Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Lampu Merah

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
12/4/2016 05:30
Lampu Merah
()

TAK ada yang berdosa bagi siapa pun untuk menjadi kaya.

Zaman ini kita tak berada dalam pandangan lama, tentang kepasrahan kaum papa, bahwa miskin itu mulia dan kaya itu nista.

"Orang miskin bakal mendapat surga. Orang kaya bakal mendapat neraka. Baguslah bila kita menderita dalam kehidupan ini karena kehidupan kemudian bakal mendapatkan ganjaran abadi."

Inilah yang dikutip Lionil Sosa dalam buku The Americano Dream-How Latinos Can Achieve Success in Business and Life.

Yang menjadi soal jika kekayaan diperoleh dengan segala cara. Menjadi soal lagi, jika kaum kaya jadi kontras tajam di tengah orang-orang tak berpunya.

Inilah bom waktu yang tak boleh dibiarkan meledak.

Terlebih di Indonesia, negeri yang berkali-kali diguncang prahara sosial, salah satunya karena kesenjangan.

Berkali-kali media massa mewartakan bahaya kesenjangan. Menurut Bank Dunia 2015, 1% keluarga kaya Indonesia menguasai 50,3% kekayaan nasional.

Menurut Ririn Salwa Purnamasari, ekonom Bank Dunia, dalam seminar di UGM (9/4), peningkatan ketimpangan (koefisien Gini) Indonesia mencapai 10 poin.

Presiden Jokowi mengamsalkan kesenjangan kita memasuki 'lampu merah'.

"Akan ada kemungkinan menjadi bahan bakar bagi tumbuhnya konflik sosial, paham-paham separatisme, radikalisme, ekstremisme, dan yang lebih ke sana lagi terorisme," tegas Presiden di depan peserta rapat pimpinan TNI, akhir 2015.

Yang menjadi ironi, kesenjangan itu justru kian lebar di era reformasi.

Demokrasi yang mestinya menjadi momen pemerataan kekayaan nasional justru jadi panggung agung orang-orang kaya dan tempat pengap bagi orang-orang miskin.

Tertangkapnya anggota DPRD DKI dan para juragan besar realestat Indonesia dalam pembahasan Raperda Reklamasi menguatkan praktik culas serupa itu.

Fakta tak terbantahkan ialah selalu tersedia tanah dengan mudah untuk kepentingan korporasi, sementara menjadi sulit setengah mati jika untuk kepentingan rakyat.

Pembangunan properti untuk kaum kaya, dengan eksklusivitas bangunan dan lingkungan, dengan nama-nama serbaasing, menjadi kontras dengan permukiman kelas bawah.

Juga fakta terbaru, terungkapnya 6.000 orang Indonesia yang menyimpan dana Rp11.400 triliun di luar negeri, di antara mereka, selain pengusaha, ada pejabat publik dan politikus, kian menyakitkan kita. Mereka umumnya para pengemplang pajak.

Selama ini negara kerap tak berdaya menghadapi mereka, relasi kekuasaaan dan pemilik modal.

Lengkaplah ironi demokrasi di negeri ini. Hukum pun jadi lunglai menghadapi mereka.

Presiden Jokowi tak boleh hanya prihatin! Ia harus mengambil langkah nyata.

Setidaknya, pertama, menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Kedua, mengevaluasi seluruh izin yang terkesan amat mudah, terutama bagi korporasi, hunian-hunian mewah, yang amat kentara bagi kaum kaya.

Ketiga, membuat peraturan yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Alangkah menyakitkan, ketika negara terus menggemakan kehidupan inklusif, kaum para pemilik modal justru secara telanjang membangun hunian dan kehidupan sangat eksklusif.

Mereka menikmati segala fasilitas serbakelas super.

Indonesia, negeri yang diteguhkan dengan sejarahnya yang panjang, pengorbanan rakyat yang tiada terkira, tak boleh terus melanggar 'lampu merah'.

Semua warga negara punya hak hidup nyaman di negeri ini.

Kesenjangan sosial yang tinggi jelas berarti diskriminasi luar biasa negara terhadap rakyat.

Ini pengingkaran yang amat serius terhadap para pendiri bangsa yang mereka amanatkan lewat konstitusi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.