Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Someone

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
17/3/2016 05:30
Someone
(ANTARA/Didik Suhartono)

SEJAK 8 Maret 2016, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono melakukan Tour de Java selama 13 hari.

Sepanjang dapat dibaca di media daring, tour itu bertujuan menyerap aspirasi rakyat serta konsolidasi persiapan berkaitan dengan pemilihan umum kepala daerah atau pilkada serentak 2017.

Di Yogyakarta, misalnya, SBY mengatakan agar kader partainya tidak percaya pada calo yang bisa memuluskan pencalonan di pilkada.

"Nanti saya sambungkan ke Pak SBY, pas jadi. Itu bohong," katanya.

Yang paling menarik ialah topik mengenai calon presiden pada Pemilu 2019. SBY dikabarkan masih digadang-gadang kalangan internal partainya untuk mencalonkan diri.

Akan tetapi, ada yang mempertanyakan, tidakkah hal itu terbentur oleh undang-undang yang tidak memperkenankan presiden dua masa jabatan berturut-turut mencalonkan diri, sekalipun telah lima tahun jeda?

Saya berpandangan bila ada aturan seperti itu, sebaiknya dibawa ke Mahkamah Konstitusi untuk ditinjau ulang. Setelah 'moratorium' lima tahun, kembali ke titik nol.

SBY sendiri menepis dugaan bahwa Tour de Java merupakan pemanasan bagi dirinya kembali menjadi capres.

Katanya, ia sudah selesai, telah 10 tahun menjadi presiden dan tak ada keinginan untuk kembali menjadi presiden.

Tugas SBY kini ialah mempersiapkan someone, seseorang untuk maju dalam pilpres.

"Kita cari, yuk, capres lain. Nanti biar berkompetisi dengan Pak Jokowi," ujar SBY di Purworejo, Jumat (11/3) malam.

Siapakah someone itu? Apakah Ani Yudhoyono yang tak lain istri Susilo Bambang Yudhoyono?

Pertanyaan itu sangat relevan karena sejak Selasa (15/3), ramai muncul di media sosial gambar Ani Yudhoyono mengenakan pakaian berwarna biru, melambaikan tangan, disertai tulisan 'Ani Yudhoyono Calon Presiden Partai Demokrat 2019'.

Di gambar itu juga ada slogan 'Lanjutkan!', dengan tagar #AniYudhoyono2019.

Wajar bila ada yang berkesimpulan bahwa meme itu resmi dibuat Partai Demokrat.

Sebelumnya, ada elite partai itu mengungkapkan bahwa Ani Yudhoyono diminta rakyat untuk menjadi capres.

Kalau memang SBY tidak mencalonkan lagi, "Apa salahnya Ibu Ani? Itu rakyat yang meminta," kata juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul.

Macam-macam tafsir atas gambar Ani Yudhoyono itu. Ada yang membahasakannya sebagai 'tes pasar'.

Kalau laku di Jawa, akan diusung pada Tour de Sumatra dan seterusnya digenjot sampai Pemilu 2019.

Ada pula yang menyebutnya sebagai 'hasrat terpendam', sekaranglah saatnya dimunculkan ke permukaan.

Bukankah Ani Yudhoyono sebagai warga negara berhak?

Kalau di Amerika Serikat, embahnya demokrasi, istri mantan presiden sah-sah saja mencalonkan diri, yaitu Hillary Clinton, kenapa Ani Yudhoyono di negeri demokrasi ketiga terbesar di dunia tidak boleh?

Lagi pula, tidak ada bangsa kelebihan pemimpin. Hemat saya, umumnya bangsa kekurangan pemimpin, termasuk bangsa ini.

Kita tidak punya banyak stok capres.

Mencari tandingan Ahok menjadi calon Gubernur Jakarta saja sudah perkara besar, apalagi mencari capres.

Karena itu, bagus bagi demokrasi bila jauh-jauh hari ada partai yang telah mempersiapkan someone, yaitu kader mereka, untuk memimpin negeri ini.

Meminjam pernyataan SBY sendiri, itulah someone yang nanti berkompetisi dengan Pak Jokowi.

Pada Pemilu 2019, bila tidak ada perubahan, pemilu legislatif dilaksanakan serentak dengan pemilihan presiden.

Di tengah banyaknya nama caleg dan partai pengusungnya pada pileg, lebih cepat rakyat tahu siapa capres kiranya lebih baik.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.