Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Revolusi Mental

08/4/2015 00:00
Revolusi Mental
(MI/SENO)

SLOGAN itu terasa manis saat kampanye pemilihan presiden lalu. Itulah yang dibutuhkan Indonesia apabila tidak ingin masuk middle income trap.

Samuel L Huntington menyampaikan bangsa yang maju ialah bangsa yang mampu mengubah kultur. Perubahan kultur yang dibutuhkan Indonesia ialah kultur yang tidak lagi feodal. Dengan kultur yang lebih merakyat, pemimpin akan memikirkan terlebih dahulu nasib rakyatnya sebelum memikirkan kepentingan dirinya.

Pemimpin tidak mungkin hidup menderita. Negara memberi jaminan kepada pemimpin agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Yang tidak bisa negara berikan ialah kemewahan. Namun, menjadi pejabat negara memang bertujuan mendapatkan kehormatan, bukan kekayaan.

Oleh karena itu, aneh ada pejabat negara bertujuan mengumpulkan kekayaan. Jika ingin kaya, pilihlah jalur menjadi pengusaha. Jangan jual kehormatan sebagai pejabat negara untuk mendapatkan kekayaan. Dalam konteks pengabdian, aneh tanggung jawab menyejahterakan rakyat belum lagi dilaksanakan, tetapi penambahan fasilitas sudah dimintakan.

Presiden Joko Widodo menandatangani keputusan penaikan sekitar 100% uang muka pembelian kendaraan bagi pejabat negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Keputusan itu terasa ironis di tengah masyarakat diminta berkorban. Rakyat tidak hanya diharuskan membayar berbagai pajak baru, tetapi juga kenaikan harga bahan kebutuhan seperti bahan bakar minyak, elpiji, dan bahan makanan pokok.

Dalam tiga bulan pertama 2015, perekonomian tiba-tiba lesu luar biasa. Penjualan mobil dan motor turun sekitar 20%. Penjualan perumahan dan perkantoran juga melambat mulai Februari lalu. Di tengah kondisi yang menekan seperti itu, sepantasnya para pejabat negara menahan diri. Mereka seharusnya bisa ikut merasakan penderitaan yang dihadapi rakyat. Bersama masyarakat memperbaiki terlebih dahulu kondisi ekonomi.

Tidak ada keperluan mendesak untuk mengganti mobil. Kendaraan yang ada pasti masih bisa digunakan. Nanti kalau kita sudah melewati krisis dan perekonomian sudah kembali menggeliat, baru fasilitas untuk para pejabat diperbaiki.

Jokowi yang melemparkan gagasan Revolusi mental seharusnya benar-benar menerjemahkan visinya itu. Seperti ketika menjadi Gubernur Jakarta, cukup bawa barang pribadi ke rumah dinas. Jokowi memilih Toyota Innova sebagai mobil dinas. Bangsa ini membutuhkan sikap asketisme. Agar menjadi sikap dan kebiasaan, kita harus konsisten melaksanakannya.

Pemimpin harus bisa menjadi contoh bagaimana kesederhanaan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita pernah punya Bung Hatta yang menjadi model kesederhanaan itu dijalankan. Itulah yang kita harapkan ketika Jokowi memimpin negeri ini. Baju putih dengan lengan digulung menjadi simbol bagi dihidupkannya kembali asketisme. Ternyata Jokowi tak konsisten. Ia terjebak dalam kebijakan yang secara simbolis merusak citra kesederhanaannya.

Penjelasan bahwa ia tak tahu dan tak membaca peraturan yang ia tandatangani lebih konyol. Presiden tidak boleh alpa atas sebuah keputusan kenegaraan yang ia ambil.

Jokowi perlu memperbaiki sistem kerjanya. Presiden tidak boleh menunjukkan dirinya lemah dan tidak memegang komando. Saatnya bagi Jokowi kembali ke jati diri sebagai pemimpin. Yang paling utama menjalankan revolusi mental bahwa tugas pejabat negara mengabdikan hidup untuk rakyat, bukan minta dilayani rakyat.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.