Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAJARAN itu bernama Muhammad Kusrin. Pelajaran bahwa kreativitas dan semangat kewirausahaan lelaki yang hanya tamat sekolah dasar itu bukannya difasilitasi, tapi justru dipenjara.
Pelajaran bahwa negara alpa--mungkin sengaja--tak 'membina' warganya yang pantang menyerah.
Untunglah lelaki berbadan kecil ini tak bermental kerdil.
Kisah hidupnya yang pedih sejak kanak-kanak dan mampu ditaklukannya menjadikan Kusrin mempunyai harga.
Itu sebabnya, ketika bekas kuli bangunan ini bersama sang istri, Siti Aminah, diterima Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Senin (25/1), saya gembira.
Akan tetapi, segera pula membayang ketika ia digelandang polisi, Mei tahun lalu, dan lebih dari 100 televisi rakitannya dimusnahkan.
Padahal, televisi hasil daur ulang dari tabung-tabung komputer dan televisi bekas itulah napas hidupnya.
Juga napas hidup puluhan karyawannya.
Saya membayangkan pula ketika palu hakim berdentam.
Ia dinyatakan melanggar konstitusi yang mengatur industri dan regulasi soal Standar Nasional Indonesia (SNI).
Hukum yang angkuh. Benar tak pandang bulu, tetapi alpa tak menyelisik ihwal usaha kecil yang dibangun dengan semangat kewirausahaan yang tinggi.
Justru kenapa negara, pemerintah setempat, tak hadir membina? Negara justru hadir untuk memenjara.
"Saya sebenarnya sudah berupaya mencari-cari informasi, tapi tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan label SNI," kata Kusrin bercerita.
Ketika itu di bawah bendera UD Haris Elektronika, produksi televisi rakitan Kusrin mencapai 100 unit setiap hari.
Dengan jumlah karyawan 30 orang, produknya tak hanya ada di kabupatennya, Karanganyar, Jawa Tengah, tetapi telah melebar ke Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.
Wajar jika kepedihannya begitu dalam. Tiga tahun sebelumnya, usahanya juga nyaris jatuh karena ada penggelapan dari bagian pemasaran.
Setelah kasus itu, seperti diakui sang istri, setiap melihat orang yang tak dikenalnya jadi trauma.
Kita mafhum, meski pasar televisi rakitan Kusrin sudah menyebar di beberapa kota di Jawa Tengah, lelaki dari Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, ini pastilah tak mudah menghimpun kembali semangatnya.
"Istri sayalah yang selalu menguatkan saya," kata lelaki kelahiran 36 tahun silam itu.
Tentu saja, kini Kusrin telah memegang label SNI.
Televisi merek Maxreen yang diambil dari nama dirinya, Mas Kusrin, juga Zener dan Veloz, dinilai Menteri Perindustrian Saleh Husin punya mutu tinggi, tak kalah dengan merek lain.
Bahkan, ia siap memproduksi televisi yang lebih canggih jika pasar memintanya.
Akan tetapi, pasarnya tak bertabrakan dengan televisi pabrikan.
Harga jualnya per unit Rp400 ribu-Rp500 ribu. Jerih payah Kusrin akhirnya terlihat dan bahkan diapresiasi Kepala Negara.
Pemerintah akan segera membantu mengurus patennya.
Presiden secara pribadi juga memberi bantuan materiil. Bantuan Presiden tentu pantas diterima Kusrin.
Namun, tak boleh lagi ada potensi kreatif seperti Kusrin harus dikenal pucuk pimpinan negara karena penjara.
Bagaimana jika Kusrin menyerah?
Negara tak hanya kehilangan seorang yang punya potensi, tapi juga kehilangan 'sumber' yang bisa mengins-pirasi ribuan, bahkan jutaan orang.
Sekali lagi, Kusrin adalah sebuah pelajaran, bahwa negara tak boleh lagi hanya duduk manis menunggu bola, menunggu laporan.
Bola ada di lapangan.
Kita percaya masih banyak orang seperti Kusrin, yang terus 'menyalakan lilin' untuk menerangi negeri ini.
Cukuplah pelajaran itu dipikul oleh Kusrin.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved