Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Rupiah Vs IHSG

23/1/2026 05:00
Rupiah Vs IHSG
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah. Namun, di saat yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru terus menanjak, mencapai 9.000-an, angka tertinggi juga sepanjang sejarah. Dua indikator utama ekonomi itu bergerak berlawanan arah. Publik pun bertanya, ada apa?

Pertanyaan itu pula yang, menariknya, 'dilemparkan' oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada Bank Indonesia. Logikanya sederhana, bahkan nyaris menjadi pakem di buku teks ekonomi. Jika IHSG naik, artinya ada aliran investasi, termasuk dari asing. Jika investor asing masuk, mereka membawa dolar AS. Jika dolar masuk, suplai dolar meningkat. Jika suplai dolar meningkat, rupiah seharusnya menguat.

Namun, fakta berkata lain. Dolar AS justru semakin perkasa, rupiah makin tertekan. Di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya lebih jujur, apakah logika lama itu masih sepenuhnya relevan? Ada lima hal yang bisa dijadikan pisau analisis demi membedah dan menjawab mengapa terjadi diskoneksi antara rupiah dan IHSG.

Pertama, kenaikan IHSG hari-hari ini tidak otomatis mencerminkan derasnya dana asing. Struktur pasar saham Indonesia sudah berubah. Porsi investor domestik, terutama ritel dan institusi lokal, kian dominan. Bahkan mencapai sekitar 60%. Lonjakan IHSG bisa saja lebih banyak didorong oleh likuiditas domestik, dana pensiun, asuransi, atau bahkan sentimen sesaat, bukan arus modal asing jangka panjang. Artinya, IHSG naik tidak selalu berarti dolar masuk deras.

Kedua, sekalipun ada dana asing yang masuk ke bursa, sifatnya makin jangka pendek dan oportunistis. Investor global kini bermain cepat, yakni masuk saat ada momentum, keluar ketika risiko global meningkat. Dana yang masuk pagi hari bisa saja keluar sore hari melalui instrumen lain. Dalam konteks itu, pasar saham tidak lagi menjadi 'penampung dolar' yang stabil bagi rupiah.

Ketiga, tekanan terhadap rupiah hari ini lebih banyak bersumber dari faktor global ketimbang domestik. Dolar AS sedang berada di puncak kekuatannya. Suku bunga The Federal Reserve yang tinggi dan bertahan lama membuat aset berdenominasi dolar menjadi sangat menarik. Ditambah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, dolar kembali berfungsi sebagai safe haven. Dalam situasi seperti itu, mata uang negara berkembang hampir selalu menjadi korban.

Keempat, permintaan dolar di dalam negeri meningkat terlepas dari kinerja pasar saham. Kebutuhan impor energi, pembayaran utang luar negeri, keperluan hedging atau lindung nilai, hingga repatriasi dividen oleh korporasi asing terus menyedot dolar. Jadi, meskipun ada dolar yang masuk lewat pasar modal, arus keluar dolar dari sektor riil dan keuangan bisa jauh lebih besar.

Kelima, pasar valuta asing bereaksi bukan hanya pada arus kas, melainkan juga pada persepsi dan ekspektasi. Ketika pelaku pasar melihat defisit transaksi berjalan berpotensi melebar, cadangan devisa tertekan, atau koordinasi kebijakan fiskal dan moneter kurang solid (bahkan mungkin saling mengintervensi), mereka akan bersikap defensif. Rupiah pun dilepas, dolar diburu.

Lalu, apa yang salah? Yang keliru bukan semata-mata kebijakan, melainkan cara kita membaca indikator. Terlalu lama kita mengasumsikan bahwa IHSG ialah cermin paling jujur dari kepercayaan asing terhadap ekonomi nasional. Padahal, pasar saham kini lebih mencerminkan optimisme segelintir sektor dan likuiditas jangka pendek, bukan kekuatan fundamen nilai tukar.

Di sisi lain, melempar pertanyaan ke Bank Indonesia saja juga tidak cukup. Stabilitas rupiah bukan hanya urusan moneter. Ia merupakan hasil orkestrasi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor riil, dan komunikasi kebijakan. Ketika pasar melihat narasi yang terfragmentasi, misalnya satu bicara IHSG, satu bicara inflasi, satu lagi bicara nilai tukar, yang muncul ialah ketidakpastian.

Rupiah hari ini sedang memberikan sinyal. Bukan semata-mata tentang dolar yang kuat, melainkan juga tentang rapuhnya kepercayaan bahwa aliran devisa kita cukup dan berkelanjutan. IHSG yang naik memang kabar baik, tetapi ia tidak bisa dijadikan satu-satunya pembela rupiah.

Jika kita terus bersandar pada logika lama bahwa IHSG naik berarti rupiah aman, kita sedang menutup mata terhadap perubahan besar di pasar global. Sebagian besar perubahan itu sudah tersedia informasinya, trennya, datanya, hari ini. Tinggal mau menggunakan atau tidak.

Seperti kata Robert Lucas, penggagas teori ekspektasi rasional, yang menyebutkan bahwa pelaku ekonomi membentuk harapan tentang masa depan secara masuk akal, berbasis informasi yang tersedia hari ini, dan memahami cara kerja kebijakan ekonomi, bukan sekadar menebak atau mengulang kesalahan masa lalu. Kalau kita tidak mau melihat informasi hari ini, berarti kita terjebak ke 'langgam' masa lalu.

Jadi, bisa saja rupiah terpuruk bukan karena pasar saham salah arah, melainkan karena kita belum sepenuhnya membaca arah zaman dan menggunakan informasi hari ini untuk memprediksi apa yang terjadi ke depan. Mungkin saja.

 



Berita Lainnya
  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.