Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TAK ada yang salah dengan para ca bau kan (perempuan) yang menyanyikan lagu-lagu klasik Tionghoa bersyair asmara. Apa yang salah dengan para perempuan pribumi di Betawi yang mencari penghidup-an dengan menyanyi, menghibur para tetamu? Pastilah, di masa Hindia Belanda, hiburan di atas perahu-perahu yang tambat di Kali Angke yang bening punya kelasnya sendiri. Tentu pula tak bisa dihindari ada cerita asmara dalam hubungan penghibur dan yang dihibur; para saudagar Tionghoa. Mungkin juga kemudian ada yang ‘berjodoh’.
Tinung yang bernama asli Siti Noerhajati, pribumi Betawi, contoh penghibur ternama. Ia populer tak hanya karena parasnya yang cantik, tapi juga nyanyiannya yang merdu dan tariannya (cokek) yang indah. Ia menjadi selir Tan Peng Liang, saudagar tembakau Tionghoa dari Semarang.
Kisah asmara itu terjadi di Kalijodo. Novel Ca-Bau-Kan karya Remmy Sylado tak hanya mengangkat sepenggal kisah ‘kejayaan’ Kalijodo di masa lalu, tapi lebih dari itu semacam pembebasan mengangkat sesuatu yang tabu di masa Orde Baru, mengangkat kisah kehidupan puak Tionghoa. Bahkan, novel ini kemudian difilmkan.
Di masa kemerdekaan, seperti diceritakan tokoh Betawi Ridwan Saidi, di atas Kali Angke, peh cun atawa pesta air kerap digelar setiap 100 hari kalender Imlek. Inilah pesta, ketika muda-mudi bersampan di Kali Angke, mencari jodoh. Para bujang di atas perahu, yang tertarik para gadis di atas sampan yang lain, akan melempar kue tiong cu pia. Ca bau kan yang cocok juga akan melempar kue yang sama pada pemuda pelempar kue. Inilah berjodoh dengan cara yang indah. Akan tetapi, pada 1958 Wali Kota Jakarta Raya, Sudiro, melarang pesta air mencari jodoh itu.
Kalijodo, bukan kisah ‘hari ini’. Konon cerita asmara di situ telah berlangsung sejak abad ke-18. Cerita asmara Kalijodo yang tua itu, pesta air mencari jodoh terbuka dan riang pascakemerdekaan, sejak 1970-an justru menjadi lokus transaksi seks.
Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membulatkan tekad hendak menutup tempat hiburan itu dan dikembalikan sebagai ruang terbuka hijau. Alasannya, Ibu Kota baru mempunyai 10% lahan terbuka hijau dari yang seharusnya 30%, dan area itu memang milik Pemprov Jakarta.
Kita tahu, umumnya setiap lokalisasi prostitusi, di situ selalu ada cerita yang ‘mengikuti’: perjudian, para jagoan--yang kemudian bermetamorfosis menjadi ‘tokoh’--berebut lahan untuk memberi rasa ‘aman’. Juga di Kalijodo. Ada cerita para ‘jagoan’. Itu sebabnya, ‘penertiban’ manusia yang sudah berpuluh tahun mencari penghidupan pasti tak sederhana.
Kalijodo seperti sekarang ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka yang mencari penghidupan di situ. Mereka butuh makan. Sejarah para ca bau kan yang menghibur dengan lagu-lagu klasik, cerita mencari jodoh gadis-bujang di atas sampan dengan melempar kue tiong cu pia, mestinya bisa dikembangkan sebagai sebuah ‘kearifan’ masa silam yang kemudian jadi tak melanggar norma dan hukum. Ia bisa menjadi sebuah festival kreatif, misalnya.
Membiarkan terlalu lama Kalijodo menjadi berkembang seperti sekarang, lalu ditutup begitu rupa, tentu semena-mena. Kalijodo juga pelajaran, seperti penggusuran-penggusuran lain, yakni pelanggaran yang dibiarkan negara jadi membesar. Oknum aparat negara juga kerap memanfaatkannya. Kita setuju penertiban, tapi ingat mereka manusia. Pemprov Jakarta mestinya memberi penghidupan yang lebih pada mereka.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved