Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ALI Fauzi, sang bekas teroris, bercerita tentang kemakmuran hidupnya dulu. Adik kandung Amrozi dan Mukhlas, bomber Bali 1, itu mengaku saat aktif jadi teroris kondisi keuangannya berkecukupan. Tabungannya menggelembung hingga miliaran rupiah. Ia bebas menggunakannya tanpa harus membuat laporan pertanggungjawaban. Namun, seperti umumnya pelaku durjana, hidupnya tak tenang. Ia dikepung ketakutan bertumpuk-tumpuk. Energinya terkuras untuk mengubur rasa bersalah.
"Dulu saya enggak tenang, ke sana-kemari dibuntuti. Masuk ke Indonesia takut ditangkap. Beda dengan sekarang. Saya gemuk karena sudah tenang. Saya fokus ke keluarga dan aktif di masyarakat," katanya dalam sebuah dialog pencegahan terorisme di kalangan pendidik, di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, November tahun lalu.
Trio pelaku bom Bali I (Oktober 2002), Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra, yang menewaskan 202 orang dan melukai 209 dieksekusi mati di Bukit Nirbaya, Nusa Kambangan, enam tahun kemudian. Meski uang melimpah, Ali Fauzi, sang instruktur bom Jamaah Islamiyah, menyatakan undur dari organisasi penebar ketakutan itu. Nasihat Ali Imron (salah satu kakaknya), perlakuan manusiawi polisi dan Kementerian Agama, dan jatuhnya banyak korban meluruhkan keyakinan jihad yang keliru itu. "Para teroris itu melakukan bom bukan ingin melihat berapa jumlah orang yang mati, melainkan ingin lihat Indonesia hancur," kata Ali yang kini duta perdamaian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Ali Fauzi benar. Bom-bom selanjutnya memang membuat wajah Indonesia babak belur meski tak hancur. Akan tetapi, teror di Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis pekan silam, yang amatiran itu, alih-alih membuat kita takut, bahkan menjadi olok-olok. Selain mudah dilumpuhkan polisi dan TNI, warga Jakarta melawan dengan aneka cara. Tagar #KamitidakTakut di media sosial jelas yang paling lugas dan menantang. Aneka olok-olok yang lucu lewat meme bisa jadi ekspresi sikap santai warga Jakarta. Namun, bisa jadi benar, keberanian juga bisa muncul dari rasa takut. Rasa takut yang mengental justru bukti tujuan teror berhasil.
Jangan lupa, bom Thamrin juga sebuah penanda. Sebuah 'maklumat' bahwa jaringan Islamic States di Asia Tenggara ada dan beraktivitas. Bahkan, ada yang mengingatkan kita jangan terlena. Jangan kelewat mengolok-olok dan lupa antisipasi bahaya yang berpotensi membuat kita binasa. Jangan-jangan 'gaya amatiran' itu bagian dari strategi. IS yang rapi organisasinya, amat ketat menerima calon anggota, dan mampu menggaji tinggi para 'mujahid'-nya pasti tak mau merugi.
Fakta itu jelas. IS, yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi, seperti tengah menjadi 'demam' dunia. Propaganda mereka lewat sedikitnya 2.700 situs web mampu memikat banyak peminat. Sejak didirikan pada 2013, sedikitnya kini organisasi penebar ketakutan itu mempunyai 22 ribu anggota dari berbagai negara. IS menawarkan kembali gagasan kejayaan Islam untuk meneguhkan khilafah islamiah. Iming-iming 'surga' plus gaji tinggi pastilah jadi magnet yang amat kuat. Mereka yang beragama dan berbangsa dengan jalur sempit, serupa tumbu (bakul besar) ketemu tutup, klop.
Hukum, undang-undang, rumah penjara, ceramah-ceramah agama, deradikalisasi, distribusi ekonomi berkeadilan, dan pendidikan berkualitas mestinya jadi jalan sempit bagi para teroris dan simpatisan mereka melakukan aksi kembali. Jika benar para mantan narapidana teroris, seperti Bahrun Naim, justru jadi kian punya perbawa dalam jaringan perbuatan durjana, hukum dan penjara di negeri ini terbukti tak menjerakan. Ia justru mengukuhkan. Mestinya itu tak boleh terjadi. Negara harus lebih banyak lagi menjadikan mereka mengikuti jejak Ali Fauzi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved