Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Mengantisipasi Krisis

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/3/2016 06:44
Mengantisipasi Krisis
(MI/Bagus Suryo)

PENGALAMAN 1997 tidak akan pernah terlupakan oleh bangsa Indonesia. Gejola­k ekonomi di Asia Timur mengimbas ke Indonesia. Kepanikan membuat pasar menarik dana besar-besaran dari perbankan. Untuk mencegah kehancur­an sistem keuangan, pemerintah mengeluarkan kebijakan bantuan likuiditas Bank Indonesia.

Sampai sekarang, kebijakan itu masih menjadi kontroversi. Namun, pilihan menggelontorkan dana talangan sampai Rp600 triliun merupakan cara terbaik mencegah kehancuran sistem keuangan. Satu dekade setelah itu, krisis keuangan melanda Amerika Serikat. Pemerintahan George W Bush panik menghadapi ancaman keruntuhan perekonomian AS.

Padahal, selama ini mereka paling sesumbar sebagai negara terbaik menerapkan good corporate governance. Namun, prinsip kehati-hatian pada sistem keuangan mereka tabrak. Pemerintah AS harus mengeluarkan kebijakan Trouble Assets Recovery Program. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah AS mengeluarkan anggaran sampai US$725 miliar (sekitar Rp9.500 triliun) untuk mengambil alih aset perusahaan berkredit macet.

Hingga kini AS belum pulih dari krisis. Bahkan eksesnya mengimbas ke seluruh dunia karena dana talangan meluber ke mana-mana. Ketika Bank Sentral AS hendak menarik dana tersebut, mata uang dunia terguncang.

Dua gambaran besar itu menunjukkan tidak ada negara yang kebal dari krisis. Persoalannya tinggal kapan krisis itu akan terjadi serta bagaimana langkah penanganan untuk meminimalkan risiko. Kepanikan pasar merupakan faktor yang sulit dikontrol. Semua orang berupaya menyelamatkan uang ma­sing-masing ketika krisis terjadi. Kepanikan itu menciptakan ketidakpercayaan massal pada sistem keuangan.

Dengan belajar dari pengalaman tersebu­t, semua negara menyusun protokol penangan­an krisis. Protokol itu diperlukan agar jelas langkah apa yang perlu dilakukan ketika krisis terjadi. Bagaimana proses pengambil­an keputusannya dan siapa yang berwenang mengambil keputusan tersebut. Setelah krisis keuangan AS, kita sempat dihadapka­n pada krisis yang berpotensi memiliki dampak sistemis. Krisis yang melanda Bank Century membuat Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang dipimpin Menteri Keuangan Sri Mul­yani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Boediono memutuskan untuk melakukan penyelamatan. Namun, isu itu bergulir menjadi masalah politik dan keduanya hingga kini tersandera oleh kasus itu.

Saat menjabat wakil presiden, Boediono pernah mengusulkan perlunya UU Pencegah­an dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan. Namun, ide itu tak pernah ditanggapi dan dianggap sebagai upaya Boediono menghindari tuntutan hukum. Kini mulai disadari pentingnya UU PPKSK, apalagi jika melihat potensi ancaman yang bisa terjadi. Bank Sentral Eropa harus menyiapkan paket khusus untuk menyelamatkan perekonomian Uni Eropa. Tiongkok melakukan langkah pencegahan untuk menghindari krisis.

Persetujuan DPR bagi ditetapkannya RUU PPKSK merupakan langkah maju mengantisipasi krisis keuangan. Walau waktu pembahasan masih diperlukan, sudah muncul kesadaran membangun sistem yang bisa dipakai dalam menghadapi krisis keuangan. Semangatnya sudah dimunculkan, tidak lagi akan menggunakan skema dana talangan (bailout), tetapi kewajiban dari pemegang saham untuk menyetorkan modal tambahan (bail-in). Implikasinya sudah diantisipasi, yakni amendemen UU Otoritas Jasa Keuangan, UU BI, dan UU Lembaga Penjamin Simpanan. Semua itu berangkat dari kesadaran kita harus menyediakan payung sebelum hujan. Jika krisis keuangan telanjur datang, kita sulit berpikir jernih karena mudah panik. Kita harus belajar dari pengalaman.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.