Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BARU saja kita merayakan Tahun Baru Imlek. Pada Tahun Monyet kita berharap semua bisa lebih baik. Setidaknya bisnis bisa berkembang lebih lancar, sehingga tahun lalu menjadi titik terendah dari siklus ekonomi kita.
Banyak hal yang bisa kita petik dari pengalaman bangsa Tionghoa. Salah satunya dalam hal kepemimpinan. Pepatah Tionghoa antara lain mengatakan: "Pemimpin dan yang dipimpin janganlah setengah kilogram, lima ons.". Pepatah itu mengajarkan agar pemimpin memiliki kelebihan. Entah itu kelebihan dalam wisdom atau kemampuan untuk melihat persoalan dengan lebih luas.
Sekarang ini kita sedang dihebohkan urusan pakan ternak. Oleh karena input yang keliru, tiba-tiba ada kebijakan melarang impor jagung untuk pakan. Alasannya produksi dalam negeri melimpah dan peternak serta perusahaan pakan ternak sebaiknya menggunakan hasil petani lokal.
Persis ketika tahun lalu, kita memperkirakan produksi padi meningkat, sehingga tidak perlu impor. Ternyata basis data yang dikeluarkan tidak akurat. Akibatnya sempat terjadi kekurangan beras dan harga melonjak. Pemerintah akhirnya mengoreksi dengan mengeluarkan izin impor kepada Badan Urusan Logistik.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution ketika itu berniat memperbaiki data yang ada. Semua dilakukan agar pemerintah tidak keliru mengambil keputusan. Sebab, dampaknya bisa berpengaruh terhadap tingkat inflasi dan pemerintah harus membayar mahal kekeliruan yang sudah terlanjur terjadi.
Belum lagi bibir kering mengucapkan, persoalan yang hampir sama kembali terjadi. Sekarang ini terjadi pada pakan ternak. Larangan impor jagung membuat bahan utama pakan ternak langka di pasaran. Akibatnya harga jagung menjadi melonjak dan dampaknya kepada harga pakan. Tingginya harga pakan bukan hanya menyulitkan peternak, tetapi juga memberatkan konsumen karena harga ayam dan telur pun menjadi mahal.
Kekacauan pada rantai produksi peternakan unggas sekarang ini tidak bisa dianggap enteng. Masalahnya yang terganggu banyak pihak mulai dari konsumen, peternak, hingga pengusaha pakan ternak. Konsumen terganggu oleh harga ayam dan telur yang mahal, peternak terganggu oleh langka dan mahalnya pakan ternak, sementara pengusaha pakan direpotkan oleh tidak adanya bahan baku.
Padahal unggas merupakan usaha yang dikerjakan mulai pengusaha kecil hingga besar. Daging ayam dan telur selama ini mampu dicukupi oleh produk peternak dalam negeri. Bahkan kita mampu menjadikan unggas sebagai salah satu ekspor peternakan.
Sekarang banyak pihak yang terganggu bisnisnya. Terutama peternak kecil dan menengah banyak yang terpaksa menghentikan kegiatannya. Penyebabnya, karena kita salah dalam melihat budidaya jagung yang dikembangkan petani. Sentral jagung nasional seperti Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bukanlah sentral yang menjadikan jagung sebagai tanaman utama. Jagung yang kita kembangkan umumnya ditanam dengan cara tumpang sari.
Produktivitas jagung kita juga berbeda dengan jagung di Thailand, Brasil, atau Amerika. Mereka menanam jagung memang khusus untuk pakan ternak yang bijiannya lebih keras dan produktivitasnya tinggi. Jagung ditanam di hamparan lahan yang luas dan dikelola dengan mekanisasi tinggi.
Sepanjang budidaya jagung masih seperti sekarang, maka kita tidak mungkin melakukan swasembada jagung. Apalagi lahan yang dimiliki petani kita sangatlah terbatas. Kalau mereka harus memilih untuk melakukan tanaman, pasti mereka akan memilih padi daripada jagung, karena harga jual yang lebih tinggi.
Penting bagi para pengambil keputusan memahami kehidupan petani dan memiliki data yang benar. Kalau tidak kita seakan membela petani, tetapi mengganggu sistem yang lebih besar.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved