Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Realitas Semu

31/3/2015 00:00
Realitas Semu
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

"APA kabar Indonesia?" tanya seorang motivator dengan penuh gairah dalam sebuah bimbingan wirausaha Indonesia. Para peserta juga menjawab dengan penuh vitalitas, serentak. "Luar biasa!"

Saya tak hendak meruntuhkan pekik gelora itu. Mereka punya cara sendiri untuk 'saling menghidupi' meski harus menjawab dengan realitas semu.

Benarkan Indonesia luar biasa?

Para motivator memang berjasa sebagai pembangkit jiwa-jiwa yang mungkin rapuh menjadi penuh vitalitas. Mereka harus berkomunikasi membangun vibrasi harapan dari realitas yang sesungguhnya muram.

Namun, jujur saja, jika pertanyaan serupa ditujukan kepada saya, saya akan menjawab jujur, "Rakyat Indonesia baik-baik saja, kecuali para elitenya yang tumpul pikir dan lumpuh aksi memuliakan publiknya."

Apa namanya kalau tak majal jika penegak hukum seperti KPK dan Polri terus berseteru dan berulang?

Apa namanya kalau tak majal jika sejak anggota DPR 2014-2019 pertama kali bersidang, Oktober tahun lalu, masih berkutat urusan mereka sendiri, termasuk angket terhadap Menkum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly?

Indonesia memang baik-baik saja karena mempunyai rakyat yang 'luar biasa'.

Mereka para 'laskar harapan' yang tidak pernah lelah. Merekalah yang menjadikan harapan sebagai 'tonikum'. Setidaknya, pertama, harapan sewaktu kemerdekaan.

Mereka mengira setelah bangsa ini lepas dari penjajah, lampu Aladin segera menyala.

Kedua, harapan cukup pangan, sandang, dan papan ketika Orde Baru mulai berkuasa.

Ketiga, harapan datangnya demokrasi ketika reformasi dimulai: hukum tegak dan politik bisa menjadi rumah yang bisa menyemai para calon/pemimpin yang punya orientasi kepublikan tinggi untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih.

Ternyata Pemilu 2014 tercatat sebagai pemilu paling brutal, penuh persekongkolan jahat politik uang. Sebagian rakyat justru diajak dalam permainan itu. Itulah wajah politik kita. Sebagian besar wakil rakyat kini ialah hasil dari praktik kotor serupa itu.

Apa namanya kalau bukan penyabar, jika rakyat sesungguhnya korban dari praktik khianat terhadap UUD 1945, terutama sekali Pasal 33 dan 34.

Mana praktik 'ekonomi nasional sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan'?

Mana realisasi dari ayat 'Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat'?

Mana pula realisasi amanah 'fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara'?

Jika 30 juta penduduk miskin serentak di seluruh negeri unjuk rasa, menuntut keadilan yang diamanahkan, karena jurang kaya dan miskin kian menganga, mereka punya hak. Namun, mereka tak melakukannya.

Apa namanya kalau bukan 'laskar penyabar?'

Apa namanya mereka yang menjadi representasi negara, bergaji dan berfasilitas negara, tetapi justru terus berseteru, korup pula, dan membuat negara jadi rapuh?

Sedihnya, dalam kondisi serupa itu saya belum melihat Joko Widodo sebagai kepala negara terampil mengelola problem serupa itu.

Karena itu, dengan jujur saya berat hati menjawab pertanyaan sang motivator dengan frasa "Luar biasa!" Ini realitas semu!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.