Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Suara Profesor 15 Januari

19/1/2026 05:00
Suara Profesor 15 Januari
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan. Lima dekade kemudian, di tanggal yang sama, suara profesor diuji. Mau menjadi hiasan kekuasaan atau penanda batas bagi kekuasaan?

Jumlah profesor alias guru besar di negeri ini tidaklah banyak. Sekitar 6.500 orang yang di depan nama mereka tertulis ‘Prof’. Jauh lebih sedikit lagi jumlah profesor yang konsisten menjadi corong kebenaran.

Profesor, menurut Undang-Undang Guru dan Dosen, adalah jabatan akademik tertinggi. Mereka dituntut tidak hanya pintar, tetapi juga produktif menulis buku, karya ilmiah, dan menyebarluaskan gagasan untuk mencerahkan masyarakat. Karena itu, profesor kerap diasosiasikan dengan otoritas pengetahuan.

Stereotipe lama melekat ialah rambut beruban, kepala botak, kacamata tebal, pelupa. Kini citra itu berubah. Profesor bisa nyentrik, populer, bahkan menjadi aktor film. Namun, perubahan rupa tidak selalu diiringi perubahan integritas.

Tidak sedikit profesor yang justru piawai mencari jalan pintas. Pada September 2024, misalnya, terbongkar dugaan rekayasa pemenuhan syarat guru besar oleh 11 dosen Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Modusnya administratif, dampaknya sistemik.

Modus lain lebih memprihatinkan. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional pada 2024 membuat mata terbelalak. Sebanyak delapan dari sepuluh guru besar pernah menerbitkan artikel di jurnal abal-abal. Integritas, kualitas kepakaran, dan keilmuan pun patut dipertanyakan.

Profesor yang memasuki arena politik praktis juga tidak sedikit. Ada yang moncer berkarier. Ada pula yang tidak tahan godaan, berakhir di bui karena korupsi. Kepintaran tanpa panduan moral ternyata tidak cukup.

Sejatinya, profesor wajib memiliki integritas sebelum mengajari mahasiswa. Harapan itu pula yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menemui 1.200 guru besar dan pimpinan perguruan tinggi pada 15 Januari 2025 di Istana Negara, Jakarta. Presiden menyoroti korupsi, under invoicing, dan kebocoran negara, seraya menuntut perguruan tinggi mencetak SDM unggul, berintegritas, dan berjiwa nasionalis.

Pada hari yang sama, di Universitas Gadjah Mada, berlangsung pengukuhan guru besar Zainal Arifin Mochtar, satu dari 559 guru besar aktif UGM. Uceng, sapaan akrabnya, dikenal vokal, kritis, dan konsisten. Fokus pemikirannya jelas, yaitu demokrasi, antikorupsi, dan tata kelola pemerintahan bersih. Konsistensi itu bahkan dibayar mahal, ia diteror via telepon.

Dalam pidatonya, Uceng mengungkap kegundahan atas kemunduran lembaga negara independen, khususnya lembaga yudisial dan lembaga unelected, seiring menguatnya konservatisme dan otoritarianisme satu dekade terakhir.

Penutup pidatonya tajam dan jujur bahwa menjadi profesor relatif soal administratif; yang jauh lebih sulit ialah sikap, kiprah intelektual, dan tanggung jawab moral.

Pemeran film dokumenter Dirty Vote (2024) itu menyerukan, profesor sebagai intelektual organik bekerja bersama mereka yang tertindas. Bekerja bersama tak selalu berarti turun ke jalan, tetapi memberdayakan dan menguatkan pengetahuan mereka, terutama di tengah pembodohan dan pemiskinan kesadaran yang kian sistematis.

Uceng mempersembahkan keprofesorannya kepada para pencari keadilan, pembaru di tengah kesumpekan, mereka yang ditahan sewenang-wenang, aktivis yang masih berstatus tersangka, dan orang-orang yang hidup dalam kesusahan. Kata dan perbuatannya berjumpa.

Menariknya, 15 Januari bukan tanggal biasa. Lima puluh dua tahun silam, tepatnya 1974, jejak demonstrasi besar mahasiswa berujung kerusuhan. Dikenal sebagai Malari, Malapetaka 15 Januari. Latar belakangnya penolakan modal asing khususnya Jepang dan kemarahan atas nepotisme lingkaran kekuasaan Orde Baru.

Kiranya, di negeri yang sejarahnya mengajarkan perlawanan, para profesor tidak pernah lelah bersuara menolak korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pada akhirnya, gelar tertinggi bukanlah profesor, melainkan keberanian untuk tetap berpihak kepada kebenaran seperti yang dicontohkan Uceng.



Berita Lainnya
  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?

  • Buku yang Menakutkan

    27/12/2025 05:00

    Ia sekaligus penanda rapuhnya kesadaran demokrasi dalam praktik bernegara kita.

  • Akhir Tahun Menagih Janji

    26/12/2025 05:00

    PERGANTIAN tahun tinggal menunggu hari. Sebentar lagi, 'tugas' kalender 2025 akan segera berakhir, diganti dengan kalender baru 2026.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik