Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Sekali lagi Lee

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
27/3/2015 00:00
Sekali lagi Lee
(Grafis/SENO)
SAYA kira kita tak basi masih bicara Lee Kuan Yew (1923-2015), pemimpin Singapura yang jadi legenda. Pikiran dan legacy negara yang makmur dan rakyat sejahtera, akan lama menjadi sumber inspirasi, tak hanya di Singapura. Tentu tak semuanya, karena yang mati hanya 'abadi' dalam kenangan, sedangkan masa depan punya mimpinya sendiri di setiap generasi. Lee ialah masa silam yang membangun masa depan dengan gemilang. Dengan talenta, dedikasi, dan kerja kerasnya membuat dreams come true. Dalam gambar dokumentasi yang diputar ulang sebuah televisi, saya melihat kontras ekspresi. Lee terisak ketika terdepak dari Federasi Malaysia (1965) dan bahagia ketika Goh Tjok Tong menggantikannya (1990). Tak ada darah tumpah seperti suksesi di banyak negara. Lee menyiapkan semua.

Selama tiga dasawarsa (1959-1990), Lee tidak saja berhasil membangun Singapura dari ingredients multietnik menjadi satu bangsa, tetapi lebih dari itu bangsa sejahtera. Lee generasi ketiga pendatang mapan asal Tiongkok, mampu membangun identititas baru sebuah nation. Singapura yang bersih, disiplin, efisien, aman, nyaman, dan sejahtera. Wajar jika kota yang mula-mula dibangun Thomas Stamford Raffles itu menjadi lokus tersubur di dunia melahirkan orang-orang kaya. Akan tetapi, untuk mencapai itu, Lee terang-terangan menolak demokrasi. Bagi Lee, 'negara ialah saya' dan ia ialah hukum. "Saya harus memenjarakan lawan tanpa pengadilan, baik komunis, sauvinis, maupun ekstremis agama. Jika saya
tak melakukannya, negara ini hancur."

Tak ada kritik berarti dari negeri-negeri kampiun demokrasi. Juga terhadap laku nepotis Lee yang menempatkan keluarganya di berbagai BUMN. Soalnya, Lee selalu bisa membuktikan pilihannya benar. Ia 'menjadi hukum' yang tidak hanya adil, tapi juga bersih. Karena itu, dalam masa perkabungan, duka dan pujian juga datang dari seterunya. Yang menarik, Lee merupakan seorang agnostik. Namun, dalam menanamkan nilai dan praktik disiplin, kebersihan, keunggulan, kerja keras, mengupayakan keadilan dan kesejahteraan sosial, lebih dari pemimpin pemeluk teguh agama.

Bagi Lee, nilai-nilai itu bukan hanya dikhotbahkan, melainkan praktik dalam kehidupan. Para pemimpin kita yang 'alim' tak usah malu belajar pada Lee, bahwa kebajikan pemimpin ialah memakmurkan rakyat. Lee dalam membangun Singapura, kata Francis Fukuyama, juga merupakan kritik keras atas demokrasi Amerika yang memunculkan berbagai kejahatan dan kehancuran keluarga. "Lee tampil sebagai juru bicara yang berhujah bahwa demokrasi liberal bukan model tepat masyarakat konfusian." Saya setuju, tentu minus otoritarianismenya. Karena setiap negara punya modal sosial dan kultural sendiri dalam membangun demokrasi. Seperti Indonesia, dengan Pancasila, mestinya bisa menjadi pijakan yang kukuh. Pastilah pula lebih mengikat karena digali Bung Karno dari bumi sendiri. Ia bisa menjadi identitas keindonesiaan yang lebih kultural. Lee mengingatkan bahwa kita punya sesuatu yang sangat berharga, tetapi dicampakkan begitu rupa: Pancasila


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.