Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pemimpin

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
12/2/2016 06:00
Pemimpin
(ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

SAYA tak peduli pemimpin dilahirkan atau diciptakan. Saya tak peduli pemimpin super kaya Vladimir Putin atau papa seperti Jose Mujica. Saya tak peduli pemimpin lahir dari keluarga miskin seperti Lee Myung Bak atau lahir di istana seperti Hassanah Bolkiah. Saya juga tak peduli pemimpin dari kalangan saudagar kaya seperti Silvio Berlusconi atau dari kelas pekerja Hugo Chavez. Peduli saya bagaimana ketika ia memimpin, juga apakah itu diperoleh dengan cara 'terang' atau 'sembunyi'?

Yang pasti pemimpin tak lahir dari advertensi; juga pidato-pidato di televisi. Tentu, reklame, televisi, dan media massa bisa mengantarkan mereka ke pintu gerbang pemimpin. Akan tetapi, kapasitas sang pemimpin itulah yang utama. Kita tahu beberapa nama waktu lalu sangat percaya diri menghiasi papan-papan iklan dan media massa, sayang akhirnya undur pergi. Salah satunya, Rizal Mallarangeng. Ada banyak yang menunggu saban doktor ilmu politik lulusan Ohio State University itu tampil di televisi.

Performanya penuh gairah, dikelilingi anak-anak dan penduduk desa. Ia merangkul, membimbing, dan membawa mereka menuju dunia baru.
Motonya cerdas, 'Generasi baru, harapan baru'. Sayang ia batal maju sebagai calon Presiden 2009. (Apa kabar Bung Rizal?) Karena itu, saya bungah munculnya beberapa nama yang berkehendak menjadi 'pemimpin'. Hary Tatanoesudibjo, yang terutama.

Ia saudagar sukses lewat bendera MNC Group. Muda, kaya, berpendidikan, energik, dan punya media. Jalannya menuju panggung pemimpin lewat politik. Mula-mula Tanoe berlabuh di Partai NasDem, lalu Hanura, kemudian mendirikan Partai Perindo (Perhimpunan Indonesia). Lewat partai inilah ia kini menempa diri menjadi calon pemimpin bangsa. Kegagalannya pada Pemilu 2014 memompakan hasrat maju kembali. Kita hargai Tanoe.

Ia memasuki dunia terbuka, dunia publik, dunia politik. Dalam politik, yang privat ditanggalkan, yang publik diutamakan. Dalam politik, yang solider jadi kekuatan, yang soliter jadi kelemahan. Dalam politik altruisme digalakkan, egoisme disisihkan. Dalam politik, calon pemimpin mesti siap berdiri di tengah lapang dan diteropong bahkan 'ditelanjangi' dari delapan penjuru angin. Alangkah mulianya politik, mestinya! Sebab, ikhwal calon pemimpin menjadi santapan publik.

Laku yang agung dan yang lancung jadi jelas! Bahkan, mestinya calon pemimpin juga mengumumkan berbagai sisi lemahnya dan meminta publik mengawalnya. Dalam konteks proses itu pula, saya melihat panggilan Kejaksaaan Agung pada Tanoe atas dugaan pelanggaran hukum dalam bisnis, justru ini ujian di ruang publik sebagai calon pemimpin.

Respons Tanoe lewat pesan pendek (sandek) kepada jaksa Yulianto itulah yang disayangkan. Tentu ada debat seru di situ. Silakan ahli hukum, ahli semiotik, linguistik forensik, psikolinguistik, dan ahli lain yang punya otoritas keilmuan berdebat menganalisis pesan pendek Tanoe.
Beberapa soal saya setuju. Namun, kenapa Tanoe berkirim sandek? Kenapa pula domain hukum yang 'publik' dibawa ke domain privat, menyapa 'Mas Yulianto'.

Saya semula berharap Tanoe merespons rencana panggilan Kejagung dengan cepat hadir di Gedung Bundar. Inilah panggung terbaik untuk menunjukkan kepada publik, siapa yang cemar dan siapa yang benar. Saya berharap Tanoe sampai, menjadi 'pimpinan negeri ini', yang hendak 'memberantas oknum-oknum penegak hukum yang transaksaksional'. Sepakat.

Buktikanlah di pengadilan bahwa Anda yang benar dan Kejaksaan Agung cemar. Jika Anda yang benar, inilah tiket penting calon pemimpin, yang disebut sejarawan Arnold Toynbee sebagai kaum 'minoritas dominan'. Saya menunggu Anda memang layak berada dalam barisan itu.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.