Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Super Mega

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/4/2015 00:00
Super Mega
(Grafis/SENO)
RASA sungkan 'melawan' bisa jadi getar dari sebuah karisma pemimpin. Namun, rasa sungkan yang berlebihan dan berujung tak peduli bisa jadi musibah. Terlebih lagi, kesungkanan dan keengganan karena ia dinubuatkan bisa menjadi gangguan yang merusak ketertiban. Yang memimpin dan yang dipimpin bisa sama-sama menjadi dekaden. Kita punya sejarah tentang itu. Bung Karno ditahbiskan menjadi presiden seumur hidup, Presiden Soeharto berkuasa seperti tak terbatas. Keduanya diberi 'cek kosong' untuk mengisi Indonesia terserah mereka suka. Kita lupa vitalitas manusia punya tapal batasnya.

'Bapak Pendiri Bangsa' dan 'Bapak Pembangunan' itu sama-sama punya kisah tragis yang sama. Mereka diturunkan dengan tsunami caci maki. Rasa sungkan elite politik kita 'melawan' menjadi racun mematikan. Dalam skala yang berbeda, saya melihat bahaya itu juga pada PDIP di bawah Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri. Tanpa pidato pertanggungjawaban, ia dikukuhkan kembali sebagai Ketua Umum PDIP dalam kongres IV di Bali, Jumat (10/4). Itulah yang disebut Mega sebagai budaya politik baru, yakni proses konsolidasi yang bergerak dari bawah ke atas secara musyawarah. "Inilah kematangan demokrasi yang membumikan Pancasila."

Mega juga 'mempersiapkan' dua anaknya, Muhammad Prananda dan Puan Maharani, dengan masuk struktur dewan pimpinan pusat. Nama beberapa kader muda lain yang cemerlang tak tertera. Saya setuju musyawarah sebagai keluhuran demokrasi Pancasila. Tapi, partai yang mengusung nama 'demokrasi' ini seperti tak memberi jalan munculnya kader lain untuk bersaing dalam bursa ketua umum. Mereka sungkan, berwacana sekalipun, bersaing dengan 'sang Ibu'. Hanya Mega yang bisa menyatukan dan memajukan partai itu? Hanya genealogi Soekarno yang bisa menjadi tali perekat, yang lain bisa jadi peretas? Nujum yang menjadi paradoks demokrasi. Dalam demokrasi, soal darah (juga suku, agama, gender) menjadi nisbi.

Kapabilitaslah yang hakiki. Jika 'jalan darah' menjadi yang utama, itu cara raja-raja bertakhta. Seperti pengakuan internal PDIP sendiri, Mega kerap memikirkannya sendiri dalam menyusun kepengurusan. Kalaupun berkomunikasi, hanya dengan Puan dan Prananda. Ini Super Mega! Memikirkan sendiri atau hanya dengan dua anaknya, partai sebesar PDIP, apakah tak melancungi objektivitas? Sejarah tak akan menghapus peran penting Mega dalam demokrasi. Kita tahu, Tragedi Sabtu Kelabu (27 Juli 1996) yang mematikan para martir menjadi buhul demokrasi yang menancapkan panji-panji reformasi dua tahun kemudian. Kita hargai kini dalam usianya yang mendekati 70 tahun, ia masih bergelora memimpin partai.

Namun, harus diingatkan, Mega tak boleh membawa partai politik sebagai elemen utama demokrasi dalam Republik menjadi urusan privat, urusan keluarga. Politik adalah ruang publik. Semula, sebelum kongres, saya membayangkan Mega yang menakhodai PDIP sejak 1993 turun takhta, memercayakan kepada kader muda. Ia naik kelas menjadi negarawan. Ia menjadi Ibu bersama. Mega justru seperti amat menikmati panggung PDIP, panggung politik. Tugas presiden yang besar pun akhirnya direduksi menjadi petugas partai.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.