Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUKAH kapasitas terpasang pembangkit listrik yang kita miliki sepanjang 70 tahun merdeka?
Total daya yang kita miliki sekitar 47 gigawatt.
Rata-rata, tiap tahun kita hanya mampu membangun sekitar 670 Mw.
Jumlah itu tentu sangat tidak memadai untuk negara dengan penduduk 250 juta jiwa. Apalagi, tingkat pertumbuhan permintaan sekitar 8,8%.
Tidak usah heran apabila konsumsi listrik per kapita kita hanya 0,8 Mwh, lebih rendah daripada Vietnam dan Thailand.
Itu pun hanya 84% warga kita yang menikmati listrik.
Masalah makin parah oleh terbatasnya jaringan transmisi.
Sebanyak 40% listrik di Jawa Timur, misalnya, tidak bisa termanfaatkan karena ketiadaan jaringan transmisi.
Padahal, kapasitas listrik di Jatim mencapai 9 ribu Mw. Itu pemborosan luar biasa.
Atas dasar itulah, rencana pembangunan pembangkit listrik 42 Gw dalam 5 tahun ke depan dikatakan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir tidak ubahnya seperti membangun PLN kedua.
Itu merupakan pekerjaan raksasa karena kita akan melompat dari kemampuan membangun pembangkit listrik rata-rata 670 Mw menjadi rata-rata 8 ribu Mw.
Lebih dari 10 kali lipat per tahun.
Belum lagi jaringan transmisi yang harus dibangun minimal 9 ribu kilometer per tahun.
Total investasi yang dibutuhkan sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.000 triliun.
Dari rencana itu, PLN membangun 10 Gw, sisanya diserahkan kepada swasta.
Memang sempat muncul pertanyaan tentang perlunya kita membangun pembangkit listrik sebesar itu.
Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli sempat menuduh rencana itu sebagai rekayasa orang yang berbisnis di industri kelistrikan dan hanya akan membebani PLN.
Namun, Dirut PLN mengatakan jumlah itu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi karena negara mempunyai kewajiban memenuhi target elektrifikasi 94% pada 2019.
Dengan jumlah tambahan kapasitas seperti itu pun, konsumsi listrik per kapita bangsa Indonesia tetap pada angka 0,8 Mwh.
Kini pekerjaan rumah kita tidak memperdebatkan target pembangunan pembangkit listrik, tetapi bagaimana memecahkan berbagai kendala.
Persoalannya sangat beragam, mulai dari teknologi, pilihan energi, pendanaan, ketersediaan lahan, dukungan masyarakat, sampai soal hukum.
Sofyan Basir mencontohkan persoalan hukum terkait dengan pembebasan lahan.
Ada tiga titik di Jawa Tengah yang harus dilewati untuk membangun menara tranmisi.
Masyarakat menolak jika harga pembebasan lahan berdasarkan nilai jual objek pajak.
Kalau tak dipenuhi, jaringan transmisi tidak akan terbangun dan listrik yang dihasilkan tidak akan bisa dimanfaatkan.
Kalau permintaan warga dipenuhi, pegawai PLN bisa dianggap merugikan keuangan negara.
Lalu, disepakati mengikuti harga permintaan warga dengan disaksikan aparat kepolisian, kejaksaan, dan pengawas keuangan.
Namun, tak lama kemudian pegawai PLN diperkarakan melakukan tindak korupsi.
Sejak kasus itu, tidak ada lagi pegawai PLN yang mau mengambil risiko.
Rencana pembangunan PLN jilid II memang langkah revolusioner. Untuk itu, harus ada keberanian dari bangsa ini untuk melakukan lompatan besar.
Jika tidak, kita akan terus hidup dalam 'kegelapan'. Apalagi, pembangunan itu membutuhkan 301.300 km konduktor aluminium, 2.600 set trafo, dan 3,5 juta ton baja.
Itu merupakan peluang bagi industri dalam negeri.
Tenaga kerja yang akan terserap langsung 650 ribu orang, dan tidak langsung 3 juta orang.
Ini pekerjaan raksasa dari bangsa ini.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved