Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sri Mulyani

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/4/2016 05:30
Sri Mulyani
(AFP/PRAKASH SINGH)

DIREKTUR Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati, pekan lalu, menulis artikel menarik berkaitan dengan bocornya data Panama Papers. Ia melihat kasus itu, apabila tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan ketidakpercayaan publik, di saat semua orang merasa tidak perlu membayar pajak dengan benar.

Apabila itu terjadi, negara tidak memiliki kemampuan membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Fakta menunjukkan 50% negara berkembang hanya bisa mendapatkan penerimaan pajak 15% dari produk domestik bruto mereka. Di negara maju, pajak yang bisa mereka kumpulkan mencapai 34% dari PDB.

Rendahnya penerimaan pajak--termasuk di Indonesia--disebabkan lemahnya sistem pajak, terutama pengusaha yang dekat dengan kekuasaan bisa menegosiasikan pajak yang mereka harus bayar. Itulah yang menimbulkan ketidakpatuhan publik dan akhirnya petugas pajak ikut bermain.

Reformasi perpajakan yang dilakukan zaman Sri Mulyani menjabat menteri keuangan dimaksudkan untuk mencegah terjadinya praktik kongkalikong. Diupayakan, dengan menerapkan sistem komputer dan pengawasan internal yang lebih ketat, tidak ada kontak langsung antara petugas dan pembayar pajak.

Menurut Sri Mulyani, reformasi perpajakan yang dilakukan Indonesia mampu meningkatkan jumlah pembayar pajak dari 3,4 juta menjadi 16 juta. Penerimaan pajak meningkat 20% per tahun dan itulah yang menjadi modal Indonesia untuk mengurangi pinjaman luar negeri.

Namun, semua itu, menurut Sri Mulyani, tidaklah cukup. Kasus Panama Papers menunjukkan perlu sistem perpajakan internasional yang lebih kuat dan adil. Dunia harus membuat aturan yang mencegah terjadinya praktik transfer pricing agar tidak ada orang yang berusaha membayar pajak lebih rendah.

Dunia berkepentingan melakukan itu karena ada tanggung jawab bersama yang harus dilakukan, yakni mengurangi kemiskinan. Apabila praktik tax haven terus berjalan, dunia tidak pernah akan mampu menyediakan air bersih dan kesehatan yang baik bagi seluruh manusia.

Pesan yang disampaikan Sri Mulyani menarik dalam konteks menyadarkan kita bersama untuk menanggung beban pembangunan. Agar semua orang mau patuh membayar pajak, kita harus membuat setiap sen pajak yang dibayar rakyat digunakan untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai uang rakyat dipakai pejabat untuk hidup enak-enakan, apalagi jadi bancakan korupsi.

Sekarang ini muncul perasaan, rakyat menyubsidi para pejabat. Apalagi sebagian pejabat diam-diam menyimpan uang mereka di negeri orang. Perasaan yang muncul, mereka mencoba menyembunyikan kekayaan dan bahkan menghindar dari pajak. Kalau pejabat boleh tidak membayar pajak, mengapa kita sebagai rakyat harus membayar?

Inilah yang diingatkan Sri Mulyani. Pemerintah harus menjelaskan tidak ada hak istimewa bagi siapa pun. Semua warga negara harus ikut menanggung beban pembangunan negara ini. Apalagi, pemerintah sedang mempersiapkan Undang-Undang Pengampunan Pajak.

Di mana pun di dunia, tidak ada orang yang rela membayar pajak. Mereka hanya mau ketika negara sungguh-sungguh berupaya menyejahterakan rakyatnya. Inilah tantangan yang harus bisa dijawab Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah bekerja untuk kepentingan rakyat.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.