Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

APBN-P

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
20/2/2016 05:31
APBN-P
(MI/Susanto)

BRUNEI Darussalam merupakan negara yang penerimaan negaranya bergantung pada migas.

Di tengah situasi harga minyak terpuruk, Brunei mencoba lebih realistis dalam menyusun anggaran.

Saat bertemu di Jakarta akhir tahun lalu, Menteri Energi Brunei Pehin Mohammad Yasmin Umar mengaku dirinya sempat dikritik keras anggota parlemen karena menetapkan harga minyak US$40 per barel dalam penyusunan anggaran.

Pehin Yasmin dinilai terlalu rendah menetapkan harga patokan sehingga mengurangi kemampuan anggaran Brunei.

Namun, ia merasa itulah patokan paling realistis karena harga minyak dunia tahun ini masih akan berada pada titik yang rendah.

Daripada menunggu tanpa kepastian harga minyak kembali naik, Pehin Yasmin mengajak anggota parlemen mencari alternatif lain untuk meningkatkan penerimaan negara.

Di sisi lain, perlu dipikirkan cara untuk menggunakan anggaran negara seefisien mungkin agar bermanfaat bagi rakyat banyak.

Ketika Brunei menetapkan harga minyak US$40, kita masih mematok US$50 per barel dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.

Kini, saat harga minyak masih di bawah US$30, wajar apabila pemerintah limbung.

Penerimaan pajak penghasilan migas hingga pertengahan Februari baru Rp5 triliun dari target Rp90 triliun.

Apalagi rendahnya harga minyak berdampak pada harga komoditas lain, yang menjadi andalan penerimaan kita.

Revisi APBN menjadi keniscayaan.

Pemerintah perlu menyampaikan Rancangan APBN Perubahan ke DPR untuk merumuskan anggaran lebih realistis.

Kita menata kembali rencana pendapatan dan belanja agar tidak lebih besar pasak daripada tiang.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro memperkirakan penerimaan negara tahun ini bisa berkurang Rp200 triliun dari perkiraan.

Untuk itu, perlu dipikirkan pos-pos yang bisa dihemat tanpa mengurangi target pertumbuhan yang diinginkan.

Kita memang tidak perlu menurunkan target pertumbuhan 5,3% tahun ini karena perekonomian kita tidak hanya bertumpu pada pemerintah.

Kita masih memiliki swasta dan BUMN sebagai motor pertumbuhan.

Apalagi BI sudah memberikan kelonggaran kredit dengan menurunkan suku bunga acuan, BI rate, menjadi 7%.

Penetapan simpanan giro wajib minimum perbankan juga diturunkan dari 7,5% menjadi 6,5%.

Ruang bagi terjadinya investasi pun masih terbuka lebar.

Kalau saja rencana pembangunan pembangkit listrik 35 Gw mampu direalisasikan, setiap tahun akan ada investasi sekitar Rp200 triliun.

Itu sudah 30% dari target investasi yang dicanangkan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Investasi itu pun mendorong tumbuhnya industri penunjang karena pembangunan pembangkit listrik membutuhkan konduktor aluminium, trafo, dan baja.

Jutaan orang juga bisa terserap untuk membangun proyek.

Belum lagi kalau pemerintah menekuni investasi di sektor migas serta pertambangan.

Banyak proyek migas yang tinggal eksploitasi seperti Blok Masela.

Sekarang para pengusaha menunggu maunya Presiden.

Kajian untuk dilakukan eksploitasi di tengah laut sudah dibuat sejak tiga tahun lalu.

Sekarang Presiden goyah karena ada yang berpendapat pengolahan di darat lebih bermanfaat.

Persoalan sekarang terletak pada keyakinan kita.

Kalau kita menghendaki ada percepatan pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi, kuncinya sepenuhnya di tangan kita.

Kalau saat meresmikan pelaksanaan pembangunan kereta cepat Presiden menegaskan bahwa pemenang dalam era kompetisi ialah yang paling cepat mengambil keputusan, konsistensi sikap seperti itulah yang kita butuhkan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.