Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Magnet Talenta

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
21/1/2016 05:25
Magnet Talenta
(AFP/POOL/Jacquelyn Martin)

SEBUAH kabar bagus perihal Indonesia dilansir INSEAD, sekolah bisnis terkemuka Prancis. Isinya, Indonesia termasuk negeri magnet talenta baru ‎(new 'talent magnet') yang tengah bangkit.

Penilaian menggembirakan itu disampaikan dalam satu nafas ketika INSEAD mengumumkan Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2015-2016 di World Economic Forum (WEF), Davos, Switzerland, Selasa (19/1). Kali ini GTCI meliputi 109 negara, lebih banyak dari tahun sebelumnya (93 negara), mewakili 83,8% penduduk dunia serta 96,2% GDP dunia. Sebuah keteriwakilan yang signifikan.
Hasilnya, Switzerland merupakan magnet terhebat menarik talenta, disusul tempat kedua Singapura, dan tempat ketiga Luxembourg. Susunan itu tidak berubah dibanding tahun sebelumnya. Selebihnya yang masuk dalam 10 besar, berurutan ialah ‎AS, Denmark, Swedia, Inggris, Norwegia, Kanada, dan Finlandia.
AS, Singapura, dan Switzeland telah lama menjadi penarik talenta. Adapun persaingan ketat bakal terjadi antara Indonesia, Jordan, Chili, Korea Selatan, Rwanda, dan Azerbaijan, sebagai negara tujuan baru talenta.
Tema GTCI tahun ini mencari korelasi antara daya tarik talenta suatu negara dengan kesejahteraan ekonomi. Postulat yang dipakai ialah negara bermagnet kuatlah yang menarik orang-orang bertalenta, tenaga kerja berkeahlian. Dalam perspektif itu, mobilitas merupakan bahan/ramuan kunci perkembangan talenta. Talenta kreatif tidak dapat sepenuhnya berkembang, jika mobilitas international dan sirkulasi orang pintar (brain circulation) tidak didorong.
Singapura, misalnya, meraih posisi ke-2 tertinggi atas kemampuannya menarik talenta dan merawatnya berkat keterbukaan bisnis dan kualitas hidup yang tinggi. Akan tetapi, indikator toleransi terhadap kaum migran, kinerjanya relatif jelek. Namun Singapura dinilai masih memiliki ruang cukup luas untuk menjaring orang-orang berketerampilan kejuruan (vocational skills).
Sampai saat ini, Singapura satu-satunya negara ASEAN masuk dalam 10 besar. Tak selamanya posisi itu dapat dipertahankan. GTCI, yang dikerjakan INSEAD bekerja sama dengan Adecco Group dan Human Capital Leadership Institute of Singapore, menilai bahwa Singapura akan menghadapi persaingan keras bila mobilitas talenta berjalan penuh dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC). Persaingan itu berasal dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Dua negara terakhir disebut telah mulai menarik investor international berkat kemampuannya memikat talenta kreatif dengan ongkos masuk akal.
Negara berkembang langka keahlian kejuruan, dalam kompetisi bebas, dapat diisi talenta dari berbagai penjuru dunia. ‎Dalam konteks regional, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015, membuat Indonesia menjadi terbuka bagi mobilitas orang-orang berkeahlian khusus dan mobilitas orang-orang pintar dari negara ASEAN lainnya. Profesi atau pekerjaan yang kemarin tertutup untuk tenaga asing, kini terbuka lebar. Demikian pula sebaliknya, anak bangsa yang talentanya mampu bersaing dapat bermigrasi ke negara lain.
Daya saing talenta anak bangsa sendiri yang dihasilkan suatu negara, kemampuannya ‎menjadi magnet untuk menarik talenta dari negara lain, menjadi salah satu faktor pemacu pertumbuhan dan membaiknya kesejahteraan. Kenapa takut? Talenta ASEAN yang ingin masuk ke Indonesia dapat disyaratkan harus mampu berbahasa Indonesia. Sebaliknya, kita pun harus pula bisa menyiapkan talenta-talenta bukan saja bagus berbahasa Inggris, tetapi juga misalnya berbahasa Tagalog untuk pasar Filipina atau berbahasa Vietnamese (Austroasiatic language), untuk Vietnam. Kehidupan ini akhirnya bebas bersaing berazaskan reciprocal, timbal balik.
‎Meningkatnya magnet Indonesia untuk menarik talenta dalam kompetisi global, sebaiknya dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Itulah sebabnya, penilaian yang dilansir INSEAD merupakan kabar bagus. Bukankah jago kandang tunggu waktu saja babak belur? Mana ada talenta global tumbuh berkembang di bawah tempurung.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.