sang filsuf itu. Bahwa, “Pendidikan seharusnya melahirkan orang baik, dan orang baik akan bertindak mulia.”

Katanya, pendidikan membentuk watak. Karena itu, jikapun menjadi orang kebanyakan, orang berpendidikan akan mudah dipimpin, tetapi sulit dipaksa; mudah diperintah, tetapi mustahil diperbudak.

Para pendidik bersepakat, pendidikan ialah cermin bangsa. “Jika ingin melihat sebuah bangsa maju atau terbelenggu, lihatlah pendidikannya.” Karena itu, jika pendidikan masih tak kunjung menghasilkan ‘orang baik’ yang ‘bertindak mulia’, itu artinya pendidikan kita memang dirundung mala. Jika negeri ini masih terlalu banyak yang mudah diperbudak, itu tanda pendidikan kita serupa cermin yang retak.

Satu dasawarsa terakhir, dengan perasaan masygul, kita terpaksa berkaca pada cermin retak itu. Peringkat pendidikan kita kian menuju nadir. Lihat saja yang tergolong baru, yakni daftar pendidikan negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD) yang dirilis BBC dan Financial Times, tahun silam. Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, berurutan menempati lima puncak. Indonesia di posisi nadir, yakni 69 dari 76 negara. Vietnam negara yang baru bangkit karena perang, di posisi 12. Ke mana rasa masygul ini harus dialamatkan?

Padahal, Undang-Undang Pendidikan (2003) dan Undang-Undang Guru dan Dosen (2005) dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Anggaran pendidikan melonjak tinggi menjadi 20%, program sertifikasi guru pun dibuat. Tunjangan guru 2015 saja mencapai Rp80 triliun. Namun, tunjangan sebesar itu seperti tak meninggalkan jejak perbaikan apa pun.

Dewan pendidikan dan komite sekolah juga setali tiga uang. Dalam banyak kasus, kinerja mereka lebih banyak dipertanyakan daripada diapresiasi. Mereka lebih banyak tidak paham bagaimana mengembangkan pendidikan di wilayah mereka.

Padahal, kedua perwakilan masyarakat itu seharusnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan anak didik di tempat masing-masing. Komite sekolah dalam banyak fakta hanya berfungsi sebagai penggalang dana untuk kegiatan sekolah. Jika ada anggota komite sekolah yang kritis, justru dengan cepat pihak sekolah menggantinya.

“Berupaya menyelesaikan masalah, tetapi selalu menimbulkan masalah,” agaknya inilah persoalan yang tengah mendera dunia pendidikan kita. Fakta yang paling bende­rang ialah hanya 10% kepala sekolah di Indonesia (sekitar 208 ribu kepala sekolah) yang tesertifikasi.

Padahal, menurut aturan, seorang kepala sekolah mesti besertifikat kepala sekolah. Inilah data 2014/2015 yang dirilis Advisor for Knowledge and Communication yang dikeluarkan Analytical and Capaci­ty Development Partnership (ACDP), 2 hari silam.

Dari jumlah itu pun hanya sepertiga yang terserap menjadi kepala sekolah di kabupaten/kota masing-masing. Sebab, seorang guru dapat menjadi orang nomor satu di sebuah sekolah diputuskan bupati atau wali kota untuk SD dan SMP serta gubernur untuk SMA.

Beruntunglah jika mempunyai kepala daerah yang memahami pendidikan. Jika tidak, sia-sialah kepala sekolah yang telah tesertifikasi yang mereka ambil selama berbulan-bulan itu. Akan kian jauhlah kualitas pendidikan kita dari harapan.

Kita cemas, ketika pendidikan bangsa lain telah terbang tinggi, kita masih berkutat dengan persoalan dasar: guru. Jangan-jangan cermin itu tak lagi retak, tetapi pecah.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.