Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Chairman of Everything

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
07/4/2016 05:30
Chairman of Everything
(AFP/ED JONES)

MENJADI orang nomor satu Partai Komunis Tiongkok lebih dari cukup untuk bergigi dan berkuasa. Akan tetapi, postulat itu tidak berlaku bagi Presiden Xi Jinping. Ia menjadikan diri pemimpin Tiongkok paling berkuasa dengan cara mengambil semua posisi tertinggi negara dan semua posisi strategis di tangannya, dalam genggamannya.

Sebagai presiden, ia kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok, jabatan tertinggi di partai, dia ex-officio anggota komite politbiro, badan tertinggi pengambil keputusan. Namun, semua itu masih kurang. Ia jadikan dirinya Ketua Komisi Militer Pusat.

Cukup? Ternyata tidak. Xi Jinping secara personal mengontrol pengambilan keputusan ekonomi, keamanan nasional, hubungan luar negeri, sampai soal internet, lingkungan, sengketa maritim. Geremie R Barme, sinolog, profesor sejarah Tiongkok di Australian National University yang memimpin the Australian Centre on China in the World, sampai-sampai membahasakan Xi Jinping sebagai Chairman of Everything, ketua semua hal.

Namun, itu belum memuaskannya. Xi memerlukan pemujaan pribadi. Wajahnya banyak muncul di ruang publik. Bila di Roma ada Papa Francesco, Paus Gereja Katolik Roma (2005-2013), sekalipun Partai Komunis Tiongkok tak beragama, kini di Beijing ada Xi Dada alias Big Papa Xi, Romo Besar Xi. Kekuasaan Xi semula ditengarai hanya melebihi Hu Jintao dan Jiang Zemin, dua pemimpin Tiongkok sebelumnya. Namun, kini pemujaan diri dan otoritas Xi ditengarai lebih dari pemimpin mana pun sejak era Mao Zedong. Fenomena kekuasaan Xi begitu penting, sampai majalah Times dan The Economist, edisi pekan ini, mengangkatnya sebagai cover story.

Xi Jinping, 63, menjadi presiden pada 2012. Ia semula dipujikan bakal membangun pemerintahan bersih. Ia melarang kader partai bermain golf, memecat 270 ribu kader korup. Namun, kini Tiongkok dilanda skandal korupsi besar-besaran anggaran kesehatan. Nilainya puluhan juta dolar AS, antara lain, pembelian vaksin kedaluwarsa yang dijual kepada pasien sehingga menghasilkan uang besar. Paling aktual, keluarga Xi Jinping termasuk dalam daftar skandal ‘Panama Papers’.

Dua tahun berkuasa, Jinping mengatakan Tiongkok akan menyuarakan narasi baik kepada dunia. Tujuan Tiongkok ialah menjadi negara adikuasa sosialis-kultural. Kira-kira sebuah tandingan AS, negara adikuasa kapitalis. Namun, setahun kemudian, 3 September 2015, di Lapangan Tiananmen, Chairman of Everything menggelar parade militer besar-besaran yang belum pernah terjadi. Parade untuk mengingat kekalahan Jepang pada Perang Dunia II itu dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye, dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Yang jauh lebih penting, kekuatan militer di laut. Seperti hebatnya kekuatan AS di Pasifik Barat, Tiongkok berkeinginan membangun kekuatan setanding di Laut China Selatan dan sekitarnya. Di Laut China Timur, Tiongkok ribut dengan Jepang. Di Laut China Selatan, Tiongkok bersengketa dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan.

Indonesia berperan penting di kawasan itu. Karena itu, ambisi Xi Jinping sebagai Chairman of Everything perlu dicermati. Apakah ia bakal menjunjung tinggi code of conduct, menghormati dialog? Bila ya, Indonesia bisa tersenyum mendayung di antara dua karang, melaksanakan politik luar negeri bebas aktif. Bila tidak, hanya negara bodoh yang mau menabrak karang.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.