Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Negara Bahagia

07/1/2026 05:00
Negara Bahagia
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan. Belakangan, berdasarkan beberapa studi dan survei terbaru dari lembaga-lembaga internasional yang kredibel, Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, bahkan mengungguli negara maju.

Ada survei Global Flourishing Study (GFS) yang risetnya dikerjakan secara kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset global Gallup (2025). Ada juga studi World Happiness Report oleh Great Power Index (2024) dan survei Global Happines dari lembaga riset pasar dan konsultasi global, Ipsos (2024). Semuanya menempatkan Indonesia di rangking atas dalam urusan kebahagiaan warganya.

Bagaimana respons kita? Bagi Presiden Prabowo Subianto, kabar itu mengharukan. Reaksi tersebut ia sampaikan saat perayaan Natal Nasional 2025 di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1). Terharu bisa dua makna. Haru karena bahagia atau haru karena sedih. Entahlah, di mana sebetulnya 'posisi' haru Presiden, bisa jadi di antara keduanya. Antara bahagia dan sedih.

Itu mirip dengan respons kebanyakan orang Indonesia terhadap hasil survei tentang negara bahagia tersebut. Reaksinya campur-campur. Bahagia, iya, haru, iya, tapi kaget juga, iya. Lebih tepatnya, tidak menyangka Indonesia bisa berada di jajaran atas negara-negara bahagia di tengah kondisi sebagian masyarakat yang masih jauh di bawah standar sejahtera.

Lo, memangnya orang tidak sejahtera alias miskin enggak boleh punya perasaan bahagia? Bukan begitu. Bagaimanapun, kebahagiaan itu lintas kasta. Kebahagiaan bukan hak eksklusif orang kaya dan berpunya. Walaupun kemiskinan dan kebahagiaan terkadang sulit disatukan, selalu ada titik kebahagiaan yang bisa diraih seseorang tanpa harus memiliki banyak harta.

Begitu pun dengan metode penilaian yang dipakai sejumlah lembaga riset global yang menempatkan Indonesia sebagai negara bahagia itu. Indonesia dinilai unggul dalam hal kebahagiaan lebih karena faktor kuatnya hubungan sosial, gotong royong, makna hidup, dan rasa syukur, bukan semata dari faktor ekonomi. Pendeknya, orang Indonesia bahagia bukan karena tabungan uang di bank, melainkan karena tabungan sosial.

Jika penilaiannya difokuskan pada kesejahteraan subjektif dan faktor nonekonomi seperti itu, cukup beralasan memang bila Indonesia masuk gerbong negara paling bahagia. Namun, hasilnya sangat mungkin akan berbeda kalau fokus penilaian surveinya lebih kuantitatif dan menonjolkan faktor-faktor yang berkaitan dengan ekonomi.

Pada titik itulah sebetulnya negara dan pemerintah mesti berhati-hati. Ada satu pertanyaan penting yang mestinya bisa membangunkan kesadaran kritis pemerintah. Apakah kebahagiaan rakyat kita ialah buah dari keberhasilan kebijakan pembangunan atau sebetulnya merupakan bentuk daya tahan, kepasrahan, sekaligus penerimaan maksimal karena mereka sudah terlalu terbiasa didera penderitaan?

Jangan-jangan, senyum bahagia masyarakat yang tertangkap melalui survei-survei global itu sebetulnya ialah cara mereka menertawakan kesulitan agar tidak gila oleh tekanan hidup yang kian mencekik. Ada adagium yang mengatakan 'puncak kesedihan ialah tertawa'. Nah, barangkali masyarakat kita sudah sampai ke level itu. Saking sedihnya, mereka pura-pura tertawa, pura-pura bahagia.

Karena itu, pemerintah terharu boleh, terlena jangan. Negara tidak boleh terpaku pada angka indeks tanpa melihat dapur warga yang simpanan berasnya kian menipis. Pemimpin tak boleh sekadar menyampaikan keharuan ketika di saat yang sama tidak memberikan atensi kepada rakyat yang rumah gubuknya konsisten reyot nyaris ambruk.

Negara hadir bukan untuk memuji kesabaran rakyat, melainkan untuk memastikan bahwa kesabaran itu tidak lagi diperlukan karena hak-hak dasar mereka telah terpenuhi. Tugas penting pemerintah ialah memastikan rakyat dapat lepas dari belenggu kemiskinan, bukan bertepuk tangan dan sekadar merasa terharu ketika rakyat mengaku bahagia.

Pantang bagi pemerintah menjadikan hasil pengukuran kebahagiaan itu sebagai patokan bahwa kondisi orang miskin di Indonesia baik-baik saja. Meskipun orang miskin bisa bahagia dan mungkin tak banyak menuntut perbaikan, bukan berarti negara boleh mengendurkan tanggung jawab untuk mengangkat derajat hidup mereka.

Kebahagiaan sejati rakyat idealnya linier dengan hilangnya rasa cemas akan biaya sekolah anak, lenyapnya ketakutan akan biaya rumah sakit, atau hadirnya harga pangan yang murah. Alih-alih menjadi sekadar 'perasaan hati', kebahagiaan seharusnya bisa dihadirkan secara fisik. Entah melalui perut yang kenyang, rumah yang layak, serta akses pendidikan dan kesehatan yang mudah dan murah.

Karena itu, jangan biarkan rasa haru Presiden berhenti di situ. Haru seorang pemimpin mestinya segera dikonversi menjadi energi untuk menelurkan kebijakan yang teknokratis, terukur, dan fokus menyejahterakan masyarakat. Kebijakan yang ditujukan demi membuat kebahagian hadir secara riil, bukan sekadar menjadi data dan angka indeks di catatan para peneliti.

Mengapa mengubah kebahagiaan dari soal abstrak menjadi nyata sangat penting? Karena perut rakyat yang lapar tak bisa kenyang hanya dengan kabar bahwa kita ialah bangsa yang paling bahagia di dunia.

 



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.