Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI

DI perkebunan Walini, Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti tanda dimulainya pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta. Dari Walini, Presiden menyampaikan bangsa yang akan menjadi pemenang dalam era kompetisi ialah mereka yang bisa mengambil keputusan cepat dan melaksanakan pembangunan secara cepat.
Kita tidak menutup mata bahwa kita hidup di era serbacepat. Hanya, untuk menjadi pemenang kita harus ditopang manusia-manusia berkualitas. Kita tak boleh berhenti menempa bangsa ini menjadi bangsa pembelajar. Kita harus menjadi negara produsen, bukan hanya konsumen.
Dalam pembangunan kereta cepat, kita jangan sekadar menjadi konsumen. Kita hanya bangga menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kereta cepat, tetapi tidak ada nilai tambah yang bisa kita petik dari keberadaan kereta cepat itu.
Untuk itu, bangsa Indonesia harus dipacu untuk menguasai teknologi. Perguruan-perguruan tinggi harus dipaksa mempelajari teknologi agar bisa memancing para mahasiswa mendalami dan menguasai teknologi. Dengan itulah, kita berharap suatu saat menjadi negara produsen. Kita masih ingat pada 1960-an ketika kita pertama kali membangun pabrik semen di Gresik. Saat itu, kita bersama-sama India memulai industrialisasi. Hanya, demi mengejar kecepatan kita memilih cara turn-key project, sedangkan India memilih ikut terlibat dalam proses pembangunannya.
Memang, kita kemudian mampu lebih cepat memiliki pabrik semen ketimbang India. Namun, India memperoleh pelajaran berharga dari proses pembangunan pabrik semen sehingga pabrik kedua dan ketiga bisa dibangun sendiri oleh bangsa India. Kita bertahun-tahun bergantung pada negara lain dan terpaksa membeli lagi teknologi negara lain ketika hendak membangun pabrik semen berikutnya.
Kita tentu harus menarik pelajaran dari kesalahan masa lalu. Kita harus menjadi bangsa pembelajar karena dengan itulah, kita akan bisa menjadi bangsa besar. Tidak ada yang salah kita memulai jalan dengan meniru. Jepang, Korea, dan Tiongkok bisa menguasai teknologi tinggi dimulai dengan meniru. Tetapi kemudian melanjutkan dengan mendalami dan juga mengembangkan produk yang mereka tiru itu.
Kereta cepat yang kita beli dari Tiongkok bukanlah murni penemuan mereka. Kalau kita lihat sejarahnya, mimpi pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping untuk memiliki kereta cepat baru coba direalisasikan di zaman Presiden Jiang Zemin. Perdana Menteri Zhu Rongji meminta produsen kereta cepat dari Jerman, Jepang, dan Prancis untuk mempresentasikan teknologi mereka. Ternyata Tiongkok kemudian memilih untuk membuat sendiri dengan memadukan teknologi yang dibeli dari Alstom, Prancis, Siemens, Jerman, Bombardier, Kanada, dan Kawasaki Heavy Industries, Jepang.
Pertanyaannya, apakah kita bisa secerdik Tiongkok dalam soal kereta cepat? Itulah yang harus jujur kita jawab. Apakah pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta merupakan mimpi sesaat atau sejak lama? Apa strategi yang disiapkan agar kita bisa menguasai teknologinya dan menjadi produsen kereta cepat? Sudahkah kita siapkan orang-orang untuk menguasai teknologi?
Era serbacepat tidak cukup ditandai keputusan cepat, tetapi juga harus disertai kecerdikan agar kita tidak terbawa arus. Kelak sejarah akan membuktikan, apakah kita mampu mentransformasikan diri menjadi bangsa pembelajar atau sebaliknya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved