Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ISU perlunya memperoleh nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki sudah lama digaungkan.
Hal itu diingatkan kembali oleh Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, dalam dialog nasional saat peringatan Hari Kemerdekaan pada 2010.
Kata BJ Habibie, kita seperti menghadapi VOC jilid dua apabila sumber daya alam kita ekspor dan mengimpor produk jadi, karena nilai tambahnya dinikmati oleh bangsa lain.
Sentilan Habibie kemudian melahirkan kebijakan hilirisasi.
Semua pengelola pertambangan diharuskan membangun pabrik pengolahan mineral.
Pemerintah membekukan izin ekspor apabila tidak ada komitmen untuk membangun smelter.
Setelah beberapa tahun berjalan, muncul wacana untuk mengkaji kembali kebijakan tersebut.
Menko Perekonomian Darmin Nasution melihat, momentum kebijakan hilirisasi hilang ketika harga komoditas terpuruk seperti sekarang.
Kita sering mengingatkan pentingnya pengkajian secara menyeluruh.
Kebijakan industrialisasi harus melihat kemampuan industri dalam negeri.
Jangan sampai nilai tambah justru dinikmati bangsa lain karena kita harus mengimpor barang modal.
Ambil contoh pabrik pengolahan tembaga.
Investasi yang harus ditanamkan untuk membangun smelter sekitar US$2 miliar.
Namun, barang modal untuk membangun smelter harus diimpor karena hanya Jepang, Tiongkok, atau Amerika Serikat yang memiliki teknologi tersebut.
Persoalannya, nilai tambah yang didapat dari pengolahan konsentrat ternyata hanya 5%.
Kita harus mengekspor produk olahan itu karena kita tidak memiliki industri hilir lanjutan seperti industri kabel dan katoda.
Hal yang sama berlaku pada aluminium.
Nilai tambah akan semakin tinggi apabila kita memiliki industri permesinan yang kuat.
Industri otomotif sangat membutuhkan aluminium untuk keperluan mesin dan komponen.
Untuk itulah kita memerlukan desain besar pembangunan industri nasional.
Sampai saat ini kita belum memiliki kebijakan nasional yang menggabungkan sistem pendidikan dan pembangunan ekonomi yang hendak kita tuju.
Sejak zaman Mendikbud Wardiman Djojonegoro kita berkutat pada persoalan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.
Tidak usah heran apabila kita kemudian menjadi gamang.
Apalagi ketika dihadapkan pada perekonomian global yang masih terus melambat.
Harga komoditas terus tergerus sehingga investasi pengolahan mineral dirasakan menjadi tidak feasible.
Kita tidak pernah bosan mengajak bangsa ini bertindak lebih cerdas. Jangan kebijakan dikeluarkan hanya karena sikap emosional.
Masukan yang diberikan Habibie bukan dimaksudkan untuk sesuatu yang tidak feasible.
Kita sudah terlalu lama tidak memperkuat pe-nguasaan ilmu dasar.
Akibatnya, kita kekurangan ahli yang bisa membawa kita menguasai industri barang modal.
Hampir semua permesinan industri harus diimpor dan akibatnya setiap tahun bisa terlihat dari besarnya defisit neraca transaksi berjalan.
Kita tidak perlu malu untuk merevisi kebijakan yang kurang tepat.
Yang terpenting ada kesadaran untuk memperbaiki kelemahan yang ada agar kelak kita dapat mengoptimalkan sumber daya alam untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved