Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Panggung Simulakra

06/12/2025 05:00
Panggung Simulakra
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JAGAT maya diaduk-aduk oleh kontroversi pernyataan sejumlah pejabat serta aksi teatrikal mereka dalam merespons bencana banjir dan tanah longsor Sumatra. Karena itu, di dunia maya ada yang bilang, 'Empati telah dikubur oleh aksi basa-basi'. Cibiran dan antipati netizen pun berhamburan. Mereka sudah bosan dengan gaya pencitraan, laku hiperealitas, yang kering kerontang dari empati seperti itu.

Harian ini, melalui Editorial bertajuk Derita Rakyat bukan Ladang Konten, menggambarkan bagaimana aksi sejumlah pejabat itu: 'Namun, ternyata ada pejabat dan elite politik yang mendatangi lokasi bencana dengan penampilan yang teatrikal disertai rombongan dokumentasi dan gestur dramatis. Wajar jika banyak yang menyebut mereka menjadikan situasi bencana sebagai panggung pencitraan'.

'Yang paling celaka, warga terdampak bencana sering diperlakukan seperti latar belakang dalam foto dan video yang mereka sebarkan. Kedukaan ditampilkan ibarat latar panggung sandiwara. Tangisan mereka jadi bahan konten. Rumah yang hancur jadi backdrop dramatis untuk caption 'kami hadir bersama rakyat'.

Ada pejabat memanggul beras 10 kilogram dengan para ajudan di sayap kanan, kiri, belakang 'mengamankan' sang bos. Seperangkat kamera pun disiapkan, seolah ia ungkapan derita tak terperi. Nyatanya, publik menilai itu panggung simulakra belaka.

Simulakra ialah representasi atau salinan yang tidak lagi merujuk pada realitas aslinya, atau bahkan tidak memiliki dasar realitas sama sekali. Itu merupakan konsep filosofis yang dipopulerkan oleh Jean Baudrillard, yang menggambarkan tanda atau citra 'palsu' yang justru menggantikan atau menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri (hiperealitas).

Ada seorang pejabat yang putri seorang pejabat ikut menyerok lumpur di sebuah rumah korban banjir. Namun, caranya membuang lumpur, gestur yang kaku, dandanan yang necis, serta sorotan kamera dari tim membuat netizen ragu benarkah itu empati?

Ada wakil rakyat yang datang ke lokasi bencana mengenakan rompi militer ala-ala rompi antipeluru dengan disertai asisten, lengkap dengan sorot kamera. Netizen menyinyir dengan kata-kata, 'ini medan bencana, bukan medan perang'.

Saya lebih percaya empati yang ditulis melalui lagu dan puisi. Ekspresi seni lebih jujur sebagai bentuk empati. Lagu dan puisi itu terus hidup menembus waktu sebagai pengingat agar tak ada yang lalai. Seperti lagu Nyanyian Burung dan Pepohonan karya Ebiet G Ade yang dirilis hampir empat dekade yang lalu (1988):

 

'Pernahkah engkau dengar

nyanyian burung murai

Ketika gerimis turun

langit tertutup kabut?

Bersiul memilukan

Berderai menikam mendung

 

Suara laut pun sirna

terbang entah ke mana

Dan, di saat yang lain

kala mentari bangkit

Menyiram jagat raya

Kicaunya pun ceria

Bersama semilir angin

mengalirlah semangat

Kecipak air kali

menyegarkan jiwa

 

Oh, betapa jauhnya

jalan terjal kutempuh

Menembus kegelapan

Menyibak alang-alang

 

Oh, murai bernyanyilah

Mengiringi langkahku

Wajah bumi semakin

renta dan penuh luka

Pernahkah engkau dengar

nyanyian pepohonan

Di tengah belantara

sepi menembus kelam?

Kelak tinggal catatan

Di sini pernah berdiri

tegar menyangga langit

Kini tinggal puing'

 

Banjir Sumatra juga melahirkan paradoks. Salah satunya ironi kayu batangan. Mungkin hanya di Indonesia, banjir bandang diiringi dengan kayu batangan. Bahkan, kayu-kayu itu sudah ada nomornya pula. Fakta itu secara telak menjawab bahwa kayu-kayu itu bukan tumbang karena lapuk lalu terseret air bah sebagaimana kata Kementerian Kehutanan.

Ada pula paradoks saat pemimpin penanggulangan bencana menilai bahwa 'bencana mencekam di media sosial semata'. Lalu, ketika banjir dan tanah longsor nyaris merenggut seribu nyawa, ia meminta maaf sebesar-besarnya.

Terkait dengan paradoks kayu batangan ini, saya lalu teringat lagu karya Iwan Fals yang jadi pengingat sepanjang hayat berjudul Isi Rimba tak Ada Tempat Berpijak Lagi. Lagu itu dirilis lebih dari empat dekade lalu (1982) saat pembalakan hutan mulai agresif dilakukan:

 

'Raung buldozer gemuruh pohon tumbang

Berpadu dengan jerit isi rimba raya

Tawa kelakar badut-badut serakah

Tanpa HPH berbuat semaunya

Lestarikan alam hanya celoteh belaka

Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu?

Oh, mengapa?

 

Oooh... jelas kami kecewa

Menatap rimba yang dulu perkasa

Kini tinggal cerita

Pengantar lelap si buyung

Bencana erosi selalu datang menghantui

Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti

Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi

Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Lestarikan hutan hanya celoteh belaka

Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja?

 

Oooh... jelas kami kecewa

Mendengar gergaji tak pernah berhenti

Demi kantong pribadi

Tak ingat rezeki generasi nanti'

 

Dalam dimensi religiositas, lagu pengingat dari sang Raja Dangdut Rhoma Irama (yang ini raja dangdut, bukan raja yang lain) berjudul Bencana juga tak kurang sebagai sebuah sindiran. Lagu itu dirilis pada 1991:

 

'Masih perlukah air mata

Untuk menangisi dunia

Yang selalu dilanda bencana

Macam-macam malapetaka

 

Gempa bumi banjir badai topan

Yang selalu membawa korban

Dan juga ganasnya peperangan

Yang menghantui kehidupan

Seakan-akan di dunia

Tiada lagi keamanan

Seakan-akan di dunia

Tiada lagi ketenteraman

 

Apakah ini akibat kesombongan manusia

Karena sudah merasa menundukkan semesta

Agama cuma di lisan tak lagi diamalkan

Keimanan pada Tuhan cuma berupa slogan'

 

Mereka, para pemilik karya seni lewat lirik itu, sudah lama menyeru agar manusia punya rasa hormat terhadap alam. Jauh saat hutan masih lebih dari separuh, ketika paru-paru bumi masih relatif kuat berfungsi. Kini, peringatan itu menjadi kenyataan. Masihkah tersedia ruang untuk mengobatinya?

 



Berita Lainnya
  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?

  • Buku yang Menakutkan

    27/12/2025 05:00

    Ia sekaligus penanda rapuhnya kesadaran demokrasi dalam praktik bernegara kita.