Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

70 Tahun

15/4/2015 00:00
70 Tahun
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

ADA yang sama antara Indonesia dan Korea Selatan. Tahun ini keduanya akan merayakan kemerdekaan ke-70. Indonesia dan Korsel sama-sama menyatakan kemerdekaan begitu Perang Dunia II berakhir. Keduanya tak memiliki apa-apa ketika pertama kali merdeka. Bahkan, karena menjadi bagian dari perang Jepang melawan Sekutu, keadaan kedua negara boleh dikatakan porak-peranda.

Penderitaan Indonesia dan Korsel bertambah oleh konflik internal. Indonesia dihadapkan pada pemberontakan PKI Muso (1948), PRRI/Permesta, dan PKI 1965. Korsel menghadapi agresi Korea Utara pada 1953, saat 2 juta orang menjadi korban. Indonesia lebih beruntung karena konflik itu tidak berujung perpecahan. Korsel harus membagi dua wilayah dengan saudaranya di Utara, bahkan hingga kini bermusuhan. Satu hal yang membedakan, kesulitan yang dihadapi membuat Korea tangguh. Mereka mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan sejak 1980-an berubah menjadi negara industri maju.

Korsel kini menjadi kekuatan ekonomi nomor 10 di dunia. Padahal, Korsel tidak seperti Korea Utara yang memiliki sumber daya alam melimpah. Sejak awal, Utara-lah yang dijadikan Jepang sebagai kawasan industri. Seperti halnya Singapura, Korsel menjadi model bahwa kemajuan sebuah negara tidak ditentukan seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, tapi oleh seberapa banyak manusia berkualitas yang dimiliki.

Saat saya menanyakan kunci keberhasilan Korea membangun negaranya, Presiden Daewoo Logistic Corp, Ahn Yong-nam, mengatakan Korea memulai dengan mendidik manusia. Setelah itu, membangun industri dari industri dasar. Pabrik baja di Pohang menjadi cikal bakalnya. Bung Karno sebenarnya melakukan hal yang sama. Ia mengirim ribuan anak muda Indonesia menimba ilmu di Amerika dan Eropa Timur. Mereka di antaranya dididik menguasai ilmu metalurgi agar mampu membangun industri dasar. Pabrik baja yang sama dengan Korsel dibangun Bung Karno di Cilegon.

Sayang, ketika terjadi Gerakan PKI, anak-anak Indonesia yang belajar di Eropa Timur dianggap bagian dari komunisme. Mereka tidak berani pulang. Banyak di antara mereka menjadi andalan pembangunan industri dasar di Eropa Timur.

Kita kemudian lupa melanjutkan konsep pembangunan yang digagas Bung Karno. Akibatnya, kita tidak pernah mandiri dalam membangun industri. Sejak Orde Baru, kita selalu dihadapkan pada defisit neraca transaksi berjalan ketika memacu pembangunan.

Penyebabnya kita tidak memiliki industri barang modal dan terpaksa harus mengimpor ketika butuh mesin. Menurut Ahn, Indonesia harus menguasai industri dasar apabila ingin menjadi negara industri. Tidak mungkin Indonesia hanya mengandalkan komoditas yang tidak diolah.

Kuncinya harus ada cetak biru tentang industri apa yang akan menjadi andalan Indonesia. Lalu, manusia seperti apa yang harus disiapkan untuk menghadapi itu. Hanya dengan pemimpin yang jelas visinya dan memiliki kemauan kuat melaksanakannya, Indonesia maju akan bisa tercapai.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.