Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Angka Tiga

13/1/2026 05:00
Angka Tiga
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB). Angka 2,92% seolah menjadi jimat penenang. Bayangkan, dengan angka seperti itu, investor tetap percaya, undang-undang tidak dilanggar, dan roda ekonomi disebut tetap berputar. Selesai perkara. Namun, benarkah sesederhana itu?

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan tak ada masalah dengan defisit tersebut. Argumennya klasik dan normatif, yakni masih di bawah batas maksimal Undang-Undang Keuangan Negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menambahkan logika lain, bahwa defisit bisa saja ditekan hingga nol, tetapi risikonya ekonomi morat-marit. Karena itu, defisit dipilih sebagai 'obat pahit' demi pertumbuhan.

Di situlah persoalannya. Ketika angka 3% diperlakukan bukan lagi sebagai rambu peringatan, melainkan sebagai target psikologis, kehati-hatian fiskal pelan-pelan terkikis. Padahal, batas 3% itu sejatinya ialah pagar pengaman, bukan garis finis.

Defisit 2,92% bukan angka kecil. Ia lahir dari selisih belanja negara sebesar Rp3.451,4 triliun dan pendapatan Rp2.756,3 triliun. Hasilnya, ada lubang sebesar Rp695,1 triliun. Lebih lebar daripada target awal, lebih lebar daripada proyeksi semester, dan nyaris mencium batas maksimum. Dalam bahasa sederhana, ruang fiskal makin sempit, sementara itu ketergantungan pada pembiayaan kian besar.

Pemerintah beralasan penerimaan negara 'relatif tinggi'. Memang, pendapatan mencapai 91,7% dari target, PNBP bahkan melampaui 100%. Namun, pajak yang menjadi tulang punggung APBN baru terealisasi sebesar 87,6%. Artinya, fondasi utama belum sekuat yang dibayangkan. Ketika belanja sudah mendekati 100%, tetapi penerimaan tertinggal, defisit menjadi keniscayaan, bukan pilihan strategis.

Yang lebih patut dicermati ialah keseimbangan primer yang mencatat defisit sebesar Rp180,7 triliun, jauh melebar daripada target awal Rp63,3 triliun. Itu sinyal penting. Defisit primer berarti negara berutang tidak hanya untuk membiayai pembangunan, tetapi juga untuk membayar bunga utang lama. Dalam jangka pendek mungkin terasa aman, tetapi dalam jangka panjang, ia bisa menjadi lingkaran setan.

Optimisme pemerintah bertumpu pada harapan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 yang disebut-sebut akan menjadi yang tertinggi. Pertumbuhan, kata pemerintah, berkorelasi langsung dengan penciptaan lapangan kerja. Pernyataan itu benar secara teori. Namun, teori tidak selalu lurus dengan praktik. Pertumbuhan yang dibiayai oleh defisit besar dan utang baru sering kali rapuh, terutama bila kualitas belanjanya tidak benar-benar produktif.

Masalahnya bukan semata angka defisit, melainkan cara menutupnya. Pembiayaan anggaran mencapai Rp744 triliun. Artinya, utang kembali menjadi instrumen utama. Selama ini utang selalu dibungkus dengan narasi positif, yakni untuk pembangunan, untuk mendorong ekonomi, untuk kesejahteraan. Namun, tanpa disiplin fiskal yang ketat, utang bisa berubah dari alat menjadi jebakan.

Investor mungkin belum pergi. Pasar mungkin belum panik. Namun, pasar juga membaca arah kebijakan. Ketika pemerintah terlalu sering berlindung di balik frasa 'masih di bawah 3%', sinyal yang tertangkap bisa berbeda. Negara bisa dipersepsikan nyaman bermain di zona abu-abu, bukan berusaha menjauh dari tepi jurang.

Undang-undang memang memberikan ruang defisit hingga 3%. Namun, konstitusi fiskal tidak pernah dimaksudkan untuk mendorong pemerintah mendekati batas itu setiap tahun. Apalagi, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, suku bunga tinggi, dan tekanan geopolitik yang bisa sewaktu-waktu memukul penerimaan negara, butuh daya kreatif tinggi untuk menemukan solusinya. Bukan selalu dengan gaya mudah: tutup saja dengan utang, habis perkara.

Karena itu, peringatan ini penting disampaikan. Defisit di bawah 3% bukan jaminan keselamatan. Ia bisa menjadi ilusi stabilitas yang meninabobokan. Tantangan sebenarnya ialah memastikan setiap rupiah belanja menghasilkan nilai tambah, setiap tambahan utang benar-benar produktif, dan setiap pelebaran defisit disertai dengan strategi keluar yang jelas.

Jika tidak, APBN berisiko menjadi buku besar yang rapi di atas kertas, tetapi menyimpan bom waktu di halaman berikutnya. Pemerintah seharusnya tidak sekadar bertanya 'apakah masih di bawah 3%?', tetapi juga 'seberapa aman APBN ini lima atau 10 tahun ke depan?'.

Itu disebabkan dalam pengelolaan fiskal, yang berbahaya tidak hanya melampaui batas, tetapi juga terlalu sering bermain di dekatnya. Itu ngeri-ngeri kurang sedap namanya.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.