Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Monas

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
29/3/2016 05:30
Monas
(ANTARA/Andika Wahyu)

HARI-HARI belakangan setiap melintas di depan Istana Merdeka, saya kerap berhenti sejenak untuk memandangi Monumen Nasional (Monas).

Monas yang mulai dibangun pada 1961 di masa Bung Karno untuk mengenang perjuangan rakyat merebut kemerdekaan itu kerap terlihat dingin dan sedih.

Ia seperti tengah memandang segala penjuru Jakarta yang kian berat bebannya.

Saya kerap bergumam, relasi Monas dengan gedung-gedung sekitarnya, seperti Istana Presiden, Mahkamah Agung, Kementerian Dalam Negeri, serupa hubungan suami-istri menjelang talak tiga.

Dingin dan nyaris beku.

Entah kenapa asosiasi ini muncul.

Ada rasa iba pada Monas. Bangunan setinggi 132 meter dengan pucuk patung lidah api yang dilapisi emas serupa misbah, pelita besar, justru kerap dijadikan lokus sesumbar untuk bunuh diri para politikus.

Dosa apa Monas?

Tiga tahun lalu, Anas Urbaningrum sesumbar akan menggantung diri di Monas jika terbukti korupsi.

Nyatanya, ia jadi orang rantai, 14 tahun.

Tak ada perkabungan tanda bekas pembesar Partai Demokrat itu mengakhiri hidupnya di pucuk Monas.

Saya juga tak berharap, memang.

Kini politikus Gerindra, Habiburochman, dalam Twitter-nya, sesumbar akan terjun bebas dari pucuk Monas jika KTP yang dikumpulkan Teman Ahok memenuhi syarat untuk menjadi cagub perseorangan pada 2017.

'Saya berani terjun bebas dari puncak Monas kalau KTP dukung Ahok beneran cukup untuk nyalon. #KTPdukung Ahokcumaomdo?' tulisnya.

Saya tak berharap ada politisi yang mati bukan karena banyak kerja, melainkan karena memenuhi sesumbarnya yang lajak.

Ia tidak saja takabur, melihat kemuskilan yang hanya dari subjektivitasnya--mungkin ketidaksukaannya--yang berlebihan.

Dalam soal Habiburochman, saya juga tak berharap ada lelayu di Monas karena politikus pemberani menepati janjinya.

Sesumbar menggunakan Monas sebagai tempat memenuhi janji untuk mati meneguhkan betapa gombalnya kaul para politikus di negeri ini.

Mereka mudah saja menyemburatkan sebuah prasetia, sebuah janji, di tengah khalayak, sesudah itu melupakan begitu saja.

Lidah yang kodratnya tidak bertulang itu seperti dieksploitasi memenuhi hasrat lancungnya.

Tak usah jauh-jauh memberi tafsir atas 'janji mati di Monas'.

Bahasa yang meluncur dari mulut lantas dilupakan begitu saja, jelas tanda pikirannya keruh. Bahkan keji pada diri sendiri.

Politik, kata Vaklav Havel, mantan Presiden Ceko, bukanlah keharusan untuk menipu, melainkan kemuliaan untuk membangun kepercayaan.

Karena itu, janji politisi yang diperlakukan serupa berak, yang dikeluarkan dan tak berharap kembali lagi, tak dipertanggungjawabkan; ia menipu.

Janji tak saja utang, tetapi ia serupa diandem dan mahkotanya sang mulut.

Karena itu, ada aforisme Jawa, Ajining diri saka lathi.

Harga diri berasal dari apa yang diucapkan mulut (pemiliknya).

Janji gantung diri dan terjun bebas di dan dari Monas mungkin banyak yang menganggap biasa saja.

Laku seperti itu juga kian membuktikan bahwa politik kita memang dunia penuh ingkar janji.

Tak mengapa tidak dipercaya, mungkin ini kredonya.

Akan tetapi, ini menguatkan apa yang dikatakan Francis Fukuyama, masyarakat yang tingkat 'kepercayaannya rendah' (low trust society) akan sulit membangun masyarakatnya.

Jangan cemari Monas dengan sesumbar-sesumbar yang vulgar. Biarlah Monas menyandang maknanya yang luhur itu.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.