Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Reregulasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/4/2016 06:00
Reregulasi
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

DALAM dialog publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Presiden Joko Widodo menyampaikan kembali dua kunci bagi kita untuk memenangi persaingan, yakni menyederhanakan peraturan dan menyediakan infrastruktur yang layak. Bagaimana mau mengundang investor kalau ada 42 ribu peraturan yang menghambat? Bagaimana investor mau masuk ke Indonesia kalau infrastruktur dasarnya tidak memadai? Oleh karena itu, Presiden meminta pemangkasan 42 ribu aturan yang menghambat itu. Presiden juga meminta DPR tidak perlu banyak membuat undang-undang, tetapi lebih baik membuat empat atau lima peraturan yang berkualitas.

Pemerintah sedang bergegas untuk membangun infrastruktur karena sarana dan prasarana yang ada sekarang tidak memadai. Memang tidak murah untuk membangun infrastruktur, apalagi dalam kondisi ekonomi global yang masih melambat. Namun, langkah pembangunan tidak bisa ditunda karena akan memengaruhi biaya logistik dan akhirnya menurunkan daya saing. Kita sependapat dengan pandangan yang disampaikan Presiden. Kita selama ini lupa untuk membangun infrastruktur sehingga biaya logistik kita 26% dari biaya produksi.

Kita juga terlalu senang membuat aturan, tanpa memperhatikan keselarasannya dengan peraturan yang lain. Hanya, dalam masalah peraturan, ada pandangan menarik yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Dari pengalamannya membangun daerah, tidak bisa penghapusan aturan atau deregulasi yang hanya dilakukan. Yang kadang perlu dilakukan ialah reregulasi. Menurut Soekarwo, tidak semua peraturan itu buruk. Sama juga, tidak semua yang tidak menggunakan peraturan itu baik. Bisa jadi malah timbul kekacauan ketika tidak ada aturan.

Perekonomian kita dibangun bukan atas dasar persaingan bebas. Negara harus menjamin terciptanya persaingan yang adil. Konstitusi kita bahkan menegaskan ekonomi yang kita pilih adalah ekonomi pasar yang bersifat sosial. Bahkan pada awalnya secara jelas dikatakan, asas yang dipilih adalah kekeluargaan dan bentuk yang paling ideal adalah koperasi. Kita sering kali berbicara koperasi yang konotasinya kecil dan guram. Padahal, di negara-negara Eropa, koperasi itu dikelola secara profesional dan bahkan menjadi korporasi besar.

Frisian Flag Campina, misalnya, dimiliki 1.900 peternak Belanda, Jerman, serta Belgia dan merupakan perusahaan produk susu terbesar kelima di dunia. Atas dasar itu, kita tidak bisa sekadar menghapus 42 ribu peraturan yang ada. Seperti yang diusulkan Gubernur Jatim, perlu disusun peraturan baru yang lebih mendukung daya saing dan kesiapan kita menghadapi kompetisi. Reregulasi diperlukan agar tidak terjadi kanibalisme dan akhirnya justru melemahkan perekonomian kita. Ambil contoh, misalnya dalam industri ayam potong. Karena banyaknya pemain dalam industri itu dengan skala yang beragam, harus ada aturan yang adil.

Negara harus membuat batasan di mana perusahaan bisa bermain dan di mana wilayah untuk pengusaha kecil. Bahkan di negara yang demokrasinya lebih maju, ada batasan jumlah pemain agar tidak terjadi pasokan yang berlebihan dan akhirnya saling mematikan. Negara harus memiliki arah jelas tentang perekonomian yang dibangun. Ini harus dikomunikasikan secara terbuka agar semua tahu tujuan besar pembangunan dan paham kontribusi apa yang bisa diberikan untuk mendukung kemajuan. Aturan harus dibuat agar ada keadilan dan kita tidak menjadi serigala bagi yang lainnya. Tujuan besar dari pembangunan ialah untuk menciptakan kesejahteraan umum. Sesuai dengan semangat Pancasila, keadilan itu harus dirasakan seluruh rakyat Indonesia.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.