Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MAYBANK sudah sejak 1980-an hadir di Indonesia. Hanya saja mereka beroperasi sebagai investment bank. Maybank tidak mendapat izin untuk menjadi retail banking. Tidak usah heran apabila penetrasi mereka kalah dibandingkan bank Malaysia lainnya, CIMB Niaga.
Namun, kini Maybank memperkecil ketertinggalannya. Secara cerdik mereka mengakuisisi Bank International Indonesia.
Mereka bisa melebarkan sayapnya menjadi retail banking dengan memanfaatkan izin dan cabang-cabang yang dimiliki BII. Mereka mengubah nama BII Maybank menjadi Bank Maybank Indonesia.
Otoritas moneter Indonesia mengizinkan akuisisi dan pergantian nama tersebut. Kita pun tidak mempermasalahkan kehadiran mereka.
Perbankan kita sudah lama dipenuhi bank-bank asing. Bukan hanya Malaysia, melainkan bank Singapura, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea, AS, dan negara-negara Eropa.
Ekonomi Indonesia memang dibuka lebar untuk asing. Kita menganggap sebagai geopolitik dan geoekonomi. Semua sektor dipersilakan dimiliki dan dikuasai asing.
Paket Kebijakan Ekonomi X melengkapi liberalisasi ekonomi yang kita lakukan. Bahkan restoran dan kafe pun dipersilakan 100% dimiliki asing.
Mereka boleh bersaing secara bebas dengan restoran-restoran tradisional seperti Mbok Berek, Ayam Suharti, Gudeg Yu Jum, atau Soto Ambengan.
Pemerintah tidak mau dikatakan kebijakan terakhir ini sebagai liberalisasi.
Namun, kenyataan penghapusan daftar negatif investasi (DNI) yang dikeluarkan Kamis (11/2), membuka investasi asing untuk bidang yang selama ini menjadi andalan pengusaha mikro, kecil, dan menengah.
Seorang menteri mengaku merasa berdosa membiarkan kebijakan liberalisasi dilakukan pemerintah Jokowi-JK.
Ia tidak menyangka rapat kabinet terbatas ditutup lebih cepat oleh Presiden.
Padahal, ia ingin mengingatkan, apakah memang seperti ini keterbukaan ekonomi yang ingin kita lakukan.
AS, yang dikatakan sebagai embahnya liberalisasi, tidak menjadikan perekonomian mereka terbuka sebebas-bebasnya.
Kita masih ingat ketika pengelolaan pelabuhan mereka hampir diambil alih investor Timur Tengah.
Masyarakat AS menolak liberalisasi dan kontrak pengambilalihan itu dibatalkan.
Kita membuka diri terhadap masuknya bank-bank asing di Indonesia. Bahkan mereka diperkenankan beroperasi dan membuka ATM di tempat yang mereka maui.
Sementara bank kita untuk membuka ATM di Singapura dan Malaysia saja izinnya dibuat berbelit-belit dan persyaratannya nyaris tidak masuk akal.
Anehnya, di satu sisi kita begitu terbuka, tetapi di sisi lain kita bisa begitu antiterhadap asing.
Contoh perlakuan terhadap PT Freeport Indonesia.
Sepertinya apa yang mereka lakukan selalu salah.
Bahkan kemudian kita berupaya menyingkirkan mereka dari Indonesia karena menganggap mereka tidak memberi manfaat.
Padahal, banyak investasi asing yang sebenarnya mengancam eksistensi negara ini.
Seperti penguasaan bisnis telekomunikasi, bisnis perbankan, bisnis perminyakan.
Terakhir penghapusan DNI untuk bidang-bidang yang menjadi penghidupan warga bangsa ini seperti restoran dan kafe.
Masak Mbok Berek boleh disingkirkan oleh Singapore Hainan Rice atau Soto Ambengan dikalahkan Wonton Soup.
Kita memang butuh investasi, tetapi sebaik nya investasi untuk bidang yang kita belum kuat.
Jangan hanya karena kita tidak bisa mengatur persaingan, lalu kita meminjam tangan asing untuk menciptakan persaingan.
Industri film dibuka selebar-lebarnya kepada asing dengan harapan mendorong produksi film nasional.
Sebuah cara berpikir absurd, karena kalau Bollywood yang masuk ke Indonesia, pasti film India yang akan dibuat, bukan film nasional.
Pemerintah mengaku sudah mendengar masukan dari semua pihak, tetapi seperti kata seorang menteri, apakah liberalisasi seperti ini yang kita maui?
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved