Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Mengembalikan Uang

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
24/3/2016 05:30
Mengembalikan Uang
(ANTARA/Alfian Prayudi)

SELINTAS senang hati membaca berita koruptor mengembalikan uang kepada KPK.

Terlebih bila jumlahnya menggiurkan.

Yang dikembalikan saja segitu besar, berapa pula yang diembat?

Karena 'gembrot', rupiah agaknya tidak 'luwes' dipakai transaksional.

Mata uang AS dan Singapura paling laris digunakan.

Dalam kedua mata uang itulah hasil korupsi diraup, dan dalam kedua mata uang itulah pula sebagian uang korupsi dikembalikan kepada KPK.

Fisiknya lebih 'ramping'.

Sebagai gambaran, uang Rp2,3 miliar, yaitu 23 ribu lembar pecahan Rp100 ribu, nilainya setara S$240 ribu, yaitu 'hanya' 24 lembar saja pecahan S$10 ribu.

Itulah total uang yang terakhir dikembalikan Damayanti, anggota Komisi V DPR dari PDIP, yang menjadi tersangka kasus dugaan suap proyek pembangunan jalan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

'Lucu' juga kalau sampai BI mengeluarkan peraturan agar korupsi dilakukan dalam rupiah.

Seandainya pun rupiah jadi diredenominasi, banyak angka nol dibuang sehingga rupiah menjadi ramping, kiranya rupiah tetap tidak dipakai sebagai transaksi korupsi.

Kenapa?

Jika pun terjadi keanehan --koruptor punya rasa nasionalisme-- tentu bukan karena tak ingin nasionalisme tercemar rupiah tidak digunakan, tapi semata korupsi perlu keringkasan bertransaksi.

Lagi pula agar korupsi bergengsi, pakai valas, dong.

Selain itu, kabarnya koruptor percaya bahwa nomor seri rupiah lebih mudah dilacak jika dibandingkan dengan valas.

Setelah tertangkap basah KPK, kiranya tinggal satu pengharapan koruptor, yaitu kelak dihukum seringan-ringannya.

Salah satu yang dilakukan ialah mengembalikan uang korupsi.

Akan tetapi, para hakim rasanya perlu meninjau ulang, di tengah tetap ganasnya korupsi di negeri ini, apakah pengembalian uang ke KPK masih layak dipertimbangkan sebagai faktor meringankan hukuman.

Seorang justice collaborator didefinisikan oleh Mahkamah Agung sebagai pelaku yang menjadi saksi yang kooperatif membongkar perkara, termasuk mengembalikan aset hasil korupsi yang dimilikinya, tapi bukan pelaku utama.

Ketentuan 'bukan pelaku utama' itu perlu digarisbawahi, khususnya menyangkut korupsi bersama-sama yang dilakukan berbasiskan otoritas setara, seperti anggota DPR.

Mereka itu semua pelaku utama.

Contohnya, korupsi kolektif mayoritas anggota DPR dalam satu komisi seperti terjadi di Komisi V, semuanya layak dipandang pelaku utama.

Dalam perkara penggunaan hak bujet yang dimiliki anggota DPR, diasumsikan di situ tidak ada anggota DPR berperan sebagai pembantu pelaku utama.

Sekali lagi, semuanya pelaku utama yang setara.

Singkatnya, tidak seorang pun dari mereka tergolong justice collaborator, sekalipun ada di antara mereka memberikan keterangan dan bukti-bukti yang sangat berarti sehingga penyidik KPK dapat mengungkap kasus korupsi dengan cepat, mungkas, dan tuntas.

Dalam pandangan itu, mengembalikan uang ke KPK sebanyak-banyaknya sekalipun, kiranya bukan alasan untuk meringankan hukuman.

Bahkan, sebaliknya, makin banyak uang yang dikembalikan makin membuktikan betapa ganasnya sang koruptor mencuri uang negara.

Hukuman penjara terberat malah layak diberikan.

Asetnya disita untuk negara, bukan dengan modus pengembalian.

Karena itu, saya pribadi hanya selintas senang membaca berita koruptor mengembalikan uang ke KPK karena itu cuma modus untuk meringankan hukuman.

Memperlakukan semua tersangka sebagai pelaku utama dalam perkara korupsi bareng-bareng yang dilakukan anggota DPR, tentu membuat KPK harus bekerja lebih keras membongkar perkara.

Sebab, tidak laku lagi iming-iming menjadi justice collaborator dengan 'hadiah' keringanan hukuman.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.