Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Setan pun Minder

15/1/2026 05:00
Setan pun Minder
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi. Saking kreatifnya, setan pun ikut garuk-garuk kepala. Tak habis pikir. Minder. Merasa kalah saing.

Hari-hari ini, korupsi lagi-lagi mencoreng-moreng wajah negeri. Ada sejumlah kasus yang terungkap. Di lahan superbasah Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, amsalnya. Di Kementerian Agama, misalnya. Yang ini malah lebih heboh lagi karena menyangkut mantan pucuk pimpinan di kementerian itu.

Gus Yaqut, begitu dia biasa disapa, ialah menteri agama periode 2020-2024. Pada Jumat (9/1), oleh KPK dia ditetapkan sebagai tersangka perkara rasuah pembagian kuota haji tambahan. Bersama staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, mantan Ketua Umum GP Ansor dan Panglima Tertinggi Banser itu mulai menjadi pesakitan KPK. Siapa yang akan menyusul, kita tunggu saja.

Korupsi memang bukan barang baru di Republik ini. Ia barang lama, tapi masih sangat banyak pejabat yang menggemarinya. Pun, meski tak lagi mengejutkan, setiap kabar ihwal korupsi selalu meninggalkan rasa getir yang sama. Getir bercampur amarah, kok, bisa-bisanya kejahatan luar biasa itu terus dilakukan lagi. Lagi, dan lagi. Juga geram, kok, negara seolah tak punya daya, lemah kemauan, untuk mengakhirinya.

Kasus Gus Yaqut kiranya menebalkan premis itu. Dugaan keterlibatannya dalam korupsi menguatkan keyakinan bahwa apa yang dikatakan pejabat sering berbeda dengan yang dilakukan. Sein kanan, belok kiri. Bilang ke sono, malah kemari. Seperti biasa, jejak digital ampuh sebagai bahan konfirmasi. Netizen yang terkenal gercep, gerak cepat, tak menunggu lama memviralkan kembali pidato Gus Yaqut pada Hari Antikorupsi Sedunia 2021.

Pidato itu isinya apik, sangat apik, mengingatkan betapa bahayanya korupsi. Pidato itu mengajak semua pihak bersatu padu membangun budaya antikorupsi dan menanamkan nilai kejujuran, kesederhanaan, serta rasa malu melakukan kesalahan. Lima tahun lalu dia bilang bahwa korupsi ialah musuh bersama. Realitasnya?

Video sepak terjang Gus Yaqut yang terkesan patriotik juga disebarkan kembali. Betapa cintanya dia kepada NKRI. Betapa gaharnya dia memerangi pihak-pihak yang dia tuding anti-NKRI, musuh Pancasila. Nyatanya sekarang? Banyak yang balik menyoal, NKRI harga mati, kok, korupsi?

Benarkah Gus Yaqut korupsi? Ia baru tersangka. Masih jauh tahapan untuk memastikannya bersalah atau tidak secara inkrah. Itu urusan penegak hukum. Bukan netizen yang memutuskan sambil rebahan. Namun, seingat saya, hanya segelintir tersangka KPK yang luput dari getokan palu pengadilan.

Boleh-boleh saja Gus Men, sapaan akrabnya saat masih menjabat menteri, menyangkal. Itu haknya. Semua tersangka KPK juga begitu. Jangankan baru tersangka, bahkan ketika sudah divonis bersalah pun mereka tetap membantah melakukan rasuah. Sudah jelas-jelas kotor, busuk, tapi tetap bilang bersih, wangi.

Begitulah, pertanyaan publik perihal siapa yang bermain dalam patgulipat alokasi kuota tambahan haji mulai terjawab. KPK butuh waktu lama untuk menetapkan tersangka kendati sejak beberapa bulan lalu telah menyampaikan petunjuk-petunjuk yang mengarah ke Yaqut.

Tak apalah. Alhamdulillah akhirnya ada harapan perkara itu bisa dibuat terang. Tidak masuk angin seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Namun, astagfirullah, bertambah lagi praktik jahat di Kemenag.

Kita tahu, bukan kali ini saja petinggi Kemenag terjerat oleh korupsi. Gus Yaqut juga bukan menteri yang pertama. Sebelumnya ada Said Agil Husin Al Munawar, Menag periode 2001-2004, yang divonis 5 tahun penjara dalam kasus korupsi penggunaan dana abadi umat dan biaya penyelenggaraan ibadah haji. Ada pula Suryadharma Ali. Menag 2009-2014 itu juga terbukti bersalah dalam korupsi penyelenggaraan ibadah haji.

Itu yang melibatkan menteri. Korupsi lainnya di Kemenag yang dilakukan pegawai bersekongkol dengan pihak lain masih banyak. Pengadaan mushaf kitab suci Al-Qur'an dikorup. Proyek laboratorium hingga dana BOS madrasah diselewengkan. Urusan jabatan di kementerian pun diperjualbelikan. Jadi barang dagangan. Pokoknya lengkap sesatnya.

Tak cuma di negeri yang katanya religius ini. Di sejumlah negara yang juga punya kementerian agama terjadi hal serupa. Di Pakistan, Bangladesh, Malaysia, India, Mesir, Tunisia, Nigeria, Sudan, urusan ibadah pernah jadi barang mainan. Pemainnya beda, modusnya sama.

Secara hukum, korupsi di Kemenag tak lebih ringan dan tak lebih berat ketimbang di kementerian atau institusi lain. Namun, secara moral, jelas berbeda. Kemenag, termasuk menterinya, ada untuk mengurusi agama. Agama ada sebagai kompas bagi manusia meniti jalan kebaikan.

Kalau kemudian mereka yang semestinya menjadi penuntun malah sesat, apa kata dunia? Apa pula kata para setan yang berkecimpung di bidang penyesatan? Mereka ibarat ustaz yang mencuri kotak amal atau penjaga tempat ibadah maling sandal jemaah. Kesalahan dan dosanya kuadrat.

Di titik itu, setan barangkali sedang melamun di sudut-sudut neraka. Dulu tugas mereka berat, yakni menggoda manusia agar berbuat jahat. Sekarang? Manusia sering kali tampil lebih kreatif, lebih berani, lebih canggih, dan yang pasti tanpa rasa malu serta rasa takut berbuat kejahatan. Jangankan hukum manusia, hukum Tuhan pun tak mereka anggap.

Kiranya setan benar-benar sudah kalah nyali. Mereka boleh jadi mulai berpikir untuk magang ke manusia saja, belajar bagaimana cara berbuat dosa.

 



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.