Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bersih Energi

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
17/2/2016 05:31
Bersih Energi
(ANTARA/Nyoman Budhiana)

PEKAN lalu, Forum Energi Bersih digelar di Bali. Forum itu membicarakan inisiatif untuk tidak lagi bertumpu pada energi berbasis fosil.

Perkembangan teknologi untuk energi bersih sudah begitu pesat. Sekarang bukan lagi saatnya omong doang. Banyak negara sudah mempraktikkannya.

Salah satunya dilakukan Jepang. Stadion sepak bola yang dibangun di Suita, Osaka, menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi.

Panel sel surya berkekuatan 500 Kw dipasang di atap stadion. Sebagai negara empat musim, Jepang tidak dilimpahi sinar matahari sepanjang tahun. Namun, penggunaan panel sel surya mampu menghemat anggaran sampai US$45 ribu per tahun.

Indonesia memiliki banyak kelebihan untuk mengembangkan energi bersih, seperti sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, air bisa diolah jadi energi, angin juga tersedia jadi tenaga listrik.

Ada lagi potensi yang sangat besar, yaitu panas bumi. Lalu, mengapa kita begitu lamban mengembangkan energi bersih?

Itu disebabkan rezim keuangan kita masih menggunakan cara pandang biaya murah.

Para pejabat Kementerian Keuangan hanya berorientasi menjaga keuangan negara yang sehat, enggan memberi insentif para pengembang energi bersih.

Tanpa dipacu mengembangkan energi bersih, orang akan mencari mudahnya. Apalagi kini harga minyak dunia sangat rendah. Harga batu bara juga berada di titik terendah.

Pembangunan pembangkit listrik 35 Gw semuanya berbasis energi fosil. Padahal, energi berbasis fosil melepaskan CO2 ke udara yang memicu efek rumah kaca yang kita hadapi saat ini.

Conferences of Parties 21 akhir tahun lalu di Paris mendesak negara di dunia untuk melakukan langkah nyata mengurangi pelepasan CO2.

Indonesia sudah berjanji mengurangi CO2 hingga tinggal 26% pada 2020. Namun, bagaimana peta jalan ke arah sana, belum kita lihat.

Semua masih business as usual dan tidak terlihat langkah bergegas mendorong masyarakat ikut serta melakukannya.

Banyak negara menerapkan pajak untuk pelepasan CO2.

Pembangkit listrik yang menggunakan batu bara dikenai pajak karena mereka tidak berorientasi pada penciptaan lingkungan yang bersih. Sebaliknya, kepada mereka yang mengembangkan energi bersih diberikan insentif.

Hal yang sama berlaku pada masyarakat. Mereka yang mau menggunakan mobil listrik atau hibrida mendapat insentif harga lebih murah.

Tidak seperti di Indonesia, mobil hibrida dikategorikan kendaraan mewah sehingga harga jualnya jauh lebih tinggi. Tidak mengherankan bila tidak banyak masyarakat mau beralih ke mobil hibrida.

Kita membutuhkan kesungguhan bila tidak ingin dikucilkan sebagai negara yang tidak peduli lingkungan.

Harus ada perubahan paradigma agar setiap orang terpacu untuk sesedikit mungkin melepaskan CO2 ke udara. Tanpa itu kita hanya menjadi peserta dari forum ke forum. Kita harus memacu anak-anak Indonesia untuk menguasai teknologinya.

Di Indonesia sebagai negara kepulauan, pengembangan energi bersih paling feasible dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Tidaklah mungkin membangun pembangkit di 17.500 pulau yang tersebar di Indonesia.

Pembangkit tenaga surya, air, atau angin paling cocok untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang tak banyak jumlahnya.

Presiden Jokowi pernah meresmikan pembangkit listrik tenaga surya di Bali.

Kini butuh percepatan menuju energi bersih.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.