Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Dalam Negeri di awal Orde Baru, Amirmachmud, paling sering menggunakan radiogram sebagai sarana instruksi/menyampaikan informasi kepada kepala daerah. Zaman itu belum tercipta teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang sehingga yang memakai ‘gram’ (radiogram, telegram) merupakan medium komunikasi tercepat.
Akan tetapi, kini terbukti, penggunaan radiogram dari pusat di Kementerian Dalam Negeri ke daerah bukan semata karena faktor teknologi, melainkan lebih mencerminkan watak otoriter, yaitu komunikasi satu arah yang tetap melekat. Bayangkan, undangan telah beredar di masyarakat Riau bahwa pada Selasa (19/4), Pelaksana Tugas Gubernur Riau melantik dua bupati, yaitu Bupati dan Wakil Bupati Pelalawan terpilih, HM Harris dan Zardewan, serta Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu terpilih, Suparman dan Sukiman. Mereka melakukan geladi resik, Senin malam. Pada malam itu juga di Kemendagri berlangsung rapat internal membatalkan pelantikan. Senin, sekitar pukul 23.00, seperti diungkapkan Asisten I Pemprov Riau Ahmadsyah Harrofie, datang radiogram dari Dirjen Otonomi Daerah berisi penundaan pelantikan.
Alasannya, karena Bupati Rokan Hulu terpilih, Suparman, berstatus tersangka di Komisi Pemberantasan Korupsi. Pertanyaannya, ke mana saja Mendagri dan Dirjen Otonomi Daerah selama ini sehingga baru Senin (18/4) malam rapat internal mendadak? Bukankah KPK telah mengumumkan Suparman menjadi tersangka pada Jumat (8/4), alias 10 hari sebelum hari pelantikan? Kabinet Jokowi ialah kabinet kerja, kerja, dan kerja. Di Kemendagri rupanya biasa kerja dadakan, seperti menggelinding tanpa rencana dan antisipasi.
Akibatnya, yang telah teragenda dan diketahui publik diterabas begitu saja dengan sepucuk radiogram! Tanpa permintaan maaf. Padahal, ratusan karangan bunga ucapan selamat dari kalangan luas telah terpampang berbaris di halaman Gedung DPRD Riau dan di sepanjang Jalan Sudirman Pekanbaru. Belum lagi ucapan selamat yang biasanya terbit di media cetak dan berkumandang di media elektronik setempat. Sungguh kembali ke zaman mendagri buldozer, era Amirmachmud.
Zaman radiogram, sebagai wujud zaman otoriter, sudah tidak cocok lagi dengan zaman presiden dan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Zaman menganggap serbadarurat sudah lama lewat sehingga pemerintah daerah di ibu kota provinsi seperti Pekanbaru, mestinya tidak lagi terdesak dan terpaksa menerima keputusan pembatalan pelantikan bupati/wakil bupati terpilih menjelang tengah malam. Dampaknya, Bupati dan Wakil Bupati Pelalawan terpilih HM Harris dan Zardewan yang tak bermasalah, pun batal dilantik.
Bukan hanya radiogram, eufemisme di kala Orde Baru pun kembali muncul. Apa perlunya mengumbar alasan penundaan sebagai pelunakan/eufemisme pembatalan? Tidak ada yang tahu kapan KPK bakal menahan tersangka. Bukan pula perkara baru, KPK membiarkan tersangka berbulan-bulan merdeka, tetap melaksanakan tugas sehari-hari.
Karena itu, kenapa tak dilakukan pelantikan demi kepastian pemerintahan? Kapan menahan bupati tersangka, urusan KPK. Bila itu terjadi, sudah ada wakil bupati. Reformasi birokrasi kayaknya perlu dilakukan habis-habisan di Kemendagri. Kalau urusan seremoni saja kepepet waktu, bagaimana bisa memenuhi perintah Presiden Jokowi mengikis ribuan perda penghambat bisnis? Patutlah Presiden mengecamnya dengan membahasakan, “Dikaji-dikaji, hasilnya paling 10 perda.”
Kiranya perlu dirujuk kembali radiogram dari Kemendagri perihal pengadaan 200 mobil pemadam kebakaran di 22 wilayah, yang kemudian jadi urusan KPK. Radiogram menyesatkan itu, antara lain, membuat Wali Kota Medan Abdillah, Dirjen Otonomi Daerah Oentarto Sindung Mawardi, dan Mendagri Hari Sabarno masuk penjara.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved