Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Penumpang Gelap

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
13/4/2015 00:00
Penumpang Gelap
(Grafis/SENO)
HASIL samping reformasi ialah penumpang gelap dan pencuri di tikungan. Keduanya predikat negatif menunjukkan orang tak berkarakter.  Reformasi seakan membedah anak bangsa ke dalam kategori 'aku di sini' (reformis), 'engkau di sana' (soehartois).  Padahal, faktanya sejak awal reformasi telah kemasukan penumpang yang dikategorikan 'di sana', ternyata berada 'di sini', di gerbong reformasi. Itulah yang disebut penumpang gelap. Ada pula yang jeli membaca kesempatan alias berdarah petualang. Di suatu tikungan kendaraan reformasi sedikit melambat. Di situlah yang mestinya berada 'di sana' naik dan berada 'di sini' selamanya. Itulah pencuri di tikungan.

Tapi apa guna semua predikat itu? Bolak-balik melihat ke belakang bisa tabrakan. Dari zaman kuno ada nasihat memerintah negara besar itu seperti memasak ikan kecil. Tidak boleh membaliknya terlalu sering. Sebab, ikan itu akan hancur. Lagi pula ada atau tak ada penumpang gelap dan pencuri di tikungan, reformasi gagal. Salah satu indikator ialah merebaknya korupsi. Indikator lain yang terjadi bukan cuma nepotisme, melainkan dinasti sebagai isme, hasil pilkada langsung. Reformasi gagal, tetapi rupanya tak dengan sendirinya menghapus predikat penumpang gelap dan pencuri di tikungan. Keduanya terus berlanjut dipakai hingga kini, di zaman tak jelas identitas ini.

Reformasi bukan, revitalisasi bukan, revolusi mental belum kesampaian. Perihal penumpang gelap paling mutakhir dilontarkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ketika membuka kongres di Sanur, Bali, pekan lalu. Tak jelas dan tak penting siapa yang dimaksud. Saya cuma mau menunjukkan dalam konteks pilpres, hasil samping reformasi yang gagal itu ternyata masih sahih digunakan. Pemilu presiden secara langsung ditengarai juga memproduksi hasil samping berupa kalangan 'tidak berkeringat'. Predikat itu ditujukan kepada person yang dinilai tak berbuat dalam pemilu untuk memenangkan capres, tapi kemudian diangkat menjadi petinggi negeri setelah sang capres menang dan berkuasa. Yang berkeringat menilai bukan saja tak adil, juga menuding yang tak berkeringat itu sebagai orang tak tahu diri.

Padahal, tidak semua keringat tampak mata dan tidak semua keringat perlu diperlihatkan. Penumpang gelap dan pencuri di tikungan jangan-jangan justru berkeringat bercucuran lebih deras. Umumnya orang merasa tak enak mendapat penilaian negatif atas identitas diri. Padahal, orang yang masuk ke lingkaran kekuasaan, berkeringat atau tak berkeringat dalam pilpres, memerlukan dukungan moral, termasuk dukungan moral untuk menegaskan hati nuraninya dan dirinya sehingga mencapai loyalitas terdalam sebagai penyelenggara negara yang bersih dan berdedikasi penuh. Meminjam pendapat seorang pakar di bidang eksekutif orang itu memerlukan perlindungan terhadap semacam kecemburuan.

Yang cemburu mestinya juga menyelesaikan persoalan dengan dirinya sendiri. Norak melihat berbagai elite bangsa tak selesai dengan dirinya sendiri. Paham kebangsaan mengajarkan elite kekuasaan hendaknya diambil dari campuran berbagai sumber dan asal usul. Keseragaman membuat lapuk dan berbahaya bagi kekuasaan. Ekosistem antara lain menjadi kuat terpelihara karena keanekaragaman. Bagi orang bijak, tidak ada orang yang tidak mempunyai harapan. Indonesia kiranya bukan hanya memanggil Anda, tetapi memerlukan Anda. Bukankah selalu terbuka kesempatan bagi siapa pun menjadi patriot?


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.