Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sihir Naga

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/2/2016 06:00
Sihir Naga
(ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

TIONGKOK ialah cerita purbani yang terus tumbuh dalam memori dan sihir masa kini yang terus menggugah imajinasi. Ia bukan semata kenangan tapi justru tantangan yang menggairahkan. Ia tak serupa Yunani, yang punya masa lalu yang gemilang, tapi Negeri Para Dewa itu kini seperti tak terkoneksi dengan sejarah dan para pemikirnya yang agung. Arkaisme Tiongkok justru amat bersambung dengan realitas hari ini. Kata banyak pengagumnya, kemajuan Tiongkok hari ini ialah sebuah kenicayaan!

Kalam sejarah Negeri Naga itu bercerita, betapa calon pemimpin di zaman klasik diuji kejujuran, keterampilan kesatria (berperang), menghapal sajak para pujangga dan menjelaskan arti berbait-bait puisi. Para pemimpin Tiongkok di zaman lama tak boleh jiwanya suwung dan pengetahuannya tak berjejak pada nilai-nilai masyarakatnya. Sastra tak hanya bicara mimpi, nilai-nilai kehidupan, tapi juga fantasi masa depan. Itu sebabnya cerita para leluhur tak dikubur tapi ditempatkan pada posisi luhur. Ia sumber nilai kebajikan.

Jelas, Tiongkok tak maju dari ruang hampa. Akan tetapi, juga tak jemawa dan merasa cukup dari sejarahnya. Justru sejarahnya yang kelam pada Revolusi Kebudayaan ala Mao Zedong yang, yang mematikan puluhan juta penduduknya, jadi pelajaran berharga: menyatukan bangsa. Negeri ini pun jujur, belajar pengendalian dari Jepang, kegigihan dari orang Korea, akurasi dari orang Jerman, dan strategi pemasaran dari orang Amerika. Inilah akulturasi nilai-nilai unggul. Bukankah di masa lalu Tiongkok punya pengaruh besar dalam relasi kebudayaan Asia Timur, terutama Jepang dan Korea?

Mao yang menyatukan, Deng Xiaoping memompakan spirit berniaga. Ilmu dan teknologi Barat yang menjejakkan efisiensi terus dipelajari. Dalam The Chinese Century, Oded Shenkar mengutip Intitute of International Education, pada 2002-2003 saja dari daratan Tiongkok lebih 64.000 mahasiswa belajar di berbagai perguruan tinggi Amerika. Lebih dari 100.000 mahasiswa belajar di Eropa, Australia, Jepang, dan puluhan ribu lagi belajar di negara-negara lain. Ini belum termasuk mahasiswa dari Hong Kong dan Taiwan yang mencapai lebih dari 30.000 ribu. Angka ini jelas terus meningkat saban tahun.

(Sementara di Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana sejak tahun 1970-an berteriak, pentingnya negara lebih banyak mengirim mahasiswa ke Eropa dan Amerika, menjadi hasrat yang tak bersambut). Pemerintah Tiongkok kemudian menawarkan faslitas tinggi bagi lulusan terbaik luar negeri untuk kembali. Namun, kemajuan negeri itu membuat mereka kemudian kembali dengan kesadaran sendiri. Mereka ingin 'mengabdi' demi negeri yang dicintai. Di samping itu, negeri ini juga rajin membujuk sarjana-sarajana terbaik luar negeri untuk mengisi pusat-pusat penelitian kelas dunia. Jadilah Tiongkok hari ini raksasa dunia sesesungguhnya dengan cadangan devisa 3,89 triliun dolar Amerika (Desember 2015). Inilah satu-satunya negara yang mampu memproduksi barang dengan teknologi tinggi hingga perkakas rumah tangga yang tertumpu pada padat karya. Sebutlah sembarang benda, Tiongkok pasti memproduksinya.

Oded Shenkar yang selama 30 tahun menekuni China, melihat dibandingkan dengan negara mana pun kemajuan tiongkok ungguh yang paling dramatis. Negeri ini bisa mempercepat kemajuan yang pernah di lakukan Amerika, Jepang, dan Kore Selatan. Shenkar sampai pada kesimpulan, apa pun problem yang menerpa negeri itu, memang bisa menghambat, tapi tak bisa menghentikkan laju negeri berpenduduk 1,4 juta manusia itu. (Jangan lupa masih ada , 40 juta diaspora China di berbagai belahan dunia, yang menjadi berkah negeri itu).

John Naisbitt dan Doris (Naisbitt) pastilah yang paling memuja Tiongkok. Dalam China's Megatrends, ia menulis salah satu kunci sukses Tiongkok ialah para pemimpinnya mampu bekerja efisien untuk menyiapkan masa depan. Ini bisa terjadi karena Tiongkok tak menghabiskan energi untuk mengurus politik, tak dipusingkan pemilihan umum, pergantian partai dan pemimpin yang berkuasa. Tak ada berdemonstrasi menuntut berbagai urusan, seperti galibnya di negeri-negeri yang mempraktekkan demokrasi liberal. Dan, negeri ini juga keras berperang melawan korupsi.

Kini negara mana yang bisa menghindar dari Tiongkok? Terlebih Indonesia sebagai negara pasar, konsumen yang hanya menunggu. Apa saja yang serba Cina, terutama barang industri, yang dulu menjadi sumber olok-olok sebagai benda kasta sudra, kini jelas harus total dikoreksi. Jelas bedanya Tiongkok raksasa produksi, Indonesia raksasa konsumsi.

Tahun Baru China, Imlek, yang mendapat ‘kemerdekaan’ perayaan semasa Presiden Abdurrahman Wahid, mestinya menjadi berkah, bukan sekadar perayaan , saling berucap Gong Xi Fat Cai. Bagi kita ini mestinya inspirasi membangun diri. Kini belajar dari China tak lagi jauh seperti dulu, seperti sering kita dengar dari para ulama.***



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.