Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah kabupaten di sebuah pulau, seorang kepala daerah punya kebijakan populis. Ia dekat dengan rakyat. Telepon selulernya tak pernah berhenti berdering saban hari. “Dari rakyat yang rindu,” katanya. Warga kerap mengerubutinya jika ia hadir di sebuah tempat, untuk sekadar melihat wajah dan mencium tangan pemimpinnya.
Ia punya tiga filosofi yang membimbing hidupnya. Pertama, filosofi lebah. Menghasilkan madu (manfaat) bagi rakyat. Pemimpin harus berada di tengah rakyatnya, tak boleh berjarak. Jarak bisa berubah jadi prasangka. Ia ibarat ilalang kering, mudah terbakar. Kedua, filosofi batu karang. Biar dihantam musuh dari delapan penjuru angin, ia kukuh belaka. Sebagai petahana, ia terpilih kembali dengan perolehan suara tinggi. Ketiga, filosofi lilin. Ia menerangi mereka yang dikepung kegelapan meski tubuhnya meleleh.
Ia Syaukani HR. Waktu itu menjabat Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tiga filosofinya luruh. Dugaan, sangkaan, dakwaan, dan vonis mengantarkannnya sebagai narapidana korupsi. Lebah itu tak lagi dikerumuni. Batu karang itu remuk redam. Lilin itu padam, tubuhnya lumer, tak ada lagi sisa nyala api.
Di lain daerah, lain pulau, seorang kepala daerah juga menjadi karang hancur. Padahal, ihwal hidupnya penuh inspirasi. Ia yang tumbuh dari keluarga papa menempa diri menjadi saudagar ketika muda usia. Suara mengajinya yang memukau dan kerja kerasnya dalam berwirausaha menjadikan ia serupa model ideal anak muda di daerahnya. Namanya membubung. Ia masuk politik mencoba peruntungan calon bupati. Ia sukses menjadi bupati. Daerahnya pun naik kelas melompati beberapa tingkatan.
Reputasinya yang berkilau menjadi tiket meraih peruntungan berikutnya. Ia jadi gubernur termuda waktu itu. Ia umumkan Visi Riau 2020 sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Semboyan ‘Esa hilang dua terbilang, takkan Melayu hilang di bumi’ digemakan kembali. Korupsi mengantarkannya ke bui. Ia Rusli Zainal, Gubernur Riau.
Di pulau lain lagi, cerita serupa terjadi. Kita pun tak percaya. Seorang bupati yang amat cemerlang masuk bui. Ada banyak yang menitikkan air mata. Ia pengusaha yang jadi pemimpin penuh visi, perintis rupa-rupa inovasi, antara lain pembuatan KTP tercepat (3 menit), pusat pelayanan terpadu, sistem daring hinggga ke desa-desa, pengembangan padi organik hingga menembus ekspor Timur Tengah. Peraih enam kali Adipura, penerima aneka penghargaan dari dalam dan luar negeri. Pusat pun menganjurkan para kepala daerah belajar darinya. Ia Untung Wiyono, Bupati Sragen (2001-2011), Jateng.
Masih ada cerita serupa itu. Mereka yang gigih merintis hidup lewat jalan terjal, menundukkannya, jadi inspirasi, menggenggam kekuasaan, lalu terjerembap. Mereka bisa beramsal dengan filosofi apa saja: lebah, lilin, karang, pohon kelapa, matahari, bintang, dan seterusnya. Mereka memang pernah jadi ‘bintang’ pada masanya.
Kini juga muncul beberapa pemimpin daerah penuh inspirasi. Mereka ‘bintang’ harapan. Namun, ingat, kekuasaan itu ‘memabukkan’ kata Al-Ghazali. Lord Acton menguatkan, “Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang absolut pasti korup absolut.” Saya kira, belajar dari para ‘bintang’ yang tumbang, khususnya KPK yang akan fokus pada pencegahan, amat penting menjaga mereka agar kekuasaan tetap menyehatkan sebab bermanfaat bagi umat. Juga Ombudsman, yang aksi-aksinya belum punya fibrasi, harus lebih berani mengawasi birokrasi di segala lini. Kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, meski indeks persepsi korupsi Indonesia 2015 membaik, reformasi birokrasi belum menyentuh substansi. Itu juga sebuah upaya ‘menjaga bintang’. Terlalu sayang potensi mereka hilang, bahkan tak layak untuk dikenang.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved