Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITISI senior, terlebih veteran, kiranya penting membaca perubahan aspirasi kaum muda. Itulah yang terjadi di Taiwan dua hari lalu. Pemilu 16 Januari 2016 menghasilkan perubahan bersejarah dalam dua dimensi sekaligus, eksekutif dan legislatif. Partai berkuasa di parlemen dan presiden yang diusung ditumbangkan serentak, sekali pukul. Kursi di parlemen terkuras, kursi presiden lenyap.
Partai berkuasa, Kuomintang, hanya meraih 35 dari 113 kursi. Sebelumnya menduduki 64 kursi hasil Pemilu 2012. Partai berkuasa itu dijungkirkan partai oposisi Democratic Progressive Party (DPP) yang mendulang 68 kursi dari sebelumnya 40 kursi. Perlu dicatat, partai baru New Power Party (NPP) yang didirikan aktivis muda, antara lain penyanyi band metal Freddy Lim, mendapat 5 kursi, mengalahkan empat partai lama lainnya yang total hanya mendapat 5 kursi. Termasuk, Taiwan Solidarity Union yang bahkan tersingkir habis.
Partai oposisi DPP juga membuat sejarah dalam dimensi gender. Bukan saja memenangi kursi presiden, DPP menjadikan Tsai Ing-wen sebagai presiden perempuan pertama hasil pemilu langsung. Perempuan berusia 59 tahun, tidak kawin, berasal dari rakyat biasa (bukan dinasti), guru besar hukum lulusan National Taiwan University, Cornell University, dan London School of Economics and Political Science itu meraih 56,12% suara, menumbangkan capres Eric Chu dari partai berkuasa Kuomintang (31,04%) dan James Soong dari People First Party (12,84%).
Hasil riset menunjukkan orang muda ingin melihat wajah baru dan suara baru yang menawarkan perubahan. Ada yang membahasakannya people power masuk ke parlemen.
Terpilihnya presiden baru, disertai perubahan kekuasaan, membuat presiden terpilih Tsai Ing-wen dapat melakukan perubahan tanpa direcoki oposisi. Kuomintang, yang sejak pemilu langsung di Taiwan diselenggarakan (1992), berkuasa mayoritas di parlemen, untuk pertama kali giginya rontok (hilang 26,63% kursi).
Bukan saja tidak berkuasa lagi di eksekutif dan legislatif, dengan kursi 30,09%, Kuomintang tak cukup kuat untuk sekadar menjadi oposisi disegani, diperhitungkan, apalagi ditakuti. Untunglah Presiden Tsai Ing-wen bukan tipe profesor otoriter. Pengagum Thatcher dan Merkel itu berpandangan, "Tanpa oposisi kuat, politik mundur."
Konstelasi terhadap Tiongkok pun berubah. Berkuasanya DPP dan terpilihnya Tsai Ing-wen membuat Tiongkok harus menerima kenyataan pahit.
Presiden Tsai mengambil garis keras independensi, berlawanan dengan Presiden Ma Ying-jeou yang digantikannya, yang November lalu bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Singapura, dan bersuara lembut, "Kita bersaudara, satu famili, satu darah."
Sebaliknya, presiden terpilih tegas mengatakan hasil pemilu manifestasi keinginan 23 juta rakyat. "Sistem demokrasi kami, identitas nasional kami, dan ruang internasional kami harus dihormati," katanya.
Menurut Straits Times, bukan Tiongkok urusan besar Tsai Ing-wen, melainkan pertumbuhan ekonomi. Taiwan tidak lagi macan Asia. Pada 1988-2000, pertumbuhan ekonomi yang 8% merosot separuhnya menjadi 4% pada 2000-2008, kini bahkan di bawah 2%. Pemilu Taiwan dua hari lalu mestinya mengusik tatanan politik di negeri ini.
Bisakah setelah tiga kali pemilu langsung memilih presiden, negeri ini punya presiden terpilih yang partainya juga menguasai mayoritas parlemen? Dengan begitu, tanpa koalisi, setidaknya tanpa koalisi berkaki banyak, presiden terpilih dapat mengusung perubahan yang didambakannya tanpa ganjalan di DPR.
Namun, di tengah masih buruknya kepercayaan rakyat kepada partai, di tengah elite partai gemar bertikai kepengurusan, tatanan baru itu kiranya masih jauh.
Bahkan, dalam tiga sampai lima pemilu lagi, belum tentu terwujud perubahan bersejarah seperti di Taiwan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved