Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Warisan WJS Poerwadarminta

Saur Hutabarat
22/2/2016 07:00
Warisan WJS Poerwadarminta
(MI/Susanto)

SEDIH membaca Surat kepada Redaksi dari ahli waris WJS Poerwadarminta, penyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang dirugikan PT Balai Pustaka (BP). Penerbit milik negara itu ingkar janji.

Menurut ahli waris, Winardi Poerwadinata, BP belum menyelesaikan pembayaran sisa royalti hak cipta atas buku kamus edisi III, cetakan XII, yang telah diterbitkan dan diperjualbelikan di toko-toko buku.

BP menyanggupi bayar royalti Rp40 juta. Itu pun bertahap. Namun, hingga surat itu terbit, BP baru membayar Rp5 juta. "Ketika kami tanyakan kapan sisanya, BP mengelak," tulis Winardi Poerwadinata (Kompas, Jumat, 19/2).

Sedih, sekalipun saya bukan ahli waris biologis WJS Poerwadarminta, melainkan ahli waris leksikografis, memiliki dan menggunakan kamus karya mendiang, cetakan IV (1966). Cetakan IV terdiri dua buku, dua bagian. Pertama huruf A hingga O (632 halaman) dan kedua huruf P hingga Z (522 halaman). Kamus itu orisinal, belum 'diolah kembali oleh Pusat Bahasa Depdikbud'.

Sedih, karena siapa tak kenal BP, terlebih siapa tak kenal WJS Poerwadarminta? Rupanya itu retoris kalangan tua. Boleh jadi BP hanya membekas dalam ingatan kalangan gaek. Ia tenggelam di antara penerbit swasta. Pelajar kesusasteraan sekarang boleh jadi mengingatnya sebagai hafalan: BP sebuah era sebelum Pujangga Baru. Namun, sebagai penerbit? Saya yang 60-an pun nyaris 'tak kenal' lagi.

Orang lebih kenal sang pengarang, WJS Poerwadarminta, penyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia daripada BP. Jangan-jangan hampir setengah abad penerbit buku tidak lagi diasosiasikan dengan BP, tetapi GM, Gramedia. Kemajuan swasta kemajuan anak bangsa, tetapi duka intelektual, jika BP yang tertinggal mengabaikan royalti, tidak menghormati dan menghargai intelectual property WJS Poerwadarminta

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua cetakan keempat (1995), Kamus Umum Bahasa Indonesia yang pertama terbit 1953 dinilai tonggak sejarah dalam pertumbuhan leksikografi Indonesia.

"Walaupun sederhana dan praktis, kamus ini deskriptif yang pemuatan lema ataupun penjelasan maknanya dapat dipertanggungjawabkan ilmiah."

Sebelumnya, WJS Poerwadarminta telah menghasilkan Baoesastra Indonesia-Djawi (1930). Bersama K Prent, J Adisubrata, dan Jacob Kramers, ia menyusun Kamus Latin-Indonesia. Sempat bekerja di Jepang sebagai penerjemah dan belajar kesusteraan di Universitas Sophia, Poerwadarminta menelurkan Kamus Harian Jepang-Indonesia.

Ia bapak kamus Indonesia, tetapi terang-terangan hendak dilupakan BP, yang mencetak ulang kamus itu berkali-kali. Penerbitan kamus itu royaltinya tak beres, bahkan terbit tanpa pemberitahuan ke ahli waris.

Patut didiagnosis BP hidup segan, mati enggan. Keuangannya kiranya lebih banyak kempis daripada kembang. Negara harus peduli, menjadikannya penerbit nirlaba untuk mencerdaskan bangsa. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Mendikbud Anies Baswedan perlu turun tangan memulihkan orientasi dan eksistensi BP.

Ini bukan zaman penerbit mencari karya, tapi zaman penulis membayar penerbit asal karyanya 'tampil'. Versi lain era selfie. Selfie cuma perlu 'tampak', tak butuh royalti. Maaf, WJS Poerwadarminta dan banyak penulis lain bukan cendekiawan selfie. BP dan penerbit mana pun seharusnya kembali ke peradaban, hak pengarang dilindungi undang-undang.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.